Denting sendok yang beradu dengan cangkir kaca terdengar di dapur ketika malam menjelang. Tangan lentik Winaya dengan lembut mengaduk bubuk kopi, susu, dan air panas menjadi satu. Secangkir kopi susu hangat itu Winaya bawa ke meja kerja almarhum suaminya, bagai ritual yang tak pernah Winaya lupakan sekalipun sejak suaminya telah tiada.
Winaya melihat bayangan sosok suaminya sedang sibuk dengan laptopnya. Pria itu menoleh padanya sambil tersenyum, ketika Winaya meletakkan kopi susu itu di atas meja. Bahkan ucapan manis itu seakan-akan memang terucap dari mulut almarhum dengan nada yang teramat lembut, "Terima kasih, sayang" membuat Winaya tertawa kecil sambil duduk di sampingnya.
Winaya merebahkan kepalanya di atas meja, sambil memandangi asap kopi yang masih mengepul. Momen seperti ini adalah satu-satunya yang tersisa dari banyaknya kenangan yang bisa ia ulang. Secangkir kopi dan afeksi Renand adalah dua hal yang tak bisa terpisahkan walau salah satunya telah tiada.
"Mas, besok aku mulai kerja, lho. Jadi dosen. Aku jadi inget pernah bilang kalau hasil kelulusan kuliah aku nggak bakal pernah aku pakek karena aku punya kamu yang cari nafkah. Tapi waktu itu, aku bersikeras bahwa nanti aku bakal menggunakannya. Ternyata ... saat kamu udah nggak ada ya, Mas?" ucap Winaya terdengar sendu.
"Reya masih nggak paham soal kepergian kamu, Mas. Dia pikir kamu ada di dalam sana dan nggak mau keluar. Kalau dia nanti paham, pasti dia sedih banget kayak aku. Gimana aku menghadapinya, Mas?''
Winaya menegakkan tubuhnya. Ia meraih secangkir kopi yang sudah cukup mendingin itu. Perlahan, Winaya menyesapnya. Sudut bibirnya terangkat begitu merasakan minuman yang selalu membuat suaminya kecanduan.
Tiba-tiba deru mobil terdengar dari luar. Winaya menyingkap sedikit gorden untuk melihat siapa yang datang. Ternyata yang datang adalah ibu mertuanya dan anak keduanya beserta menantunya. Akan tetapi, mengapa mereka membawa koper besar?
Winaya segera bangkit dari duduknya. Buru-buru itu menuju pintu untuk menyambut tamu tersebut. Seperti biasa, sosok Winaya selalu dianggap tak ada. Bahkan ketika Winaya melontarkan pertanyaan sekalipun.
"Lho, Bang Andra sama Kak Risma bawa koper? Mau nginap, ya?"
Tak ada jawaban atas pertanyaannya. Winaya tetap sabar sambil berjalan mengikuti mereka ke ruang tengah. Barangkali jika di sana, ia mendapatkan jawaban dari pertanyaan tadi.
"Kalian tempati aja kamar yang di sebelah kamar Renand, ya. Tapi kalau mau lebih besar, bisa tempati kamar tamu aja," ujar Helda.
''Kami mau di kamar tamu aja deh, Mah. Kata Mamah kamarnya Reka belum diberesin juga, kan. Kami langsung ke kamar ya, Mah. Risma pasti udah ngantuk banget," ujar Rafli seraya menarik kopernya menuju kamar tamu.
"Iya, Sayang. Selamat malam," ucap Helda.