Puskesmas kecamatan yang berbau karbol pekat dan cairan antiseptik murah itu tidak pernah dirancang untuk memberi belas kasihan pada orang miskin. Di sana, di bawah deretan bangku plastik hijau yang retak dan antrean panjang manusia-manusia lusuh pengguna BPJS gratisan yang mendesak-desak bagai ternak sembelihan, Pak Sartoni diseret oleh Malik dan Panji demi setitik kepastian tentang paru-parunya yang kian hari kian berderak bagai kayu lapuk terbakar di dalam tungku.
Seorang dokter muda berkacamata tebal, dengan raut wajah yang kelelahan bercampur ketegangan yang amat keras, menatap lembaran hasil rontgen dada Pak Sartoni yang serba hitam-keruh di bawah cahaya lampu neon putih. Ia menarik napas panjang, merapikan bungkus obat-obatan generik gratisan di atas meja dengan jemari yang kaku, lalu menatap tajam langsung ke mata Pak Sartoni yang cekung, sayu, dan menguning.
"Ini obatnya diminum teratur, Pak. Jangan pernah bolong," tegas dokter itu dengan nada bicara datar namun menghujam tanpa ampun, sarat akan kegetiran birokratis. "Tapi jujur saja, obat ini tidak akan ada gunanya kalau Bapak masih terus hidup di lingkungan berdebu, berasap, dan beracun seperti kawasan rel kereta itu. Bapak harus istirahat total. Paru-paru Bapak sudah seperti spons kering yang akan hancur dihantam angin. Tolong diusahakan... dan jangan melawan seperti kebanyakan orang lain di lingkungan semacam itu!"
Jangan melawan kata dokter itu. Sebuah kalimat mulia sekaligus naif dari seorang terpelajar yang tidak pernah tahu rasanya melangkah keluar dari pintu gubuk dan langsung dihantam jelaga hitam knalpot bus kota, debu batu bara jalur kereta, serta badai kemiskinan yang mencekik leher setiap detik.
Pak Sartoni hanya mengangguk-angguk pasrah di atas kursi periksa yang dingin. Bibirnya tersenyum tipis, mengiakan dengan kepatuhan palsu, sementara di dalam rongga dadanya, jiwanya meraung menangis darah. Istirahat total? Di lingkungan semacam itu? Bagi orang-orang papa, berhenti bernapas di tengah debu berarti berhenti mencari makan, dan berhenti mencari makan berarti mempersilakan maut datang menjemput tanpa ampun.
Maka, Pak Sartoni memilih menolak untuk sekadar berdiam diri menjadi bangkai bernapas yang merepotkan.
Ingatannya melayang pada obrolan bisik-bisik beberapa hari lalu bersama Mbak Sri, saat Malik dan Panji sedang berpeluh keringat memanjat atap seng dan memaku gubuk wanita penjual jamu itu. Mbak Sri dengan tatapan matanya yang penuh keharuan, iba, dan kepedihan hidup, lalu membocorkan informasi sebuah pekerjaan yang bisa dikerjakan tanpa harus melangkahkan kaki keluar dari ruangan sempit.
"Ada kenalan saya di jalan raya, Pak Sartoni," bisik Mbak Sri kala itu sambil menyipitkan matanya. "Industri rumahan yang bikin kotak kardus makanan sama serabut sapu lidi dari daun kelapa kering. Kerjanya cuma melipat sama mengelem kardus martabak dan merapikan lidi. Memang hasilnya tidak seberapa, Pak... cuma seratus rupiah buat setiap sepuluh kardus yang selesai dilipat dan dilem rapi. Tapi lumayan buat beli sebungkus tempe."
Seratus rupiah untuk sepuluh kardus. Sepuluh perak untuk selembar kardus tebal yang harus dilipat, ditekan dengan tenaga, dan direkatkan dengan lem kimia berbau menyengat.
Sejak pagi buta, ketika Malik pergi memeras keringat di warung soto dan Panji menghilang menelusuri trotoar kota yang keji, Pak Sartoni memulai ritual rahasianya di dalam sangkar kemiskinan.