SEBUTIR NASI DI MEJA MAKAN ORANG-ORANG

Aga Lesmana
Chapter #12

Bab 12: Hak dan Keselamatan

Matahari Jakarta bersinar garang, memanggang aspal kota hingga menguapkan bau polusi dan sisa-sisa comberan yang menusuk hidung.

Di dalam gubuk reyot Kampung Bandan, Panji masih harus berbaring di atas kardus tipis yang berada di samping kasur Pak Sartoni. Meski luka-luka lebam di wajahnya mulai menguning dan mengering, tubuhnya belum sepenuhnya pulih dari hantaman brutal para preman pasar. Seharusnya, di usia remajanya yang ringkih ini, ia sudah harus kembali membanting tulang memanggul tabung gas elpiji 3 kg yang beratnya berkali-kali lipat dari berat badannya sendiri, atau menyeret galon-galon air mineral naik turun tangga curam di pemukiman padat demi sesuap nasi.

Namun, pagi itu Malik melarangnya keras.

"Jangan gila, Nji. Tulang rusukmu baru mau menyatu," tegur Malik sambil mengambil karung goninya sebelum berangkat bekerja. "Untuk sementara, lupakan tabung gas dan galon itu. Kalau mau bergerak, ikut aku ke warung Pak Sapto. Bantu-bantu sebisanya, nanti upahnya kita bagi dua."

Ajakan itu membawa Panji melangkah menuju warung soto lamongan tempat Malik mencari hidup. Di sanalah takdir mempertemukannya dengan Pak Sapto, pemilik warung berbadan gempal dengan hati seluas samudra.

Begitu mendengar potongan-potongan kisah hidup Panji yang mengalir lewat obrolan ringan di sela-sela waktu cuci piring, mata Pak Sapto berkaca-kaca. Tanpa sadar, timbul rasa prihatin yang teramat dalam di dada lelaki paruh baya itu. Bagi Pak Sapto, anak seusia Panji seharusnya sedang duduk di bangku sekolah, mencoret-coret buku tulis dengan mimpi-mimpi bodoh masa remaja, bukannya dipaksa menelan ludah kepahitan jalanan dan menanggung utang kematian kakaknya.

"Sudah, biar dia jadi asistenmu saja, Lik," ujar Pak Sapto kepada Malik dengan nada tegas, menerima kehadiran Panji dengan tangan terbuka lebar. "Kasihan anak ini. Biar lambat laun darah mudanya pulih di sini."

Sejak hari itu, Panji resmi menjadi bayangan Malik di warung soto. Tugasnya tidak jauh berbeda dengan Malik: mengelap meja, menyiapkan mangkuk, mengiris bahan jualan soto, hingga meracik koya. Hebatnya, darah jalanan yang keras membuat Panji tumbuh menjadi remaja yang cekatan, bergerak cepat dan tangkas tanpa perlu diperintah dua kali. Melihat kekompakan dua pemuda buangan itu bekerja berdampingan, Pak Sapto sering tersenyum lebar. Sebagai bentuk apresiasi dari ketulusan mereka, setiap dua hari sekali Pak Sapto selalu menyisihkan sebungkus utuh soto lamongan hangat sebelum isi panci jualannya ludes dibeli pelanggan.

Sebungkus soto itu adalah berkah surgawi. Setiap kali mereka membawanya pulang ke gubuk, ucapan terima kasih terucap berulang-ulang dengan bibir bergetar, mengembangkan senyum semringah yang langka di tengah hari-hari kelam yang terus membayangi kepala mereka.

Waktu berjalan merangkak dengan lambat. Selama dua minggu lebih, kehadiran Panji bukan lagi sekadar menumpang hidup, melainkan menjelma menjadi bagian tak terpisahkan dari keluarga kecil di gubuk rel kereta itu. Luka-lukanya berangsur pulih, tenaga mudanya kembali padat, dan tawanya yang sempat mati kini mulai sering pecah saat ia bercanda meledek Malik. Di dalam gubuk, hubungannya dengan Pak Sartoni sudah melebihi batas anak angkat; Panji merawat lelaki tua itu layaknya bakti seorang anak kandung kepada ayahnya yang renta.

Namun, puncak dari arti kehadiran Panji baru benar-benar terbukti ketika ia berhasil memecahkan krisis paling mematikan di gubuk mereka: krisis air bersih.

Begitu tenaganya pulih sepenuhnya, Panji memutuskan untuk kembali mengambil pekerjaan lamanya. Ia mendatangi kembali depot pengisian ulang air mineral tempatnya pernah bekerja. Kedatangan itu disambut dengan riang oleh suami istri pemilik agen, Pak Restu dan Bu Minah, yang memang tahu betul bahwa remaja itu adalah pekerja keras yang jujur dan tidak banyak tingkah. Saat Panji meminta izin untuk kembali bekerja, suami istri itu langsung mengangguk setuju.

Meskipun demikian, Panji tetap menyempatkan diri untuk mampir ke warung soto. Pak Sapto merelakannya dengan lapang dada sambil berkata, "Mampir saja ke warung kalau lagi senggang, Nji. Lumayan buat nambah-nambah. Nanti dibayar pakai sebungkus soto atau uang paruh waktu."

Maka, dimulailah hari-hari berat di bawah terik matahari ibu kota. Malik beberapa kali melihat Panji melenggang di dekat warung tempat kerjanya. Remaja itu berjalan tertatih sambil memanggul dua buah galon air di pundak, atau mengerek galon-galon itu naik-turun tangga curam di petakan kos-kosan sempit. Upah harian yang diterimanya memang tidak seberapa, recehan kumal yang akan habis dalam sekejap. Tapi Panji bersikeras mempertahankan pekerjaan itu mati-matian.

Bukan sekadar karena uangnya, melainkan karena ada satu “hak Istimewa” yang sangat berharga di balik lelahnya mengangkat beban: izin untuk membawa pulang air bilasan terakhir dari depot yang tidak layak jual ke pelanggan.

Lihat selengkapnya