SEBUTIR NASI DI MEJA MAKAN ORANG-ORANG

Aga Lesmana
Chapter #25

Bab 25: Balas Budi Anak-Anak dan Secuil Kemenangan

Kematian seorang manusia miskin biasanya datang dan pergi tanpa meninggalkan bekas sedikit pun. Ia bagaikan debu jalanan yang diterbangkan angin lalu di antara tiang-tiang beton tol yang angkuh, lenyap tanpa ada satu pun manusia berjas yang sudi menoleh. Namun di sepanjang jalur rel kereta api kumuh yang berbau got dan batu bara, takdir merajut jalannya sendiri dengan cara yang menyayat hati namun indah dipandang.

Ketika bendera kuning yang pudar dan kusam akhirnya berkibar lemah di depan daun pintu gubuk reyot itu, menandakan napas terakhir Pak Sartoni telah resmi dirampas semesta, anak-anak kecil dari perkampungan rel berhamburan keluar dari sarang-sarang kardus dan gubuk tetangga.

Otong dan Ulan berdiri terpaku di ambang pintu. Usia mereka belum sampai sepuluh tahun; akal kecil mereka yang masih belia belum sepenuhnya mampu merangkai makna abstrak dari kata "kematian". Mereka tidak mengerti ke mana Pak Sartoni pergi, mengapa kakek yang biasanya duduk di depan pintu sambil tersenyum ramah dan memberikan botol plastik bekas untuk mereka bawa itu kini terbujur kaku di dalam keranda tertutup kain kafan, dan mengapa Malik serta Panji menangis begitu hebat hingga dada mereka terguncang-guncang bagai dihantam balok kayu keras.

Tetapi insting kemanusiaan yang paling murni, yang tidak pernah diajarkan di bangku sekolah elit mana pun, tidak pernah buta huruf. Otong dan Ulan tahu persis dengan seluruh jiwa raga mereka: lelaki di dalam keranda kayu itu adalah satu-satunya manusia dewasa yang tidak pernah mengusir mereka, yang sering memanggil mereka dengan suara serak penuh kasih di tengah terik siang, dan orang yang paling sabar memilah botol-botol plastik bekas dari tumpukan sampah demi menyambung nyawa.

Tanpa ada yang memerintah, tanpa ada komando dari ketua RT atau aparat kelurahan, sebuah pemandangan yang meremukkan tulang-belulang dada terjadi di sepanjang jalur rel kereta api.

Puluhan anak-anak pemulung kecil, pasukan kotor berwajah dekil dan belepotan arang yang setiap hari bergelut dengan bau comberan, datang berkumpul dan merapat dalam keheningan yang mencekam di pinggir rel. Mereka membawa senjata paling sederhana yang mereka miliki: sapu lidi tua yang separuh batangnya sudah patah, ranting-ranting kering berduri, dan tangan-tangan mungil yang gemetar menahan embusan angin.

"Jangan pada rame! Jangan ada yang berisik!" bisik Otong kepada teman-teman sebayanya dengan suara serak yang parau, matanya yang belepotan debu menatap tajam ke arah keranda yang mulai diangkat ke atas bahu para tetangga. "Kakek mau lewat. Jalurnya harus dibersihkan! Jangan sampai ada yang bikin Kakek kesandung!"

Dengan cekatan, ketangkasan, dan kehati-hatian yang luar biasa, anak-anak kecil itu berjongkok di atas jalan setapak berbatu kerikil tajam di sepanjang rel. Mereka menyapu bersih helai-helai daun kering yang berserakan, menyingkirkan pecahan botol kaca bekas bensin eceran yang bisa merobek alas kaki, dan meratakan setiap jengkal tanah berlubang agar para pembawa keranda bisa melangkah dengan mulus tanpa ada satu pun yang terpeleset di atas jalur kematian tersebut.

Itu adalah barisan pengawal kehormatan paling miskin dan kotor, namun mengharukan yang pernah disaksikan oleh kolong langit bumi ini. Sebuah upacara militer jalanan yang diselenggarakan bukan oleh jenderal berbintang, melainkan oleh anak pemulung yang pernah dibahagiakan oleh kepingan-kepingan plastik Pak Sartoni.

Di tengah barisan pelayat yang berjalan pelan menembus terik matahari yang memanggang kepala, langkah kaki Malik dan Panji mendadak terhenti seketika.

Mata Malik membelalak basah, dikaburkan oleh genangan air mata yang tumpah ruah tanpa bisa dibendung. Tenggorokannya terasa tercekat, seolah disumpal oleh serpihan kaca tajam, diserang oleh gelombang haru yang begitu dahsyat hingga sekujur tubuhnya bergetar hebat. Ia melihat Otong dengan khidmat menyapu batu-batu kerikil di depan jalan mereka, sementara Ulan dengan hati-hati menyingkirkan ranting berduri agar kain kafan keranda tidak tersangkut barang secuil pun.

Suara hati bergolak getir di lubuk dada Malik, menghujam tajam dan meremukkan jiwa hingga seakan-akan hendak merenggut jantung dari ikatan raganya.

Lihatlah ke bawah, Pak... batin Malik menjerit lirih dalam kepedihan yang menyengat ubun-ubun, air matanya meleleh deras membasahi pipinya yang kuyu dan berdebu. Bapak tidak punya sepeser pun harta untuk diwariskan kepada kami. Bapak tidak punya rekening bank di gedung pencakar langit, tidak punya rumah mewah berpagar besi, tidak punya kuasa untuk menyogok takdir. Tapi lihatlah anak-anak kecil itu... mereka membersihkan jalan untuk kepulangan Bapak bukan karena dibayar dengan uang, melainkan karena kebaikan kecil yang Bapak tanam lewat botol-botol plastik kumuh semasa hidup. Kebaikan itu telah mendarah daging dan menjelma menjadi suci di hati mereka. Di hadapan semesta ini, Bapak adalah orang terkaya yang pernah hidup.

Panji, yang berjalan di sisi lain keranda sambil mencengkeram erat sudut usungan bambu hingga buku-buku jarinya memutih, menundukkan kepalanya dalam-dalam hingga dagunya hampir menyentuh dada. Giginya bergemeretak menahan isak tangis yang mendesak naik membakar kerongkongan. Matanya yang merah menyala menatap punggung kecil Otong yang sedang membungkuk menyapu tanah berdebu.

Benar kata orang, kebaikan tidak akan pernah mati terkubur, Pak... bisik batin Panji dalam keheningan jiwanya yang kini terasa berdarah-darah. Bapak mengumpulkan botol plastik bekas buangan orang kaya, juga dipandang hina dan diinjak-injak sebagai orang tidak punya. Tapi dari botol-botol sampah itulah, Bapak membangun istana di hati anak-anak kecil ini. Hari ini, mereka bukan cuma menyapu jalanan buat keranda Bapak... mereka sedang menunjukkan ke seluruh kota ini kalau Bapak pergi sebagai seorang raja di atas rel kereta.

Para pelayat di belakang mereka ikut terdiam seribu bahasa. Mereka menelan ludah yang terasa pahit di lidah, meresapi kegetiran hidup yang berbalas kemuliaan murni. Tidak ada suara isak tangis yang meraung-raung merobek udara; yang terdengar hanyalah gesekan lembut sapu lidi di atas tanah berdebu, berpadu sempurna dengan deru angin rel kereta api yang berbisik lirih mengiringi kepulangan seorang pejuang sejati.

Lihat selengkapnya