Sehari, seminggu, sebulan pun telah berlalu. Akan tetapi rasa itu tak juga jemu bertamu. Rasa yang mengoyak jiwa raga Winaya setiap kali mengingat suaminya. Tiap minggu sore dan tiap malam-malam lainnya, Winaya selalu membuat secangkir kopi dan meletakkan di meja kerja kecil yang melekat dengan dinding depan jendela. Duduk di sana seolah-olah sedang menemani suaminya seperti sediakala. Bedanya sekarang adalah tak ada lagi obrolan manis, tak ada lagi pembicaraan tentang anak mereka, dan tak ada lagi yang meletakkan tangan di puncak kepalanya. Namun, afeksi itu masih nyata Winaya rasakan dan lihat. Setiap kali membuat secangkir kopi dan duduk di sana, suara suaminya yang mengucapkan terima kasih dengan senyuman manis pun terekam sangat jelas.
"Terima kasih, Sayang."
"Sama-sama." Winaya merebahkan kepalanya di atas meja sambil memandang kopi yang masih mengepul. "Setidaknya afeksimu masih ada, Mas. Walau sekarang aku beneran lagi sendirian. Nggak, aku nggak pernah sendirian kata kamu. Ada anak kita. Iya, kan?'' Winaya meneteskan air matanya kala perasaan rindu itu kembali menyelinap dalam relungnya. "Kok ikhlas susah ya, Mas? Kamu tuh kesayangan aku, tapi kamu diambil duluan," ujarnya kembali terisak. Kali ini Winaya menelungkupkan wajahnya di lipatan tangannya.
"Mama."
Winaya langsung mengangkat kepalanya dan duduk dengan tegak. Ia menghapus air matanya sebelum menoleh pada sosok kecil yang berjalan ke arahnya. "Tuh, kan, Mas. Kamu kembali mengingatkan aku bahwa aku nggak sendiri," gumam Winaya tersenyum.
"Reya udah bangun? Sini, Sayang!"
Winaya menggendong Reya di pangkuannya sambil merapikan rambut putrinya. Sekarang cintanya pada Renand telah ia titipkan sepenuhnya pada putri mereka. Rasa sayang Winaya pada Reya pun semakin bertambah besar. Ia telah berjanji akan mendidik Reya dengan baik penuh dengan kelembutan dan cinta. Persis seperti suaminya memperlakukannya, lembut dan manis.
"Reya mau makan?"
Reya pun mengangguk. Winaya beranjak dari sana sambil menggendong putrinya menuju dapur. Rumah yang ia tempati masih ditempati oleh mertuanya. Sikap mertuanya masih sama seperti pertama kali kehilangan putranya, masih membenci Winaya. Winaya yang tahu diri, sengaja tak ingin menampakkan diri dari mertuanya selagi suasana duka itu masih ada. Ia hanya akan keluar kamar ketika mertuanya telah tidur, seperti malam ini.
Winaya meletakkan Reya di kursi khusus yang ada pengamannya agar putrinya tidak terjatuh. Selagi memasak, Winaya memberikan potongan apel pada putrinya agar tak rewel. Dulu sebelum suaminya meninggal, Winaya tak perlu melakukan itu. Renand yang dengan suka rela tanpa disuruh langsung membawa anak mereka jalan-jalan di dalam rumah. Begitu perhatian dan pengertiannya Renand, sering kali membuat rasa syukur Winaya memiliki suami seperti itu pun semakin bertambah. Banyak suami yang sayang pada istrinya, tetapi jarang yang benar-benar membuktikan rasa sayang itu dalam bentuk pengertian seperti apa yang dilakukan Renand. Jika Winaya sedang mengerjakan sesuatu, maka Renand akan datang membantunya walau hanya dengan menyanyikan sebuah lagu jika tak ada yang bisa ia kerjakan. Katanya, setidaknya ia membuat nyaman Winaya dengan suara merdunya.
Winaya selesai memasak sup ayam dengan bahan seadanya untuk putrinya. Malam hujan-hujan begini sup ayam yang hangat memang tepat untuk menjadi santapan. Apalagi putrinya sangat suka kentang seperti halnya Renand yang menggemari sayur itu.
Winaya menekan-nekan nasi di mangkuk kecil dengan sendok, lalu mengguyurnya dengan kuah sup dan beberapa potongan kentang dan ayam kecil-kecil. Winaya duduk di sebuah kursi tepat di depan putrinya, lalu mulai menyuapi anak itu sedikit demi sedikit.