Gulita menyapa dan memeluk segera tanpa siapapun memanggil. Dan ia merambat turun dengan kepekatan yang terasa seperti endapan oli bekas, melekat sekaligus menyesakkan. Di dalam gubuk beratap seng yang berderit setiap kali angin malam menghantam dinding tripleksnya, suara itu kembali pecah. Sebuah suara yang paling ditakuti oleh Malik dan Panji.
Ukh... Khuk... Huat!
Pak Sartoni terbangun dari tidurnya yang tidak pernah nyenyak. Lelaki tua itu terbatuk hebat, membungkuk hingga dadanya yang tinggal tulang nyaris menyentuh lantai. Panji yang sedang asyik mengistirahatkan ototnya di atas tipisnya kardus yang baru ditambah dengan helaian yang baru langsung terlonjak. Dengan napas tertahan, ia melihat Pak Sartoni memuntahkan gumpalan darah hitam pekat ke atas kausnya yang usang. Darah itu kental, berbau anyir logam yang menusuk hidung, menodai lusuhnya kaus dengan warna merah legam yang mengerikan.
"Pak! Ya Allah, Pak!" Panji merangkak cepat, menyambar bahu rentan Pak Sartoni, menepuk-nepuk punggungnya yang bergetar hebat.
Pak Sartoni hanya menggeleng lemah. Napasnya berbunyi seperti pipa bocor, pendek-pendek, tersengal-sengal di tenggorokan yang kering. "Tidak apa-apa, Nji. Bapak... cuma kecapekan..." bisiknya terbata, suaranya nyaris hilang ditelan angin kencang yang menerpa dinding gubuk.
Keesokan paginya, Malik membawa secarik kertas resep dokter puskesmas ke apotek kecil di sudut pasar. Namun sesampainya di sana, kenyataan kembali menampar wajahnya dengan brutal.
"Totalnya lima puluh ribu rupiah, Mas," ujar apoteker paruh baya tanpa iba, memegang obat generik pereda sesak napas untuk paru-paru Pak Sartoni.
Lima puluh ribu. Nominal yang bagi orang-orang berdasi di gedung pencakar langit Jakarta mungkin hanya setara dengan secangkir kopi di mal mewah. Tapi bagi Malik dan Panji, uang sebesar itu adalah angka astronomis yang tidak bisa dibeli dengan sepuluh jam kerja di warung tegal atau belasan keranjang cabai busuk. Kantong lusuh tempat mereka menyimpan sisa uang tinggal berisi beberapa helaian, baru saja mereka membayar biaya listrik pada Pak Deni. Dan yang lebih menghancurkan jiwa Panji, malam minggu ini adalah batas akhir jatuh tempo ancaman penagih utang yang siap meratakan gubuk mereka dengan tanah jika uang cicilan tidak disetor.
Melihat darah hitam yang dimuntahkan Pak Sartoni semalam, seluruh kewarasan Panji runtuh seketika. Otaknya mendadak beku, tertutup oleh kabut keputusasaan yang luar biasa pekat.
Di kepala Panji yang sudah lelah menanggung hari-hari berat, tidak ada lagi ruang untuk pertimbangan moral. Dunia ini sudah terlampau kejam, memaksanya memilih di antara lorong-lorong kehinaan. Di pinggiran rel kereta dilihatnya seorang pemuda liar seusianya yang ia tahu bernama Joni pernah mengajaknya melakukan "kerja cepat" di malam hari. Ia adalah anak pangkalan yang orang-orang kampung tahu kegiatannya sering menghirup lem.
Bagi Panji, pilihan ini tidak klise. Ia tidak mau menjadi kurir narkoba yang menghancurkan masa depan orang lain; ia tahu batasan itu. Tapi mencuri kabel utilitas bawah tanah atau kabel tembaga sisa proyek tebal di pinggir jalan tol malam hari? Di benaknya yang gelap, itu bukan dosa. Itu adalah satu-satunya jalan keluar dari cengkeraman maut.
Risikonya mengerikan, bahkan terlampau gila: mati gosong tersengat arus listrik ribuan volt yang siap meremukkan sekujur tubuh dalam hitungan detik, atau tertangkap warga dan digebuki hingga cacat di tengah jalan raya. Tapi apa pedulinya lagi? Ketika perut lapar dan darah kematian sudah mendesak di depan mata, rasa takut kehilangan nyawa terasa jauh lebih murah ketimbang harga sebungkus obat untuk Pak Sartoni.
Sore itu, di balik bayang-bayang tembok semen stasiun, Panji menemui Joni. Bau rokok kretek murahan menyengat hidung mereka.
"Jadi deal, Nji? Pagi nanti kita main di gardu tol utara," bisik Joni menyeringai, memperlihatkan gigi kuningnya. "Kabel tembaganya tebal dan berat. Kalau dipotong dan dibakar pagi itu juga, besoknya langsung cair di penadah loak. Bagian lu lumayan buat nebus utang."
Panji menelan ludah kelat. Tenggorokannya terasa tersangkut duri. Ia tahu ia sedang menggadaikan sisa-sisa harga diri terakhirnya. Tapi bayangan wajah Pak Sartoni yang sekarat dan ancaman para penagih utang mendesak maju, menenggelamkan setiap bisikan nurani.
"Jam berapa?" suara Panji tercekat, berat dan serak.
"Jam satu lewat abis kereta terakhir. Nanti lu jadi tukang bawa tang potong baja sama senter, alatnya entar gua kasih," jawab Joni dingin.
Dunia memang menempatkan syukur dengan cara yang paling biadab dan melintir. Ia tidak meletakkannya begitu saja dalam kenyamanan waktu yang panjang; ia dilebur bersama kotoran, keringat, dan dosa, ditempa oleh pandai besi bernama kemiskinan yang meremukkan martabat manusia hingga tak berbentuk.