Blurb
Winaya Verani tak menyangka jikalau satu kebodohan dari rasa paniknya membuat suaminya pergi untuk selama-lamanya. Semenjak kepergian pria yang sangat ia cintai, Winaya merasa tak ada lagi tempatnya untuk bersandar. Bahkan ia harus rela menjadi satu-satunya tumpuan bagi putrinya yang berusia dua tahun. Ingin pulang ke rumah takut merepotkan orang tuanya. Namun jika bertahan di rumah suaminya, malah mendapat tekanan dari mertuanya.
Hanya satu hal yang dapat Winaya lakukan untuk melepas rindunya akan afeksi suaminya yang begitu dalam ia cinta. Secangkir kopi yang ia letakkan di depan sebuah jendela, tempat suaminya menyelesaikan pekerjaannya.
Haruskah Winaya tetap bertahan di rumah penuh dengan luka? Atau melepas semua afeksi suaminya dengan mencari sandaran yang baru?