Kematian, di mata orang-orang elit yang tinggal di balik tembok tinggi perumahan mewah, barangkali hanyalah sebuah agenda kedukaan yang diatur rapi oleh agen pemakaman komersial, diurus oleh tangan-tangan profesional yang dibayar dengan harga jutaan rupiah untuk meredam bau busuk dunia. Namun bagi kaum pinggiran, bagi makhluk-makhluk buangan yang berimpit-impitan di sepanjang rel kereta api yang bopeng oleh jelaga dan debu jalanan, kematian adalah bencana finansial yang jauh lebih mengerikan, jauh lebih mematikan, dan jauh lebih menghinakan daripada maut itu sendiri: ia adalah tagihan raksasa yang siap merampas sisa-sisa terakhir dari jasad orang yang tercinta.
Jauh sebelum batuk berdarahnya merenggut nyawa di hadapan Malik dan Panji, jauh sebelum tubuh kurusnya menyerah di atas kasur tipis, Pak Sartoni telah hidup dalam teror yang membakar ubun-ubunnya setiap detik.
Ia masih terngiang-ngiang pada memori paling keji di masa lalu, ketika maut merenggut istri tercinta dan anak perempuannya di sebuah sudut di ujung kota. Tanpa sisa sepeser pun uang logam di kantongnya saat itu, ia terpaksa menjadi pengemis kehormatan. Berlutut di atas tanah berlumpur, mencium kaki rentenir, dan memohon-mohon belas kasihan pengurus makam agar jasad orang-orang yang disayanginya tidak dibuang begitu saja ke liang kubur tanpa nama, tanpa nisan, tanpa doa.
Kehinaan itu tidak pernah sembuh; ia bernanah di dalam sanubarinya, menjadi racun yang menggerogoti jiwanya setiap kali menatap langit luas yang angkuh.
Semenjak mereka terlempar ke gubuk liar di pinggir rel ini, Pak Sartoni bergerak diam-diam, bagaikan seorang pencuri yang merencanakan penebusan dosa di tengah malam buta. Di tengah perut yang sering melilit lapar, di tengah ketiadaan pakaian ganti, ia dengan sabar menyisihkan uang sepuluh ribu rupiah setiap bulan. Uang receh itu ia kumpulkan dengan susah payah dari hasil menjual botol-botol plastik bekas di tempat pembuangan, melipat kardus martabak, sampai upah mengupas bawang yang ia sembunyikan rapat-rapat dari kedua anaknya.
Ia sedang membeli sebuah kepastian mutlak yang dinamakan Tabungan Kubur. Sebuah arisan makam atau yang di perkampungan padat Jakarta dikenal sebagai Rukun Kematian, dikelola secara swadaya oleh pengurus masjid jami' tingkat RW setempat.
Di kota metropolitan ini, di mana tanah untuk mati harganya jauh lebih mahal dan tidak masuk akal daripada napas orang hidup, arisan makam adalah benteng pertahanan terakhir kaum buangan. Warga miskin menyetor iuran rutin Rp10.000 hingga Rp20.000 per bulan agar kelak, ketika jasad mereka kaku, ada sepetak tanah liat yang menanti tanpa harus membuat anak cucu mereka menjual ginjal atau berutang pada lintah darat berkedok koperasi simpan pinjam.
Namun, matematika kemiskinan tidak pernah berjalan lurus dengan harapan manusia. Pak Sartoni baru tercatat mengikuti arisan kematian itu selama satu tahun penuh. Total uang yang masuk ke kas pengurus baru menyentuh angka dua ratusan ribu rupiah, sebuah nominal yang terasa seperti remah debu, tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan biaya pemulasaraan jenazah komplit di Jakarta yang bisa menembus angka Rp1.500.000. Biaya itu mencakup kain kafan putih bersih, keranda mayat, sewa ambulans karatan, hingga upah penggali kubur yang mencangkul tanah keras.
Secara logika birokrasi, Pak Sartoni masih memiliki utang penguburan yang menumpuk setinggi langit. Di atas kertas administrasi masjid, ia adalah debitur yang gagal melunasi kewajibannya.
Tapi di dunia kaum bawah, di lorong-lorong sempit tempat kemanusiaan diuji sampai titik darah penghabisan, ada hukum lain yang jauh lebih tinggi, jauh lebih agung daripada pembukuan administratif: hukum solidaritas penderitaan dan kasih sayang umat.
Malam itu, tepat ketika isak tangis Malik dan Panji meledak merobek kesunyian gubuk, pintu reyot tersebut diketuk perlahan dari luar. Pak Haji Latif, ketua pengurus masjid setempat, bersama tiga orang pengurus masjid berdiri di ambang pintu dengan wajah basah oleh peluh malam dan duka yang mendalam. Mereka tidak datang untuk menagih sisa utang; mereka datang untuk menepati janji langit.
"Sudah, Nak... ikhlaskan bapak kalian," bisik Pak Haji Latif parau, suaranya bergetar menahan tangis saat ia melangkah masuk dan merangkul Malik yang masih gemetar memeluk jasad kaku ayahnya. "Almarhum orang baik. Selama setahun ini, meskipun hidupnya compang-camping dan sering telat makan, Beliau tidak pernah absen menitipkan iuran kuburnya lewat marbot masjid. Beliau selalu menyapa warga dengan senyum, tidak pernah berbuat jahat pada siapa pun di kampung ini."
Pak Haji Latif menatap para pengurus masjid di belakangnya, lalu mengangguk mantap tanpa ragu.
Kekurangan biaya pemakaman yang mencapai jutaan rupiah itu seketika ditutup sepenuhnya menggunakan bantuan dana zakat dan infaq darurat masjid. Berkat kepatuhan almarhum yang merawat iurannya di tengah kelaparan, serta kemuliaan kecil yang ia tinggalkan di hati para tetangga, Pak Sartoni berhak mendapatkan apa yang selama ini dirampas oleh dunia yang kejam: sebuah kematian yang bermartabat, bersih, dan terhormat.
"Mas... kita harus ikhlas..." Panji terisak hebat, air matanya menetes di tangan almarhum ayahnya yang kini benar-benar mendingin. "Bapak... ternyata sudah menyiapkan semuanya buat kita. Bapak tidak meninggalkan beban."