Hari-hari di gubuk reyot yang pengap dan panas membara itu tidak pernah berjalan di atas garis yang lurus. Ia berliku, menghantam, kadang merayap pelan dalam keheningan yang menyesakkan dada, sebelum akhirnya meledak dalam kemelut pertengkaran kecil yang khas. Sebuah dinamika batin antara dua saudara yang diikat oleh sisa-sisa arang penderitaan.
Suatu sore, terik matahari masih memanggang kota, berpadu dengan bisingnya lingkungan sekitar yang membuat kepala berdengung. Panji baru saja kembali dari rute pengantaran galonnya. Napasnya memburu, peluh bercampur jelaga jalanan mengalir deras di pelipisnya, menggariskan peta kepedihan di wajah mudanya yang kian tirus. Dengan kasar, ia melemparkan jeriken kosong ke samping etalase warung soto, lalu menatap punggung Malik yang sibuk membersihkan meja warung.
"Kenapa musti menolongku waktu itu, Mas?" suara Panji bergetar, pecah dalam nada sinis yang mengiris. "Orang kayak kita kalau mati di got juga cuma jadi makanan lalat. Buat apa repot-repot menyeretku untuk merasakan sengsara lebih lama lagi?!"
Malik tidak segera menoleh. Tangannya terus mengelap meja yang berminyak dengan gerakan konstan, seolah mengabaikan gemuruh amarah yang sedang membakar adiknya. Baru setelah ia menarik napas panjang, Malik berbalik. Matanya menatap tajam, menghujam langsung ke dasar jiwa Panji.
"Karena aku sudah capek melihat orang mati pelan-pelan di depan mata, Nji," suara Malik dingin, namun sarat akan getir yang meremukkan tulang. "Adekku mati di bawah ban angkot, Ibuku mati di lorong rumah sakit, dan kakakmu juga gantung diri di kusen pintu. Aku sudah cukup muak dengan kematian yang sia-sia. Kamu harus tetap hidup, kamu itu adekku sekarang. Jangan pernah bicara mati di depanku lagi!"
Pertengkaran itu pecah begitu saja, disusul oleh pekik dan jerit frustrasi yang membumbui hidup mereka sekelebatan mata. Namun, bagi dua pemuda tanggung yang ditempa oleh jalanan ibu kota yang kejam itu, amarah tidak pernah berakar lama. Mereka tidak punya waktu untuk memelihara gengsi atau menyimpan dendam. Selepas malam merayap, amarah itu akan luruh dengan sendirinya, larut dalam kepulan embusan napas dingin yang keluar dari mulut, dan sisa-sisa nasi dingin yang menempel serta mereka tegaskan masuk ke dalam perut. Berdua mereka sadar untuk tidak perlu mengungkitnya kembali. Meski suatu waktu, luka itu akan kembali mengoyak dengan pola yang sama.
Namun, di tengah kemelut hidup Malik dan Panji yang berdarah-darah, ada sebuah bagian lain yang tumbuh di sudut gubuk itu: sosok Pak Sartoni.
Lelaki tua renta itu bukanlah beban yang pasrah menunggu datangnya ajal. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Pak Sartoni menyimpan martabat yang jauh lebih utuh dari kedua anaknya. Dengan paru-paru yang nyaris hancur, bernapas saja rasanya seperti menghirup serpihan kaca, tentu saja ia dilarang keras melakukan pekerjaan berat. Tapi tinggal diam dan menjadi parasit di atas penderitaan Malik adalah hal yang paling diharamkan oleh nuraninya.
Maka, Pak Sartoni memilih jalannya sendiri. Di atas sebuah kursi kayu usang pemberian tetangga yang kini ditempatkan tepat di depan pintu gubuknya setiap pagi, lelaki tua itu menggelar dunianya. Dengan jemari yang gemetar hebat, ia bekerja sebagai pengupas bawang putih dan bawang merah, merangkap sebagai pemilah botol plastik bekas seperti biasanya.
