SECANGKIR KOPI DAN AFEKSIMU

Mona Cim
Chapter #1

KEBODOHANKU MERENGGUT NYAWAMU

Isak tangis seorang wanita di depan makam yang masih sangat baru itu terdengar sangat memilukan. Ia menutupi wajahnya dengan selendang hitam yang tersampir di kepala hingga punggungnya. Berharap air mata kesedihan itu tak menetes pada makam suaminya yang baru saja meninggal dunia.

"A-aku bener-bener minta maaf, Mas Renand. Aku bodoh banget Ya Allah ... maafin aku, Mas. Maafin aku," ucapnya di sela tangisan yang semakin sarat akan penyesalan yang mendalam.

"H-harusnya aku nggak telepon kamu. Harusnya aku mampu hadapin a-anak kita yang sakit sendiri. Tapi aku malah telepon kamu. Kamu pasti khawatir banget, ya, sampai ngebut gitu? Maafin aku ya, Mas. Aku minta maaf," ucap wanita itu lagi yang kini memeluk nisan sang Suami.

Wanita itu adalah Winaya Verani, ibu satu anak yang masih berusia dua puluh delapan tahun. Wanita berkulit putih dan berparas ayu itu terus saja menyesali kebodohannya tadi malam.

Waktu itu, putrinya yang berusia dua tahun bernama Reya Wulandari, mengalami kejang-kejang karena suhu tubuh yang begitu tinggi. Winaya yang baru kembali dari kamar mandi, langsung berteriak histeris melihat tubuh putrinya terlonjak-lonjak dengan cepat. Kepanikan Winaya membuat wanita itu langsung menelepon sang Suami yang hari ini lembur bekerja di kantor. Renandi Afsandika-suami Winaya-pun ikut panik. Ia mengatakan akan pulang sekarang dan menghubungi dokter segera.

Lima belas menit berlalu dokter datang dan menangani Reya di kamarnya. Mertua Winaya yang tinggal serumah dengan Winaya pun kaget melihat kedatangan dokter.

"Ada apa, Wina? Kok ada dokter datang ke rumah?" tanya ibunda dari Renand-Heldayani.

"A-anu, Bu. Reya kejang-kejang tadi di kamar. Jadi Mas Renan yang panggil dokter," sahut Winaya gugup.

"Kenapa nggak panggil saya?! Kamu telepon Renand yang lagi kerja padahal saya di rumah? Emang bener ya kamu tuh hobi nyusahin anak saya. Sengaja kamu kan supaya nanti saya yang dimarahi Renand karena kamu ngadu ke dia pas Reya sakit bukannya bilang ke saya?" tuding Helda.

"Bukannya gitu, Bu. Kan Ibu sendiri yang bilang hari ini nggak mau diganggu karena lagi sakit kepala," ujar Winaya serba salah.

"Alah. Emang kamu maunya saya buruk di mata anak saya sendiri," cerca Helda seraya berlalu meninggalkan Winaya yang berdiri di dekat kamar.

Reya sudah dinyatakan baik-baik saja, bahkan dokter telah izin pulang. Namun, Renand tak kunjung datang. Winaya sudah menyimpan kekawatirannya sejak tadi. Ia sesekali melirik ke arah putrinya yang tidur nyenyak.

Tiba-tiba ponsel Winaya berdering, menampilkan nama Renand di layar ponselnya. Buru-buru Winaya menerima panggilan telepon itu. Namun, bukan suara suaminya yang ia dengar, melainkan suara orang lain.

"Selamat Malam, Mbak. Apa benar ini keluarganya Pak Renandi Afsandika?"

"Iya benar, Pak. K-kok hp suami saya ada di Bapak, ya?" ucap Winaya dengan jantung yang berdebar-debar.

"Mbak yang tabah, ya. Suaminya Mbak yang bernama Renandi Afsandika mengalami keselakaan di jalan Adiaksa Merdeka, Mbak. Sekarang dibawa ke rumah sakit Madani Raya."

Lihat selengkapnya