SEBUTIR NASI DI MEJA MAKAN ORANG-ORANG

Aga Lesmana
Chapter #16

Bab 16: Remah-Remah Belas Kasihan

Panji menyeret langkah kakinya yang masih berdenyut nyeri. Luka lecet akibat terjatuh di batu ballast masih basah, mengalirkan perih yang menyatu dengan bau asam keringat dan darah yang kering. Namun, yang lebih remuk bukan sekadar dagingnya; melainkan harga diri yang telah ia injak-injak sendiri ke dalam lumpur comberan yang berbau busuk.

Mengingat kondisi Pak Sartoni yang rasanya semakin kritis dan cicilan utang almarhum Kak Ridwan yang terus menghantui leher layaknya algojo dengan golok terhunus, Panji terpaksa menelan bulat-bulat sisa urat malunya. Pagi itu, ia mendatangi depot tempatnya bekerja untuk memohon kasbon, sekadar berharap pada secercah harap untuk lembar uang demi menyambung nyawa keluarganya.

Namun, nasib sial seakan gemar meludahi muka orang-orang miskin. Suami istri pemilik depot sedang pergi ke luar kota menjenguk sanak saudara. Depot itu hari ini dijaga oleh anak tertua mereka, Mbak Risma, bersama suaminya, Mas Anjas. Sosok-sosok berdarah dingin yang tidak kenal belas kasih.

Panji berdiri membungkuk di depan meja kasir. Matanya lekat menatap sepasang sepatu kulit imitasi yang mengilap milik Mas Anjas. Sepatu bersih tanpa setitik debu, yang dibeli dari uang hasil jerih payah buruh-buruh kecil sepertinya.

"Kasbon? Wah, nggak bisa, Nji!" potong Mbak Risma dengan suara ketus, melipat tangan di dada sambil membuang muka. "Pencatatan kas di sini ketat. Kalau setiap pegawai gampang minta talangan, bangkrut usaha orang tua saya!"

Mas Anjas menambahkan dengan senyum sinis yang mengiris hati, menatap remeh pakaian kumal Panji yang compang-camping. "Lagian kalau kamu nggak becus kerja, banyak orang di luaran sana yang antre mau gantiin posisi kamu. Tinggal angkat kaki aja kalau banyak maunya."

Batin Panji bergolak hebat. Ada gempa kemarahan dan getir yang meremukkan rongga dadanya. Dunia ini benar-benar keji; untuk secarik kertas piutang kecil yang bisa menyelamatkan nyawa seorang kakek renta di ambang maut, manusia-manusia berdarah dingin itu bahkan enggan melonggarkan jari mereka barang sedetik saja.

Dengan tangan terkepal gemetar, Panji menarik dirinya mundur. Pergi meninggalkan depot itu dengan kepala tertunduk, membawa serta kehinaan yang ditebar oleh sesama manusia. Untunglah hari ini ia sedang dalam masa libur sehari setelah sekian lama, jadi ia beruntung untuk tidak melihat wajah dua orang yang keji itu.

Perjalanan pulang melintasi kawasan terminal yang padat terasa seperti berjalan di atas bara api. Angkutan umum yang sedang “ngetem” mengeluarkan kepulan asap hitam yang menyesakkan dada, berteriak-teriak memanggil penumpang di tengah bisingnya klakson dan debu jalanan.

Di tengah kalutnya pikiran dan langkah yang gontai, telinga Panji tanpa sengaja menangkap bisik-bisik bersuara keras dari sekelompok lelaki berbadan kurus kerempeng yang nongkrong di balik pilar jembatan. Kawanan copet pasar.

Di satu sisi, nurani Panji menjerit meminta tobat. Ia baru saja lolos dari maut di jalur rel; ia tahu persis bagaimana rasanya hampir mati sebagai bajingan yang tidak dikenang. Namun di sisi lain, setan bekerja dengan cara yang paling sunyi. Langkah Panji terhenti ketika matanya tiba-tiba beradu pandang dengan salah satu lelaki bertato burung camar di leher. Ketua komplotan copet itu, yang kemudian ia tahu akrab dipanggil sebagai Bang Mail.

Bang Mail menyipitkan mata. Sebagai predator jalanan, ia memiliki indra penciuman yang tajam untuk mendeteksi mangsa. Ia melihat Panji: seorang pemuda babak belur, gesit, dengan mata menyala oleh keputusasaan dan kepulan amarah yang belum padam. Sasaran empuk untuk direkrut.

Tanpa diduga, Bang Mail melangkah mendekat, lalu mendaratkan sebuah tepukan yang terasa akrab di bahu Panji yang lebam.

"Lagi pusing ya, Bos? Muka lu kusut amat kayak cucian belum disetrika," bisik Bang Mail ramah sambil merangkul Panji, lalu ia membimbing remaja tanggung itu ke sudut yang lebih terpencil dan teduh di balik pohon ketapang tua pinggir jalan raya.

Di bawah naungan daun-daun kering yang berguguran, racun itu mulai diteteskan.

"Ikut gua aja," tawar Bang Mail tanpa basa-basi, suaranya berbisik namun tajam menghujam telinga. "Pasar induk lagi longgar. Sekali sabet dompet pengunjung, hasilnya bisa buat makan seminggu. Kalau lagi sepi, lu bisa nyambi jadi kurir barang haram antarkota. Duitnya cepat, tunai, nggak perlu pakai keringat darah kayak kuli yang kelihatan nyawanya hampir lepas di jalanan."

Lihat selengkapnya