SEBUTIR NASI DI MEJA MAKAN ORANG-ORANG

Aga Lesmana
Chapter #26

Bab 26: Spiritualitas yang Getir

Dunia tidak pernah ditulis dengan tinta kemurahan hati bagi mereka yang terlahir di sisi tergelap sejarah. Di balik megahnya gedung pencakar langit yang merobek awan dan menyemburkan cahaya neon, jutaan manusia bergerak bagai roda penggerak kapitalisme: bekerja tanpa henti, memeras keringat, dan membiarkan jerit kaum papa tenggelam dalam sunyi.

Dua pemuda tanggung dengan tenaga sekuat baja itu saling menopang hidup. Mereka melampaui rasa sakit yang terus merangsek dan mencoba merobohkan asa. Malik dan Panji tetap menjalani hari-hari sebagai pesakitan yang tak berdarah. Bukan karena mereka menanti keajaiban fana yang datang menyapa, atau berharap pangeran berkuda putih berderap membawa sekarung uang. Sebab, mereka tahu persis: tidak ada undian berhadiah yang mampu membalikkan nasib dalam semalam. Mukjizat murahan semacam itu tidak akan pernah tiba-tiba turun untuk membasuh kaki mereka dengan kemilau yang membutakan.

Secara kasatmata, di hadapan neraca ekonomi dunia yang biadab, mereka adalah pecundang mutlak. Sangat mutlak dari segi manapun. Dua anak muda buangan yang tidak memiliki apa-apa. Tanpa warisan, koneksi, pelindung, dan bahkan masa depan.

Namun, tepat di atas reruntuhan hidup yang paling nista dan memuakkan itulah, sebuah pertempuran batin yang jauh lebih dahsyat daripada perang dunia sedang berkecamuk. Di sanalah letak kemenangan yang paling gila dan menghujam menembus kerasnya dada: kemenangan mutlak di dalam jiwa manusia.

Ketika dunia berusaha dengan segala cara untuk meremukkan kepala mereka ke dalam lumpur godaan melakukan kejahatan, ketika rasa lapar mendesak mereka sekadar merampas hak orang lain atau menjual diri demi lembaran uang haram, Malik dan Panji memilih untuk melakukan tindakan berdasarkan moral untuk disajikan bagi muka bumi: mereka menolak menyerah. Mereka saling menggenggam tangan satu sama lain dengan jemari yang penuh luka goresan, meneguhkan ikatan darah di atas jurang kematian, dan di situlah esensi kemanusiaan tertinggi menyala terang, membakar kegelapan malam yang tiada berjiwa.

Cara pandang mereka terhadap sebutir nasi telah mengalami metamorfosis yang begitu sakral, begitu magis, hingga membuat bulu kuduk merinding.

Nasi yang mereka terima bukan lagi sekadar instrumen biologis untuk meredam rasa perih di perut yang melilit. Nasi telah berubah wujud menjadi sebuah meterai suci. Sebuah prasasti kecil yang membuktikan bahwa jiwa mereka berhasil dijaga tetap bersih dan tidak tersentuh oleh noda kejahatan sedikit pun.

Dan kehidupan memberikan pemahaman di setiap waktu dengan cara yang hampir tidak mampu masuk dalam logika manusia yang sempit.

Kini di hadapan Panji, puncak gunungan kecil nasi hangat yang dibeli dari hasil keringat kemarin, terselip sebutir nasi berwarna kuning yang berdiri tegak. Berbanding terbalik dengan hari kemarin, di mana sebutir putihlah yang berdiri seorang diri.

Sedangkan di seberang meja, Malik memperhatikan butiran nasi itu dengan sorot mata yang begitu tenang dan dalam, seolah ia sedang menatap bentangan semesta di sebuah tempat yang tidak semestinya.

"Nji..." suara Malik memecah keheningan malam yang tenang. "Makanlah. Setiap suap yang masuk ke tubuh kita malam ini... itu dibeli dengan keringat yang paling jujur. Tangan kita bersih, Nji. Nasinya juga. Setelah sekian lama kita akhirnya bisa makan nasi hangat, meredakan rasa dingin tubuh."

Panji menatap Malik tanpa berkedip. Uap tipis yang mengepul pelan dari piring butut itu naik ke udara, membubung lambat melewati celah-celah atap seng yang bolong, menyerupai kepulan doa-doa tanpa suara yang merangsek naik menembus langit malam yang pekat.

Bagi mereka, remah nasi sisa maupun nasi hangat sama saja, karena bulir-bulir itu bukan sekadar makanan bekas belas kasihan manusia. Itu adalah bahan bakar yang dikirimkan langsung oleh tangan dari atas langit. Sebuah "jawaban nyata" bahwa Sang Pencipta menyuapkan perpanjangan kontrak hidup untuk detak jantung, agar napas mereka tetap berembus, dan agar sisa-sisa manusia di dalam dada mereka tidak mati terkubur.

Harta kekayaan fana dari surga adalah sederhananya bentuk yang jauh lebih agung. Ia ada dalam bentuk ketahanan mental Malik yang menolak menjadi seorang kriminal jalanan, dan dalam bentuk kesetiaan Panji yang menolak meninggalkan gubuk itu demi mencari jalan pintas yang kotor.

"Iya, Mas..." bisik Panji, matanya memancarkan keteguhan baja murni yang mungkin sanggup membuat badai mereda seketika.

Kakak beradik itu merapatkan kedua telapak tangannya, memejamkan mata sesaat, merapal doa syukur yang diajarkan oleh kepahitan hidup yang teramat sangat. Kemudian mereka mengangkat sendok plastik dan menyuap nasi hangat itu perlahan-lahan ke dalam mulut, mengunyahnya dengan khidmat seolah sedang menelan sebutir mutiara surga.

Lihat selengkapnya