SECANGKIR KOPI DAN AFEKSIMU

Monacino
Chapter #4

PEKERJAAN BARU

Pertemuan dengan pemilik universitas dan penyerahan surat lamaran pun telah berlalu dengan sangat lancar. Pak Geonard selaku pemiliki universitas itu memeriksa langsung berkas yang dibawa oleh Winaya. Raut penuh kekaguman pun menghiasi wajah beliau. Bagaimana tidak, dulunya Winaya lulusan terbaik satu jurusan Sastra Indonesia. Hanya karena menikah dengan Renand, ia memutuskan untuk tidak langsung bekerja.

"Selamat bergabung di universitas kami, Bu Winaya," ucap Pak Geonard mengulurkan tangannya.

"Terima kasih banyak, Pak Geonard," ucap Winaya menerima uluran tangan itu.

"Baiklah. Mulai besok kamu sudah bisa mengajar di sini. Untuk informasi selengkapnya tentang kampus ini, nanti saya kirimkan lewat pesan pribadi, ya, Bu Winaya."

"Baik, Pak.''

Wisnu pun kembali berbicara sambil mengulurkan tangannya. "Terima kasih telah menerima saya dengan baik selama bekerja di sini, Pak Geonard. Saya benar-benar nyaman bekerja di sini jikalau tidak karena kondisi kesehatan saya, mungkin saya tetap bekerja satu atau dua tahun ke depan," ucap Wisnu.

"Sama-sama, Pak Wisnu. Bapak juga sudah sangat berjasa untuk kampus ini. Banyak yang memuji cara Pak Wisnu mengajar. Soal kecerdasan Pak Wisnu sudah tak dapat diragukan lagi, saya mendengar banyak pujian tentang itu. Beruntungnya Pak Wisnu membawa pengganti yang tepat pula. Terima kasih, Pak. Semoga kesehatan Pak Wisnu selalu tetap prima," tutur Pak Geonard dengan ramah.

"Haha. Iya, Pak Geo, beruntungnya saya menemukan Winaya temannya keponakan saya. Ya, semoga Pak Geo juga selalu prima. Kalau begitu, saya permisi pamit dulu, Pak," ucap Wisnu.

Usai keluar dari ruangan itu, Winaya baru bisa bernapas dengan lega. Ia tersenyum menoleh pada Wisnu yang juga tersenyum hangat padanya.

"Makasih ya, Om. Berkat Om saya bisa kerja di sini deh. Saya bisa lanjutin tugas almarhum suami saya buat cari nafkah," ucap Winaya tersenyum.

"Sama-sama, Wina. Ini juga berkat nilai kamu yang bagus banget. Saya aja kaget lihat nilai kamu yang bagus banget. Kenapa baru aja jadi dosennya?"

"Saya mau fokus urus suami dan anak saya sih, Om," sahut Winaya apa adanya.

"Betul-betul. Luar biasa kamu, Winaya. Nah, ini saya mau datangin beberapa kelas buat pamitan ke mereka. Kita berpisah di sini, ya. Nanti saya sambil perkenalkan kamu pada mereka."

"Oh, iya, Om. Makasih sekali lagi, Om."

"Sama-sama. Dah, Winaya," ucap Wisnu seraya berjalan pergi dari hadapan Winaya.

Winaya memutuskan untuk langsung pulang saja. Walau Resty dengan suka rela menjaga putrinya, tetapi Winaya juga harus tahu diri. Ia tak ingin merepotkan temannya terlalu lama. Takutnya anaknya lagi rewel dan menghambat aktivitas orang yang menjaganya.

Lihat selengkapnya