Jakarta memang sudah tidak diragukan lagi adalah mesin penggiling daging berkarat yang tidak pernah sudi membedakan antara siapa yang berhati suci dan siapa yang berdarah dingin. Di dalam labirin kumuh jalur rel kereta api yang berbau anyir got dan debu batu bara, rantai penderitaan ditarik begitu kencang hingga mencekik leher siapa saja yang terperangkap di dalamnya. Bukan hanya mereka yang miskin menderita dan merangkak di atas pecahan beling takdir, melainkan juga mereka yang diberi sedikit kuasa palsu untuk menjadi eksekutor bagi sesamanya.
Ingatan Panji masih terbakar amarah oleh bayangan Pak Jaka. Lelaki paruh baya berwajah masam itu telah datang beberapa kali ke gubuk mereka dengan amarah yang meledak-ledak, melemparkan kalimat demi kalimat dan berakhir dengan lembaran Surat Peringatan (SP 1) dari pemerintah daerah dengan entakan sepatu yang menghina martabat.
"Pokoknya kalian secepatnya bongkar sendiri bangunan ini! Jangan bikin saya repot harus mondar-mandir mengurus teguran dari kecamatan dan Wali kota!" bentak Pak Jaka kala itu yang masih sangat jelas dalam ingatan. Suaranya menggelegar penuh ancaman, menancapkan kebencian yang mendalam dan bernanah di dada Panji.
Bagi Panji, Pak Jaka adalah lambang absolut dari penindasan birokrasi. Monster berkedok aparat RT yang haus kekuasaan, yang tidak punya nurani selain menjilat pantat para pejabat tinggi di kantor kelurahan. Setiap kali bayangan Pak Jaka melintas, tangan Panji selalu terkepal erat hingga buku-buku jarinya memutih, menyimpan dendam kesumat yang siap menghantam rahang siapa saja.
Namun, dunia ini tidak pernah sesederhana hitam dan putih yang digariskan oleh kemarahan. Di balik topeng ketus, hardikan kasar, dan ancaman pecat yang ditebar Pak Jaka di hari yang berat, tersimpan sebuah sisi manusiawi yang jauh lebih menyayat hati: sebuah dilema moral yang digigit dan digiling tanpa ampun oleh roda gigi mesin birokrasi kota besar.
Malam itu, tepat jam sepuluh malam, ketika badai hujan gerimis mulai mereda dan gubuk Malik diselimuti keheningan yang menyesakkan dada, di mana Pak Sartoni masih terbatuk-batuk kecil merana dan menahan nyeri hebat di sudut ruangan, sebuah ketukan pelan terdengar pada daun pintu tripleks. Ketukan yang sangat ragu-ragu dan hati-hati, berbeda jauh dari gedoran beringas yang kemarin dibawa oleh sang ketua RT.
Malik membuka pintu perlahan-lahan. Di hadapannya berdiri Pak Jaka.
Lelaki itu tidak mengenakan seragam dinas kebesarannya malam ini. Ia hanya memakai kaus oblong putih polos yang sudah menguning di bagian kerah dan celana kain kumal yang basah di ujungnya. Wajahnya tampak jauh lebih tua, kusut, lelah, dan menanggung beban tak terlihat yang seolah-olah siap mematahkan tulang punggungnya. Tidak ada lagi sorot mata galak yang menghunus; yang ada hanyalah tatapan hampa, kosong, dan remuk redam dari seorang manusia yang kalah telak oleh keadaan.
"Boleh... Bapak masuk, Lik?" suara Pak Jaka parau, hampir berbisik, memecah kesunyian malam yang pekat.