SEBUTIR NASI DI MEJA MAKAN ORANG-ORANG

Aga Lesmana
Chapter #11

Bab 11: Menambahkan Titik Dalam Lingkaran Kecil

Matahari belum merangkak naik, dan belum juga mengoyak kabut tipis yang bergelayut di atas permukaan air comberan pemukiman. Malik melangkah gontai menyusuri rel kereta api, menenteng karung belanjaan soto di satu tangan, sementara tangannya yang lain merangkul pundak Panji yang masih berjalan pincang dengan sekujur tubuh babak belur. Langkah kaki itu kecil-kecil, terseok-seok menahan nyeri yang menjalar dari tulang rusuk hingga ke sekujur persendian.

Bagi Panji, yang sepanjang hidupnya terbiasa diseret oleh bentakan, dilempari botol kosong di jalanan, atau diusir dengan tendangan sepatu lars dari emperan toko, perlakuan Malik adalah sebuah anomali yang membingungkan sekaligus menakutkan. Tidak ada makian. Tidak ada ancaman utang. Yang ada hanyalah bau keringat campur darah kering dari seorang kakak yang sama menderita dan membawanya masuk ke dalam gubuk reyot beratapkan seng berkarat.

Di dalam ruangan sempit yang berbau lembap dan menyengat itu, Pak Sartoni menyambut mereka tanpa banyak tanya. Lelaki tua renta dengan sakit paru-paru yang menggerogoti tubuhnya itu tidak meminta KTP Panji, tidak pula menanyakan asal-usul dosa atau beban utang yang dipikul anak itu. Dengan napas yang memburu dan berbunyi mengi, Pak Sartoni segera merangkak mengambil termos air panas di sudut ruangan, membagi sisa airnya untuk anak remaja yang baru kali ini ditemuinya. Ia mengambil kain jarik yang diberikan Malik tadi dan ikut membantu mencuci luka-luka lebam di wajah Panji dengan telaten, seolah-olah anak jalanan yang babak belur itu adalah darah dagingnya sendiri yang baru pulang berperang.

Sentuhan hangat dari air termos itu membuat Panji menelan ludah kelat. Ada dinding pertahanan yang runtuh seketika di dalam dadanya, sebuah benteng ketidakpercayaan yang dibangun dari tahun-tahun pengkhianatan panti asuhan, teror penagih utang, dan kematian kakak yang meninggalkannya begitu saja dalam kesunyian.

"Sudah, jangan banyak bergerak. Biar lukanya dibersihkan dulu," suara Pak Sartoni parau, bergetar lemah di balik batuk kecil yang tertahan.

Panji menunduk dalam-dalam. Di sudut ruangan yang sempit itu, ketulusan yang telanjang bulat tersebut menghantam ulu hatinya jauh lebih keras ketimbang hantaman balok kayu para preman di pasar induk tadi.

Malam harinya, di atas lantai gubuk yang bergetar setiap kali kereta melintas di luar, sebuah pemandangan yang hampir sakral tersaji. Di hadapan mereka terhidang sebuah kemewahan yang sangat langka: sebutir telur dadar berukuran sedang yang dibagi rata menjadi tiga bagian di atas kertas nasi. Bagi orang-orang di luar sana, telur dadar adalah sarapan paling remeh yang bisa dibuang begitu saja jika terlalu asin. Namun bagi ketiga manusia buangan ini, telur utuh adalah harta karun yang luar biasa, juga merupakan sebuah kontras yang kejam dari hari-hari biasanya, di mana mereka hanya mengunyah remahan nasi sisa warung yang hampir busuk dan berpotensi merusak lambung hingga memicu muntah darah.

Panji menatap tumpukan kecil nasi di hadapannya, lalu menunduk semakin dalam. Tanpa mampu ia bendung, air matanya tumpah begitu saja, jatuh berlinang membasahi butiran putih yang belakangan begitu susah payah untuk disentuh dan didapatkannya. Ini adalah kali pertama dalam hidup sejak kematian dan pengkhianatan Mas Ridwan yang menggantung diri, ia diajak duduk bersama di dalam sebuah rumah, menikmati makanan layak dari tangan orang-orang asing yang justru memperlakukannya lebih mulia ketimbang saudara kandungnya sendiri.

Lihat selengkapnya