SEBUTIR NASI DI MEJA MAKAN ORANG-ORANG

Aga Lesmana
Chapter #17

Bab 17: Memeluk Dengan Erat

Dua manusia. Dua pecahan cermin yang pecah berkeping-keping dari rahim kemiskinan yang sama, namun terlempar dan melebur ke dalam dua kutub api neraka yang sama sekali berbeda. Malik dan Panji adalah bentuk kontras paling biadab dari sebuah lingkungan bawah tanah, sebuah ekosistem kota metropolitan yang membusuk, berair liur basi, penuh nanah sosial, dan berbau anyir got busuk yang disiram air mata setiap kali malam merangkak naik menggantikan siang.

Di satu sisi ada Malik: si manusia sejuta perkara, seonggok daging yang memilih mengikis habis sisa kewarasannya di bawah sikat ijuk kasar dan tasbih berdarah, merangkak di atas pecahan kaca demi mempertahankan sebutir harga diri yang nyaris tak berbentuk. Dan di sisi lain ada Panji: remaja yang urat sabarnya sudah putus total, terseret arus deras kemuakan, bersiap menenggelamkan sisa-sisa nuraninya ke dalam lumpur dosa yang paling pekat dan menghinakan.

Pukul tujuh malam. Sisa-sisa ampas kesibukan di warung tegal perlahan mereda, menyisakan lantai yang lengket oleh tumpahan kuah dan aroma bumbu yang menusuk hidung. Panji datang menyeret langkah kakinya yang masih pincang dan berdenyut nyeri. Ia datang bukan untuk bertamu, melainkan bermaksud menjemput jatah makanan sisa untuk Pak Sartoni dari tangan kakaknya.

Namun, di meja sudut paling belakang, di bawah temaram lampu warung yang berkedip-kedip malas, sebuah pemandangan memuakkan menghujam mata Panji bagai tikaman belati berkarat yang diputar perlahan di dalam dada.

Seorang pelanggan berbadan tegap, mengenakan kemeja rapi beraroma parfum mahal, baru saja beranjak pergi meninggalkan meja yang berantakan. Di atas piring yang kotor teronggok lemas sepotong paha ayam goreng utuh. Dagingnya baru dicuil sedikit di bagian ujung, masih tebal, masih menggiurkan, masih sangat layak untuk mengisi lambung manusia yang kelaparan. Namun, dengan angkuhnya, makanan suci itu dibiarkan begitu saja tercampur aduk dengan sisa kuah sop yang mendingin, remah-remah nasi yang sudah dibejek sendok, serta tumpahan air teh tawar yang sengaja diguyurkan untuk mencuci tangan kotor. Dibuang begitu saja tanpa secuil pun rasa berdosa, diinjak oleh kemewahan fana yang memuakkan.

Mata Panji mendadak menyalang merah. Urat-urat di pelipisnya menonjol keluar, berdenyut-denyut liar menahan gelombang amarah yang mendidih sampai ke ubun-ubun kepala. Perutnya yang kosong melilit-lilit perih, berteriak meminta hak paling dasar untuk sekadar hidup, sementara tepat di hadapannya, makanan itu diperlakukan layaknya sampah najis yang bahkan anjing jalanan pun enggan meliriknya.

Tanpa bisa dikontrol lagi oleh akal sehat, Panji melangkah limbung. Ia menghantam meja kasir tempat Malik sedang meresapi lembaran uang receh kumal dengan guncangan yang begitu keras.

Brak!

"Aku sumpahin yang makan tadi mati keselek! Anak haram!" teriak Panji kalap, suaranya melengking tinggi, memecah kesunyian di dalam warung dengan nada yang mengiris telinga. "Dia tidak tahu rasanya usus melilit menahan lapar berhari-hari! Coba Mas lihat?! Dibuang begitu saja kayak bangkai anjing jalanan! Kenapa dunia ini adil buat bangsat-bangsat berdasi, tapi bikin kita merangkak kayak cacing kepanasan?!"

Satu dua pelanggan warung sontak menoleh. Disertai beberapa pegawai lain yang membelalakkan mata, menatap tajam penuh ancaman dengan muka masam.

Namun, di hadapan amukan adiknya yang meledak-ledak dan siap membakar apa saja, Malik tetap diam dengan sikap tenangnya. Wajahnya datar, nyaris tanpa ekspresi. Balutan topeng kesabaran yang ditempa oleh penderitaan bertahun-tahun. Tanpa sepatah kata makian, Malik mengambil sehelai kain lap tua lalu membersihkan meja yang baru saja ditunjuk oleh Panji. Perlahan namun sangat cekatan, ia menyibak piring sisa makanan yang dikutuk adiknya itu.

Dengan emosi yang berhasil dikontrol, Malik mengambil selembar kantong plastik bersih. Di sudut tak terlihat oleh orang namun terlihat oleh Panji, ia memindahkan potongan paha ayam sisa itu ke dalam plastik. Dikibaskannya potongan ayam tersebut perlahan-lahan untuk merontokkan sisa air bilasan tangan yang membasahinya, memastikan daging itu tidak terlalu basah sebelum nantinya masuk ke perut keluarganya.

"Mulutmu dijaga, Nji," ucap Malik lirih. Suaranya begitu datar, sedatar air got di depan warung, namun menusuk tajam kepada adiknya. "Jangan nyumpah-nyumpah sembarangan. Rezeki orang sudah ada takarannya masing-masing. Kamu marah-marah setengah mampus sampai muntah darah juga tidak akan membuat perut kita kenyang sedetik pun. Sudah... bawa makanan Bapak yang di atas meja itu. Ayam yang ini nanti aku cuci bersih lagi pakai air mendidih, bisa digoreng ulang buat lauk makan malam kita bertiga."

Panji mendengus kasar. Dadanya naik turun menghirup udara warung yang pengap dan sesak. Ia ingin meludah ke lantai sebagai bentuk protes kebencian mutlaknya pada takdir, namun urung melanjutkan aksinya saat melihat tatapan beringas dari salah satu pegawai senior warung yang sudah memegang sapu ijuk di ambang pintu menuju dapur.

"Mas terlalu lembek!" cibir Panji, suaranya bergetar hebat menahan rasa benci yang pekat hingga ke akar rambut. "Lama-lama kita mati kelaparan bukan karena miskin, tapi karena kita terlalu waras dan tolol di tengah orang-orang yang sudah gila ini!"

Malik menghentikan gerakannya. Ia meletakkan kain lap di tangannya, lalu perlahan mendongak. Menatap tajam ke dalam mata adiknya yang menyala oleh api kehancuran yang membara.

"Aku tidak lembek, Nji," desis Malik, suaranya berat, sarat akan beban jutaan perkara dunia yang dipikulnya sendirian di atas punggung yang nyaris patah. "Aku cuma mau waras demi Bapak. Kalau aku ikut gila kayak kamu, gubuk kita sudah lama jadi sarang penyamun, dan kita mati terhina di jalanan tanpa ada orang yang sudi melirik mayat kita."

Lihat selengkapnya