Dunia di luar sana berjalan di atas meja-meja makan restoran mewah ber-AC, di mana mangkuk-mangkuk porselen berkilau dipenuhi sisa makanan mahal yang dibuang begitu saja ke tempat sampah tanpa secuil rasa berdosa, tanpa tahu bagaimana rasanya perut yang melilit karena hari-hari dilewati hanya dengan menelan ludah. Namun di dalam gubuk tempat tinggal tiga orang melarat, hidangan tersaji bukan sebagai perayaan hidup, melainkan sebagai bentuk perlawanan paling suci, paling luar biasa, dan paling mengharukan terhadap maut.
Malam itu, Malik dan Panji pulang membawa jarahan paling berharga dari hari yang meremukkan tulang-belulang mereka.
Malik membawa sekantong plastik keruh berisi kerak nasi, bagian paling dasar dari penanak nasi warung soto tempatnya bekerja, yang menguning gosong, mengeras bagai batu kerikil, dan sebagian berkerak hitam karena tersengat panas berlebih di dasarnya. Hari-hari belakangan ini, kesialan beruntun membuat nasi di warung tegal dan soto selalu ludes tanpa sisa sebelum jam kerja berakhir, memaksa Malik menahan malu, memohon dengan kepala tertunduk dalam-dalam kepada pemilik warung sekadar untuk meminta sisa kerak yang menempel dan hampir dibuang ke tempat sampah.
Sementara Panji, dengan langkah kaki yang diseret keletihan luar biasa hingga jalannya bagai menggaruk lantai, mengeluarkan sebuah bungkusan kertas minyak kumal dari balik bajunya agar benda itu diharapkan tetap hangat. Bungkusan nasi yang sudah mengering itu ia temukan secara tidak sengaja di pinggir halte bus, jatuh dari keranjang motor seorang pengendara yang lewat tergesa-gesa. Setelah Panji meniup debu aspal jalanan yang pekat dan mengelap bagian luar kertas yang kotor, bagian dalamnya itu ternyata masih utuh, suci, dan layak untuk diselamatkan dari kebinasaan.
Lauk pauk kaum pinggiran malam itu begitu sederhana, namun menyimpan aroma kepedihan yang diracik langsung oleh tangan-tangan takdir yang kejam.
Beberapa potong tahu dan tempe sisa kemarin sore yang sudah mulai mengeluarkan bau asam menyengat dan nyaris basi, direbus ulang bersama larutan garam yang sangat pekat dan begitu asin hingga membakar lidah, juga semata-mata untuk membunuh bakteri serta menyamarkan rasa busuk yang menguar dari makanan tersebut. Di samping itu, ada sekeping kerupuk melempem, kerupuk putih warung yang sudah masuk angin, lembek tak berdaya, lalu disiram sedikit sisa kuah soto dingin agar mengembang lunak dan bisa dikunyah sebagai pengganti lauk pelengkap yang hampa.
Dan sebagai mahkota kemewahan malam itu: sebutir telur dadar air.
Hanya satu butir telur ayam ras berukuran kecil. Dengan keputusasaan seorang juru masak jalanan yang tidak punya pilihan, telur itu dikocok bersama satu gelas penuh air putih bening dan sejumput tepung terigu murahan hingga adonannya memuai encer, membentang tanpa substansi. Ketika tadi digoreng di warung tegal pada wajan tipis berlumur sedikit minyak goreng, adonan itu melebar selebar tapak tangan, menciptakan lapisan telur yang setipis kertas, yang kemudian dengan hati-hati dipotong menjadi tiga bagian besar agar adil dibagi rata untuk mereka bertiga di bawah tatapan mata lapar.
Di tengah kesiapan hidangan nestapa itu, semesta mendadak mengirimkan satu lagi keajaiban kecil dari orang-orang yang bernasib serupa.
Pak Galih datang membawa riuh napas tersengal-sengal. Lelaki paruh baya pedagang gorengan itu menenteng sebuah meja kayu bekas lapak jualannya yang sudah usang, meja tripleks berkaki empat yang tidak rata, yang salah satu kakinya harus diganjal menggunakan pecahan batu bata merah agar tidak oleng ketika ditekan. Dan juga dua buah kursi kayu kecil yang kelihatan sama usangnya. Pak Galih tidak sengaja lewat sehabis berdagang, dan karena ia baru saja membeli gerobak meja baru yang lebih layak, ingatan kelamnya langsung tertuju pada Pak Sartoni yang terbaring sekarat di gubuk.
"Daripada dibuang atau buat kayu bakar, lebih baik ditaruh di sini, Lik. Biar bapak kalian bisa menaruh obat atau piring tanpa harus dipegangi terus," ujar Pak Galih singkat dengan suara serak, sambil meletakkan meja dan kursi itu di tengah-tengah gubuk, lalu bergegas pergi begitu saja tanpa menunggu ucapan terima kasih keluar dari mulut mereka.
Kini, di atas meja tripleks yang kakinya diganjal batu bata merah itu, tersusunlah tiga piring plastik butut berwarna hijau pudar. Piring itu juga pemberian Mbak Sri beberapa waktu lalu, yang sudah tergores-gores pisau. Malik menumpahkan gumpalan kerak nasi kekuningan yang keras di piring tengah. Panji meletakkan tahu asam bergaram pekat dan kerupuk melempem yang sudah disiram kuah di piring satunya. Dan di piring terakhir, selembar telur dadar air yang tipis membentang bagai lukisan abstrak penderitaan manusia kota.
Pak Sartoni, dengan tubuh yang terbungkus selimut tipis penuh tambalan dan tangan bergetar hebat bagai dahan kering diterpa badai, duduk bersandar di kursi kayu kebanggaan tempat ia biasa duduk. Ia mencoba menarik senyuman paling tulus di hadapan kedua anaknya, mencoba meredam rasa sakit di dadanya yang kian mendesak.
Dengan jemari tuanya yang keriput kehitaman, Pak Sartoni mencoba menyuap butiran kerak nasi yang keras itu. Giginya yang tinggal beberapa kerat kesulitan mengunyah tekstur nasi yang mengeras bagai batu kerikil. Tiba-tiba, sebutir kerak nasi yang keras terlepas dari bibirnya yang kering dan pecah-pecah, memantul kecil, lalu jatuh menggelinding bebas ke atas permukaan meja yang berdebu.
Panji, dengan refleks anak muda yang darahnya masih mendidih tak sabaran, hendak menyapu butir nasi kecil itu menggunakan sentilan jari untuk dibuang ke lantai.