SEBUTIR NASI DI MEJA MAKAN ORANG-ORANG

Aga Lesmana
Chapter #10

Bab 10: Skenario Rimba Raya

Cahaya temaram dari lampu gubuk menyorot dengan malas, melemparkan bayangan yang menari-nari di atas dinding tripleks yang compang-camping. Di luar sana, gerbong kereta melintas dengan suara dentuman besi yang memekakkan telinga, mengguncang tanah dan membuat debu-debu halus berjatuhan dari langit-langit seng yang berkarat.

Malik mengulurkan sehelai kain jarik usang bercorak luntur kepada Panji. Kain itu kasar, tetapi bersih karena biasa dijadikan sebagai penyaring air. Dengan tangan yang masih berbalut perih dan lebam kebiruan dari hantaman balok kayu di pasar tadi, Panji menerima kain tersebut. Saat kain itu menyentuh luka robek di pelipis dan goresan berdarah di lengannya, rasa perihnya melompat tajam, membakar kulit hingga menyayat ke ubun-ubun kepala. Panji mendesis pelan, menggigit bibirnya hingga pucat, menahan isak tangis yang mendesak keluar dari tenggorokannya yang kering.

Di hadapannya, Pak Sartoni duduk membungkuk di kursi kayu, menarik napas dengan bunyi mengi yang mengerikan, sementara Malik duduk bersila di dekat pintu, mengawasi setiap gerak-gerik remaja malang itu dengan sorot mata yang sarat akan pengalaman penderitaan yang sama.

"Pakai itu pelan-pelan, Nji," suara Malik parau, memecah kesunyian yang mencekam. "Di sini tidak ada obat merah atau perban rumah sakit. Tapi kain itu cukup bersih untuk menghentikan darah busuk yang menempel di kulitmu."

Panji mengangguk lemah. Ia menatap kain jarik di tangannya, lalu pandangannya menerawang jauh, menembus celah-celah dinding gubuk yang menganga. Pikirannya terseret kembali ke lorong-lorong waktu paling gelap yang baru saja ia lewati, fase perubahan paling mematikan sebelum takdir melemparkannya ke pelukan gubuk ini.

"Sebelum Mas Ridwan mati gantung diri... hidupku memang sudah seperti di neraka, Mas," suara Panji memulai penjelasannya dengan nada serak yang mengenaskan. "Tapi setelah hari di mana mayatnya diangkut polisi dan kos itu mengusirku... neraka itu ternyata punya lantai yang lebih bawah lagi."

Selama seminggu penuh setelah kematian sang kakak, Panji resmi menjadi hantu kota yang tidak memiliki tempat di muka bumi. Tanpa KTP yang layak, tanpa uang sepeser pun, dan dengan beban utang jutaan rupiah yang mengejar di setiap tikungan jalan, ia terlempar ke dalam siklus penggusuran malam hari yang meremukkan martabat manusia.

Tempat perlindungan pertamanya adalah emplasemen stasiun kereta pinggiran dan sudut-sudut gelap halte busway akhir yang sudah mati lampu. Di atas jam dua belas malam, ketika kota-kota besar mulai membeku dalam kesombongannya, Panji akan menyusup masuk ke peron yang sepi. Ia memosisikan dirinya di sudut paling gelap, meringkuk di atas kursi besi yang sedingin es, berpura-pura menjadi calon penumpang malang yang tertinggal kereta terakhir agar satpam malam tidak menyeretnya keluar dengan tendangan di pinggang.

"Paling susah itu kalau ketemu satpam yang hobi main pukul," kenang Panji, matanya menatap kosong ke lantai gubuk. "Pernah waktu itu, jam dua malam, aku lagi meringkuk gemetar kedinginan di sudut stasiun. Satpam datang menyorot mukaku pakai senter yang terang banget, terus mengusir sambil maki-maki. Dia bilang aku hama, sampah masyarakat yang bikin kotor stasiun. Padahal mataku sudah merah, bengkak karena belum tidur tiga hari, dan badan juga bau apek kayak bangkai karena sudah lama tidak menyentuh air bersih."

Jika ia gagal bertahan di stasiun, pelarian berikutnya adalah pos ronda malam yang kosong atau lapak-lapak rongsokan di pasar tradisional. Panji menjelma menjadi bayangan liar yang bersembunyi dari kejaran para penagih utang. Kadang kala, saking mengenaskannya bentuk fisik dan pakaiannya yang robek-robek berhiaskan noda darah kering, ia terpaksa mengandalkan sisa-sisa iba dari manusia. Ia akan duduk meringkuk di emperan toko kelontong pasar yang tutup, menunggu pemiliknya datang subuh-subuh.

Namun, belas kasihan di jalanan Jakarta adalah barang mewah yang langka. Tidak semua pemilik toko berhati malaikat. Sering kali, Panji diusir dengan cara yang paling merendahkan harga diri: disiram air comberan dingin, ditendang tepat di ulu hati, atau diludahi muka depannya seolah-olah ia adalah binatang najis yang membawa wabah penyakit.

"Tapi... ada juga beberapa tukang sayur atau penjaga pasar yang masih punya nurani," bisik Panji, suaranya tercekat oleh kepedihan yang mendesak di dadanya. "Mereka tidak mengusir aku mentah-mentah, tapi mereka juga tidak kasih tumpangan gratis. Aku harus membayar lantai emperan itu dengan keringat sendiri."

Bayaran untuk tidur selama dua atau tiga jam di atas semen dingin emperan toko adalah tubuh kurus Panji yang dipaksa bekerja bagai budak sebelum fajar menyingsing. Jam dua atau tiga pagi, ketika orang-orang normal masih pulas bermimpi di atas kasur empuk, Panji harus bangun dan mengangkat karung-karung berisi sawi seberat puluhan kilogram dari mobil pikap, atau menyeret kardus-kardus besar ke lorong-lorong pasar. Imbalannya kadang sekadar beberapa lembar uang ribuan kusut, atau sering kali tidak dibayar sama sekali. Hanya diberi izin untuk merebahkan diri di lantai kotor selama beberapa jam sebelum toko itu buka kembali pada pukul enam pagi.

Pak Sartoni, yang sedari tadi menyimak cerita dalam diam, mengembuskan napas pelan. Suara batuk kecil tertahan di kerongkongannya, menunjukkan betapa ia sangat memahami getirnya hidup sebagai sampah buatan sistem.

"Kota ini memang dirancang untuk memakan anak-anak muda sepertimu, Nak," ujar Pak Sartoni dengan suara berat yang bergetar. "Mereka meresap tenagamu sampai kering, lalu meludahimu di pinggir jalan saat tulangnya sudah patah."

Panji mengusap air matanya yang tumpah membasahi pipinya yang cekung. "Puncak dari semuanya terjadi hari ini, Pak. Seminggu penuh aku hidup berpindah-pindah kayak buronan kelas kakap. Makan cuma dari sisa-sisa warung yang dibuang untuk kucing, belum lagi linglung karena syok lihat Mas Ridwan tergantung di kusen pintu, dan pikiranku sudah tidak karuan… rasanya mau gila. Aku sudah tidak punya tenaga lagi buat lari atau melawan."

Lihat selengkapnya