Malam turun dengan anggun, membawa pekat yang merayap di aspal yang sudah mendidih dibakar seharian. Di bawah redup lampu yang masih berusaha menyinari gubuk, Malik, Panji, dan Pak Sartoni baru saja hendak menyuap makan malam mereka. Tidak ada kemewahan di hadapan mereka; hanya ada nasi dingin sisa terakhir dari kerukan penanak nasi warung yang sudah mulai mengeras dan dicampur dengan sisa kuah soto encer bertabur suwiran kecil ayam, yang kini dibagi tiga dengan penuh kehati-hatian.
Tiba-tiba, suara ketukan pelan dan ragu-ragu terdengar di pintu tripleks yang lapuk.
Malik menghentikan suapannya. Panji menoleh tajam, bersiap siaga dengan otot yang langsung tegang. Ketika Malik beranjak untuk membuka pintu sedikit, dua sosok kecil berdiri gemetar di dalam gelapnya malam: Otong dan Ulan.
Dua bocah pemulung itu berdiri tanpa alas kaki, tubuh mereka dibalut kaus kedodoran yang kotor berlumur lumpur kering. Mata Otong mengerjap menatap orang dalam gubuk dan makanan di tengahnya, sementara Ulan menyembunyikan wajah di balik punggung kakaknya, sambil menggigit bibirnya yang pecah-pecah karena kelaparan.
"Kek..." suara Otong tercekat, serak dan nyaris tidak terdengar di antara deru suara kereta api yang baru saja melintas di luar. "Perut Ulan... bunyi terus dari sore. Tidak bisa tidur."
Pak Sartoni menarik napas berat. Tanpa banyak bicara, lelaki tua itu melambaikan tangan kurusnya, menyuruh kedua anak itu masuk. Di atas lantai yang dilapisi oleh kardus yang sudah tipis dan hampir koyak, Pak Sartoni langsung membagi porsi nasinya sendiri, porsi yang sedari tadi ia harapkan dapat meredakan lapar perutnya, lalu menyuapkannya bergantian ke mulut Otong dan Ulan.
Melihat pemandangan itu, dada Panji bergemuruh hebat. Rasa ngilu yang luar biasa menjalar di sanubarinya. Di tempat paling jahanam dan kumuh yang mereka tempati ini pun masih ada yang lebih menderita, dua anak kecil ini tidak punya apa-apa selain kulit yang korengan dan perut yang melilit. Tapi anehnya, di sela-sela suapan nasi dingin itu, Otong tiba-tiba tertawa kecil menertawakan remah nasi yang menempel di pipi adiknya. Sebuah tawa yang begitu tulus, barangkali menertawakan kejamnya dunia yang seolah ingin meremukkan tulang-tulang mereka sejak dalam kandungan.
"Tertawalah, Nji, Lik... seperti Otong ini," bisik Pak Sartoni lirih, menatap kedua anak muda di hadapannya dengan mata yang berkaca-kaca. "Kadang, cuma dengan menertawakan kemiskinan dan sialnya nasib kita sendiri, iblis-iblis di luar sana kalah. Mereka pengen kita mati menangis. Tapi kalau kita masih bisa tertawa walau isi perut kosong, berarti kita masih baik-baik saja."
Begitulah malam itu berlalu dengan tulus, diselingi tawa yang ikhlas dari sosok-sosok merana di dunia.
Namun, ketulusan malam itu tidak berlangsung lama. Kejamnya dunia nyata segera mengetuk pintu mereka dengan cara yang jauh lebih mengerikan, membuat siapapun menarik napas dan hampir sulit untuk kembali mengembuskannya.
Dua hari berselang, di sebuah tikungan jalan sempit dekat pasar induk tempat Panji biasa mengambil galon air, malapetaka itu mencegatnya. Langkah Panji terhenti seketika begitu dua orang lelaki berbadan gempal dengan jaket kulit hitam kumal dan bau rokok kretek mencegat dan menghadangnya. Wajah mereka dingin, beringas, dan menyiratkan aura kekerasan jalanan yang khas dari para algojo pinjaman ilegal dan bank keliling harian.
"Wah, wah... dicariin juga lu, Bocah!" gertak lelaki berbadan gempal dengan bekas luka sayat di pipi kanannya, memegang selembar kertas catatan lusuh berisi daftar nama debitur macet. "Lu pikir karena Ridwan mati gantung diri, utangnya jadi lunas?! Enak aja!"
Panji menelan ludah kelat. Tenggorokannya terasa kering seketika. "Sabar, Bang... saya masih cari uangnya. Sumpah, nanti saya cicil setiap minggu..."
Cicil? Di dunia rentenir jalanan Jakarta, kata "cicil" adalah lelucon yang mahal.
Utang pokok almarhum Kak Ridwan yang dulunya hanya Rp5.000.000 kini telah beranak-pinak, membengkak secara mengerikan menjadi Rp15.000.000 hanya dalam kurun waktu tiga sampai empat bulan. Sistem biadab yang diterapkan oleh bank keliling itu menggunakan bunga berbunga majemuk, ditambah denda keterlambatan harian sebesar satu hingga dua persen dari total pinjaman pokok setiap hari. Waktu berjalan cepat, tapi bunga pinjaman berlari jauh lebih cepat, memangsa daging dan darah orang-orang kecil yang tidak tahu hukum.
"Tiga bulan sejak dipinjam, utang Ridwan sekarang udah nembus lima belas juta!" bentak penagih itu sambil mencengkeram kerah baju Panji hingga remaja itu terangkat dan terbatuk-batuk kehabisan napas. "Kalau malam minggu besok lu nggak setor cicilan, bukan cuma muka lu yang gua bikin babak belur, tapi gubuk reyot tempat bapak angkat lu tinggal bakal gua ratain sama tanah!"
Di bawah ancaman maut yang mengimpit lehernya, dengan disaksikan oleh debu jalanan dan lalu-lalang orang yang acuh tak acuh, Panji akhirnya dipaksa meneken sebuah perjanjian tertulis di atas meterai palsu. Di bawah teror golok kecil yang diselipkan di pinggang penagih utang, Panji diwajibkan membayar uang setoran sebesar Rp50.000 setiap malam minggu tanpa boleh kurang sedikit pun, hasil dari memanggul galon air keliling pemukiman.