Di tengah impitan dinding beton ibu kota yang berniat meremukkan tulang-belulang kaum papa, dan di bawah bayang-bayang ancaman surat penggusuran Pak Jaka yang melayang-layang di pelupuk mata, kehidupan di perkampungan kumuh rel kereta tidak pernah berjalan di atas hukum uang.
Di sudut-sudut paling gelap, kotor, berdebu, dan di mana negara hanya hadir dalam bentuk surat peringatan, aparatur penindas, dan ancaman Satpol PP, roda kehidupan berputar di atas poros yang jauh lebih purba. Namun juga jauh lebih suci, yaitu dari pertukaran keringat, sisa-sisa tenaga, dan belas kasih sesama manusia yang sama-sama nyaris tenggelam ke dasar jurang kematian.
Di sinilah Mbak Sri bertahan hidup.
Perempuan paruh baya yang usianya akan menginjak kepala lima sebentar lagi itu berjalan menyeret langkah dengan punggung yang sudah melengkung parah, membentuk kurva menyedihkan akibat puluhan tahun menanggung beban bakul jamu gendong yang beratnya menindih pundak rentanya setiap subuh. Kulitnya keriput hangus terbakar terik matahari jalanan, telapak tangannya kasar penuh urat menonjol akibat memeras parutan kunyit dan temulawak, namun di balik keriput itu, senyumannya selalu menyisakan kehangatan yang tidak akan pernah bisa dibeli oleh gelimang harta di mal-mal mewah ibu kota.
Mbak Sri bukanlah orang kaya. Ia tidak punya lembaran rupiah berlebih untuk meminjamkan uang, tidak punya kuasa untuk menyogok petugas kelurahan, dan tidak punya simpanan di bank untuk membantu melunasi utang keluarga Malik. Namun, di dalam bakul bambunya yang berbau rempah pekat dari aroma kunyit, temulawak, dan beras kencur yang menguap di udara lembap, selalu ada celah sisa bahan pangan yang ia sisihkan khusus dengan tangan gemetar untuk gubuk reyot Malik.
Hubungan mereka bukanlah transaksi dagang di pasar modal yang penuh muslihat; ini adalah potret murni dari ekosistem kaum pinggiran. Sebuah simbiosis mutualisme yang lahir dari rahim penderitaan yang sama, di mana mata uang sudah tidak lagi berlaku dan digantikan sepenuhnya oleh pertukaran keringat serta kepedulian yang mengiris hati.
Setiap kali bak penampung air hujan Mbak Sri di samping gubuknya keruh dipenuhi lumut hijau dan debu jalanan yang beracun, Malik akan datang untuk membantu dengan menyikat dan menimba, meski betapapun remuk redam dan lelahnya ia setelah seharian membanting tulang di warung soto. Tanpa diminta, tanpa mengharapkan pamrih, ia menguras habis air keruh itu, menggosok dinding bak hingga bersih bersinar, lalu mengisinya kembali dengan air dari ember-ember lebih kecil yang lain.
Sementara Panji, dengan sisa tenaga mudanya yang sering kali meledak-ledak oleh amarah membabi buta pada dunia, akan memanjat atap seng gubuk Mbak Sri yang bocor setiap kali hujan badai tiba, memaku ulang lembaran seng karatan itu agar air tidak menetes menghancurkan tempat tidur perempuan renta tersebut.
Dan tatkala subuh masih pekat buta, sebelum matahari sempat menampakkan sinarnya di langit Jakarta yang bopeng, Malik atau Panji kerap bergantian memikul bakul jamu Mbak Sri yang beratnya luar biasa, berjalan mendaki undakan jalan menuju pasar tradisional agar perempuan renta itu tidak harus menanggung beban hancur sendirian di jalanan sepi.
Dan sebagai balasannya? Mbak Sri tidak pernah sekalipun membiarkan kedua pemuda itu pulang dengan tangan kosong ke gubuk mereka yang gelap.
"Nih, Malik, Panji... buat ganjal perut bapak kalian di rumah," ucap Mbak Sri suatu sore dengan suara serak, menyodorkan sebuah bungkusan daun pisang kumal yang masih mengepulkan uap saat ia mampir ke teras gubuk mereka.
Di balik bungkusan daun pisang kumal itu, menguar uap hangat dari nasi jagung kasar yang mengepul, berpadu dengan beberapa potong singkong rebus yang empuk namun murah, serta botol kecil berisi ramuan jamu tradisional khusus penambah nafsu makan dan penguat paru-paru hasil racikan Mbak Sri sendiri untuk Pak Sartoni.
Panji menatap bungkusan itu dengan mata berkaca-kaca yang lekas ia palingkan ke arah rel kereta. Ada rasa getir yang begitu keji mencabik-cabik dadanya setiap kali ia menyadari satu kenyataan pahit: bahwa bertahan hidup di kota sadis ini ternyata hanya bergantung pada kebaikan orang-orang miskin lainnya. Orang yang sama-sama melarat, yang membagi sebutir nasi jagung terakhir bukan karena mereka berlimpah harta, melainkan karena mereka tahu persis, di dalam tulang sumsum mereka sendiri, bagaimana rasanya sekarat kelaparan di atas lantai dingin tanpa ada yang menolong.
"Terima kasih banyak ya, Mbak..." suara Malik bergetar lirih, hampir tak terdengar, sambil menerima bungkusan nasi jagung itu dengan kedua tangan yang gemetaran. "Kalau tidak ada Mbak Sri... entah bagaimana nasib kami melewati hari ini. Mungkin kami akan menjadi bangkai di pinggir rel."
Mbak Sri tersenyum hangat, garis-garis keriput di wajahnya berkerut lembut, memantulkan bayangan lampu gubuk yang sekarat. Tangannya yang kasar dan bernoda jamu menepuk pundak Malik pelan, menyalurkan kekuatan gaib yang tak bernama.
"Sudah, tidak usah sungkan, Lik. Kita ini kan tetangga satu penderitaan di bawah langit yang sama-sama kejam," bisik Mbak Sri pilu. "Di kota ini, kalau kita tidak saling merangkul dan memungut serpihan sisa hidup satu sama lain, siapa lagi yang mau melirik bangkai kita kalau kita mati nanti? Orang berdasi itu? Mana sudi mereka barang meludah di atas kuburan kita."