Winaya menghentikan mobilnya di depan rumah yang tergolong sederhana, tetapi memiliki pekarangan yang luas dan asri. Ini kediaman temannya, Resty. Rencananya hari ini Winaya akan menitipkan Reya ke teman dekatnya itu selagi ia mendatangi kampus Geonard Smart.
Pintu rumah itu terbuka bahkan sebelum Winaya menaiki teras rumah itu. Tampak gadis seumuran Winaya—28 tahun—memiliki perawakan kurus dan berkulit putih dengan raut antusias menyambut kedatangan mereka. Lebih tepatnya kedatangan Reya, sebab gadis itu menyukai anak-anak.
"REYAAAA!" seru Resty langsung berjongkok memeluk anak dari temannya itu.
"Aku kepagian nggak, Res?"
"Enggak kok, Win. Ini kan udah jam delapan. Kamu di jalan nanti sampe ke sana juga mau jam setengah sembilan. Om aku ke sana sekitar pukul delapan juga soalnya. Paling lebih dulu kamu sampai sepuluh menit doang," sahut Resty sambil menggendong Reya.
"Ya udah deh. Aku titip Reya, ya, Res. Makasih lho sebelumnya," ucap Winaya.
"Iya tenang aja aku jaga dengan baik kok. Ibu juga ada di rumah tuh," sahut Reya. "BTW, good luck, ya. Semoga dapat dan kerjaannya cocok buat kamu."
"Aamiin," sahut Winaya. Ia tersenyum pada putrinya sambil melambaikan tangan. "Mama pergi dulu, ya. Nanti Reya Mama jemput, ya. Sebentar aja kok, Sayang."
Beruntungnya Reya memang dekat dengan Resty sehingga jika Winaya titipkan, Reya tak rewel sama sekali. Walau Resty belum menikah, tetapi ia telaten dalam mengurus anak. Katanya belajar banyak dari ibunya.
Usai berpamitan, Winaya langsung meninggalkan kediaman Resty dengan mobilnya. Lebih tepatnya mobil almarhum suaminya. Winaya bersyukur ibu mertuanya mengizinkan dirinya menjadikan hak milik mobil tersebut untuk dirinya. Setidaknya ia tak kesusahan ketika ingin kemana-mana.
Perjalanan menuju Universitas Geonard Smart memakan waktu sekitar dua puluh menit. Winaya memarkirkan mobilnya di parkiran khusus tamu seperti plang yang telah tertulis. Melihat universitas sebesar ini membuat Winaya bimbang. Apakah ia diterima menjadi dosen di tempat ini?
Winaya mendapat chat dari Resty. Ia pun langsung membuka isi chat itu.
Resty Meilanie
Wina, barusan Om aku kabarin kalau ban mobilnya bocor. Jadi kayaknya bakal terlambat datang ke sana. Kamu ke kantin aja ya biar nggak bosen nunggu. Om Wisnu nanti yang bakal hubungin kamu kalau dia sampai. nomormu udah aku kasih ke dia.
Winaya
Oh gitu, ya. Oke gapapa, Res. Bilang nggak usah buru-buru. Aku gapapa kok nunggu di kantin dulu. Thanks info, Res.
Winaya memutuskan untuk menuju kantin kampus tersebut. Sudah ada cukup banyak mahasiswa/wi yang telah memenuhi kampus pagi ini. Winaya berjalan sepanjang koridor dengan raut wajah yang ramah. Biar kesan pertamanya baik di mata orang-orang yang berpapasan dengannya, sekalian melihat-lihat keadaan kampus dan penghuni di sana.
"Woah, ini sih kampus elite. Fasilitasnya lengkap banget deh. Mana lapangannya gede, ada dua lapangan pula," gumam Winaya seraya terus berjalan menuju kantin.
Kantin tak begitu ramai karena masih pagi. Winaya memesan bubur ayam dan teh hangat untuk mengisi perutnya. Wanita itu memilih meja di tengah agar tak begitu berdekatan dengan orang-orang yang mengisi beberapa meja di sana.