Pekerjaan itu bukan diambil karena ia ingin menyiksa tubuhnya yang ringkih, melainkan karena ia tidak sanggup melihat Malik pulang dengan tangan penuh goresan, kulit telapak tangan yang mengelupas habis di warung makan. Ketika seorang juragan pasar mengantarkan satu karung bawang mentah berbau menyengat, Pak Sartoni akan duduk berjam-jam, mengupasnya satu per satu seharian penuh demi upah yang tidak seberapa: hanya sekitar Rp15.000 hingga Rp20.000 per karung. Uang receh yang didapat dengan cucuran keringat dan batuk darah yang ditahannya setengah mati, semata-mata agar ia bisa memberikan beberapa lembar uang kusut itu kepada Malik, agar anak-anaknya bisa membeli segumpal nasi atau lauk warung yang dihargai murah.
Suatu siang, di tengah kesibukan Pak Sartoni mengupas bawang dengan pintu gubuk yang terbuka lebar untuk mencari udara, sepasang mata tuanya menangkap pemandangan yang meneduhkan dan membuat jiwa lembutnya bergetar.
Dua sosok anak kecil berjalan dengan gontai menyusuri rel kereta. Langkah kaki mereka ragu-ragu, terhenti sejenak ketika merasa diperhatikan oleh seorang kakek renta di dalam gubuk. Karena penasaran, kedua anak itu perlahan mendekat, mengintip ke dalam ruangan sempit yang berbau bawang dan seng berkarat.
"Sini, Cu... masuklah, jangan takut," panggil Pak Sartoni dengan suara parau yang dilembutkan, mengisyaratkan dengan tangannya yang berbau tajam bawang.
Kedua anak itu melangkah masuk dengan ragu. Dari perbincangan singkat yang terbata-bata, Pak Sartoni mengetahui nama mereka: Otong, yang baru berusia 7 tahun, dan adiknya, Ulan, yang masih 4 tahun. Bagi Pak Sartoni, kedua anak itu bukanlah sekadar anak-anak jalanan biasa, mereka adalah malaikat kecil berbinar yang turun di tengah kubangan sampah ibu kota.
Otong dan Ulan adalah anak dari sepasang pemulung yang tinggal di gubuk kardus di bawah kolong jembatan, tidak jauh dari tempat tinggal Pak Sartoni. Ibunya mengalami gangguan jiwa yang kerap tertawa sendiri di tengah bisingnya jalanan, sementara ayahnya adalah seorang pengemis yang sering kali diciduk dan diangkut oleh truk Satpol PP. Penampilan mereka luar biasa memilukan: mengenakan kaus kedodoran yang compang-camping tanpa celana dalam, kaki telanjang di atas tanah becek, sambil menyeret karung plastik putih besar yang sudah butut, yang sudah berubah warna menjadi kecoklatan tertempel lumpur hitam pekat.
Sejak hari itu, kehadiran Otong dan Ulan menjadi ritual suci yang tidak pernah absen. Setiap kali lewat di depan gubuk, mereka selalu menyapa dengan teriakan riang, memanggil Pak Sartoni dengan sebutan "Kakek".
Melihat kondisi dua bocah itu yang teramat mengenaskan di tengah gempuran hidup yang luar biasa gila, Pak Sartoni tidak tinggal diam. Ia selalu mencari cara untuk memberdayakan mereka. Setiap kali ada botol plastik bekas hasil pilahannya, Pak Sartoni akan memanggil Otong dengan senyuman paling tulus di muka bumi.
Mendengar panggilan itu, mata Otong akan berbinar lebar luar biasa. Bocah kecil itu akan melompat kegirangan, merogoh kantong celananya yang robek, lalu dengan bangga membagi sebutir permen karet murahan yang sudah meleleh dan lengket kepada adiknya. Sering kali, dengan polosnya Otong mencoba menawarkan separuh permen lengket itu kepada Pak Sartoni, yang tentu saja ditolak dengan dehaman tertahan di tenggorokan yang basah oleh air mata.