Utang darah dan rupiah adalah rantai kasatmata yang dikencangkan di leher kaum tak punya. Bagi Bang Pitak yang berwajah dingin dan menguasai lorong-lorong gelap perkampungan kumuh, nyawa manusia tidak memiliki bobot, tetapi lembaran uang kertas dengan bunga mencekik adalah kitab suci yang tidak boleh dicoreng sedikit pun.
Di balik kepergian Pak Sartoni yang merobek dada, takdir menyisipkan sebuah kenyataan yang teramat sangat getir: kematian itu secara otomatis menghentikan pengeluaran terbesar yang selama ini memeras sisa-sisa sumsum tulang Malik dan Panji. Tidak ada lagi resep obat paru-paru yang harganya membakar isi kantong. Dan setelah pindah dari gubuk mereka pun tidak lagi membayar listrik ilegal untuk Pak Deni yang dihargai mahal. Kematian dan apa yang terjadi setelahnya justru memberi sepetak ruang napas finansial bagi dua anak muda yang nyaris mampus digencet zaman.
Sisa utang pokok almarhum Ridwan kepada Bang Pitak tercatat tegas di atas kertas lecak bergaris: Rp 3.000.000. Sebuah angka yang bagi para pejabat di gedung tinggi hanyalah biaya makan siang satu jam, tetapi bagi Malik dan Panji adalah gunung batu yang harus dipindahkan dengan telapak tangan telanjang.
Mereka tidak melarikan diri. Mereka tidak menghilang ditelan malam.
Setiap hari, Malik menyisihkan remah-remah uang dari upah hariannya bekerja di warung soto dan warung tegal. Di sudut lain kota, Panji memeras sisa-sisa tenaga mudanya, memikul puluhan galon air berat yang menekan otot bahunya hingga lebam kemerahan, menyisihkan lembaran lima sampai sepuluh ribuan yang lembap oleh keringat murni.
Lalu, setiap malam Minggu tiba, di saat anak-anak muda lain menyusuri jalanan untuk menghamburkan uang demi kesenangan fana, Malik dan Panji melangkah bersama menuju markas Bang Pitak. Mereka menyetorkan tepat Rp100.000 setiap pekan. Uang kertas lecak, lusuh, dan terkadang berbau amis air cuci piring serta keringat setelah mengangkat galon, diserahkan dengan jemari yang gemetar namun kepala tegak.
Delapan bulan berlalu dalam siksaan kedisiplinan baja. Sekitar setengah tahun lebih mereka bertarung menahan diri dengan tetap kukuh menghemat bila lapar dan dahaga, memisahkan hak perut mereka dari kewajiban melunasi kehormatan keluarga.
Hingga pada satu malam Minggu yang paling dingin, selembar uang seratus rupiah terakhir diletakkan Malik di atas meja kayu milik Bang Pitak.
Bang Pitak menatap lembaran uang itu, lalu melirik catatannya yang telah dicoret merah. Mata lelaki paruh baya yang biasanya buas dan tanpa ampun itu perlahan meredup. Ia mendongak, menatap Malik dan Panji yang berdiri berdampingan dengan pakaian lusuh berbau dapur dan teriknya jalanan.
"Lunas, Nji... Lik," suara Bang Pitak terkurung di tenggorokan, terdengar tak percaya. "Gua udah puluhan tahun megang uang orang di daerah sini. Biasanya kalau keluarganya mati, yang masih tersisa kabur atau jadi rampok. Tapi lu berdua... lu berdua nyicil seratus ribu setiap minggu tanpa absen sekali pun."
Panji tersenyum tipis, sebuah senyuman jernih yang memancarkan keikhlasan mutlak dari kedalaman jiwanya.
"Terima kasih sudah mau sabar, Bang," ucap Panji tenang, suaranya kini tenang, mirip seperti Malik. "Almarhum Bapak tidak pernah mengajarkan kami makan uang haram. Kami cuma mau tidur tenang tanpa ada bayang-bayang utang yang mengejar kami di alam kubur."
Panji sedikit menunduk sebagai tanda hormat pada Bang Pitak. Ia menatap lelaki di hadapannya dengan pandangan yang tak lagi menyimpan dendam.
"Maafkan Mas Ridwan juga, Bang. Semoga Abang berkenan," sambung Panji lirih namun mantap. "Catatan utang itu bisa dibakar sekarang. Keluarga kami resmi bebas dari Abang."
Bang Pitak terdiam seribu bahasa. Tangan kasarnya yang biasa memukul meja kini meremas kertas catatan itu, lalu merobeknya menjadi serpihan kecil di hadapan mereka. Untuk pertama kalinya, seorang lintah darat berwajah keji menundukkan kepala di hadapan keagungan moral dua anak pinggiran.
Malam itu, saat mereka kembali memanjat tangga kayu vertikal menuju kamar loteng sempit di kawasan Tambora, atmosfer udara terasa berbeda. Beban yang selama ini menindih pundak Malik dan Panji seolah menguap menembus atap seng yang membara.
Namun, kemenangan itu tidak membuat mereka lupa diri. Kebiasaan menyisihkan uang harian tidak mereka hentikan.
Di pojok kamar loteng yang gelap dan pengap, bersemayam sebuah benda sederhana yang dibeli Panji dari pedagang mainan keliling seharga sepuluh ribu rupiah: sebuah celengan plastik murah berbentuk ayam berwarna merah menyala.
Uang patungan upah harian yang biasanya disetorkan ke Bang Pitak, kini rutin dimasukkan ke dalam lubang sempit di punggung ayam plastik tersebut.