SEBUTIR NASI DI MEJA MAKAN ORANG-ORANG

Aga Lesmana
Chapter #27

Bab 27: Eksekusi Penggusuran Tanpa Demo dan Kemenangan Besar Kaum Pinggiran

Dua minggu berlalu dalam keheningan yang mencekik tenggorokan, bergulir bagai tetesan air asam yang mengikis dinding lambung secara perlahan namun pasti. Waktu yang diberikan oleh sisa-sisa iba seorang komandan lapangan kini telah habis tenggelam di dalam fajar yang kejam.

Hari eksekusi itu datang tanpa aba-aba yang dramatis atau tembakan suar ke udara. Ketika matahari pagi belum sepenuhnya sempat menghapus kabut jelaga dan bau comberan di sepanjang jalur rel kereta api, deru mesin diesel berkapasitas raksasa memecah udara dengan suara menggelegar yang menggetarkan isi bumi. Monster besi itu telah tiba: dua unit ekskavator raksasa berwarna kuning menyala, dikawal oleh ratusan petugas gabungan dari Satuan Polisi Pamong Praja, kepolisian huru-hara, dan aparat keamanan PT Kereta Api Indonesia (KAI) yang berbaris rapat membawa pentungan dan tameng penggusuran.

Namun, apa yang paling mencengkeram dan paling menggetirkan dari pagi itu adalah apa yang tidak terjadi di sana.

Tidak ada aksi bakar ban bekas di tengah jalan rel. Tidak ada lemparan batu bata dari warga yang marah atau mengamuk membabi buta. Tidak ada teriakan histeris ibu-ibu yang menjambak rambut mengejar petugas, dan tidak ada pula perkelahian brutal menggunakan balok kayu atau kelewang.

Warga pinggiran rel itu sudah terlalu lelah, terlalu remuk redam, terlalu hancur, dan terlampau kehabisan darah untuk sekadar mengangkat senjata melawan hukum negara yang selama hidup mereka tidak pernah sekalipun berpihak kepada orang miskin. Mereka tahu persis di mana posisi mereka di hadapan undang-undang positif: secara legalitas, penggusuran itu seratus persen sah, mutlak, dan tidak terbantahkan di mata hukum negara maupun hukum korporasi. Lahan tempat mereka membangun gubuk reyot, tempat mereka menangis, tidur, dan merajut sisa-sisa napas selama bertahun-tahun itu adalah aset negara di bawah penguasaan mutlak PT KAI, yang harus dibersihkan total demi proyek strategis nasional dan perluasan jalur ganda kereta api.

Mengapa proyek itu tidak langsung meratakannya sejak bulan-bulan lalu? Mengapa ada jeda waktu yang panjang, berdarah-darah, dan melelahkan?

Semua itu bukan karena negara atau pengembang berbaik hati kepada kaum papa, melainkan karena roda birokrasi yang dingin dan kaku: proses panjang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) yang berbelit-belit, sengketa anggaran tender antar-kontraktor swasta yang saling sikut di balik meja hijau ber-AC, hingga instruksi terselubung dari pihak kelurahan untuk menempuh jalur persuasif, yaitu mengirimkan Surat Peringatan pertama hingga ketiga yang semata-mata untuk meredam sorotan media massa agar tidak ada LSM Hak Asasi Manusia yang berteriak nyaring di televisi dan mencoreng nama baik investor.

Jeda birokrasi yang penuh siasat busuk itu, ironisnya, adalah celah waktu yang diberikan semesta agar almarhum Pak Sartoni sempat menutup matanya dengan tenang di atas kasur usang, menyelamatkan lembaran uang kumal di bawah bantal, dan pergi mendahului kehancuran ini tanpa harus melihat gubuknya diinjak-injak besi tua.

Alat berat yang datang merayap hari itu seharusnya bila semesta memiliki secuil nurani, sekalian dapat mengeruk seluruh dosa, keserakahan, kemunafikan, dan bau busuk dari kota metropolitan ini. Namun ia hanya meratakan gubuk-gubuk tripleks menjadi hamparan tanah kosong yang rata dengan debu.

Di tengah puing-puing kayu dan lembaran seng yang terlipat paksa, Malik dan Panji berdiri berdampingan. Masing-masing memanggul sebuah karung goni berisi barang lusuh dan piring plastik butut. Harta duniawi yang masih mereka miliki di bawah langit luas ini.

Cakar besi ekskavator itu mengayun perlahan, mengerang ngeri, lalu menghantam dinding gubuk mereka dengan suara “krak” yang memilukan tulang. Dalam hitungan detik, tempat di mana ayah mereka mengembuskan napas terakhirnya, tempat di mana mereka menyantap nasi sisa dengan penuh air mata dan doa, hancur lebur menjadi serpihan kayu yang tak berbentuk lagi.

Namun, tidak ada air mata putus asa yang jatuh dari mata Malik maupun Panji. Yang ada hanyalah ketenangan, sekuat baja paling keras yang ada di muka bumi.

Malik melangkah maju meninggalkan karung goni yang dipikulnya di atas tanah. Ia berjalan mendekati Pak Jaka dan komandan petugas Satpol PP yang berdiri mengawasi pembongkaran dengan wajah tegang bersimbah peluh.

Dengan tangan kosong yang bersih dari noda permusuhan atau dendam kesumat, Malik menjabat tangan kedua pria berseragam itu satu persatu dengan keikhlasan yang teramat sangat, menghujam langsung ke ulu hati.

"Terima kasih, Pak," ucap Malik, suaranya tenang, datar, namun menggetarkan udara di sekitarnya. "Sudah mengizinkan kami menumpang teduh di sini selama beberapa waktu. Maaf kalau keberadaan kami selama ini banyak menyusahkan bapak-bapak sekalian."

Panji menyusul di belakang kakaknya. Ia membungkuk hormat, lalu meraih tangan komandan petugas dan menyalaminya dengan senyuman paling tulus di dunia yang kejam ini.

Lihat selengkapnya