Winaya tergolong dosen muda di Universitas Geonard Smart. Apalagi kepribadiannya yang ramah dan lembut, membuat mahasiswa bahkan mahasiswi langsung menyukainya ketika pertama kali mengajar. Ternyata tak sulit untuk beradaptasi dengan kampus itu. Asalkan menunjukkan sisi positif pada semua orang, kemungkinan besarnya memang disukai dan diterima dengan baik.
Hari pertama mengajar Winaya memang merasa nyaman, tetapi tetap saja ia sangat gugup pada awalnya. Setelah kelas selesai, Winaya langsung menuju kantin untuk makan dan minum. Winaya orangnya tak cepat lapar, tetapi lekas haus. Sehingga dirinya hanya membeli dua kue bolu dan satu teh es di kantin.
"Bu Wina," sapa seorang mahasiswi yang baru saja lewat. Dia salah satu mahasiswi di kelas pertama yang Winaya masuki.
"Halo, Nadin," sahut Winaya tersenyum.
Berkumpul dengan orang-orang yang lebih muda, membuat Winaya merasa muda lagi. Ya memang dia belum tergolong usia tua, tetapi sudah matang untuk dikatakan wanita dewasa. Apalagi ia sudah memiliki satu anak yang berusia dua tahun delapan bulan sekarang.
Winaya menoleh oleh kedatangan Jendra yang baru saja duduk di meja samping dirinya. Ah, benar meja pria itu memang di sana. Winaya tak sadar jika ia memilih meja yang berdekatan dengan meja pribadi Jendra. Pantas tak ada yang mau duduk di tempat itu, walau kantin kampus cukup banyak penghuninya.
"Halo, Mbak Naya," sapa Jendra tersenyum.
"Halo juga, Mas Jendra," sahut Winaya tak kalah ramah. Ia melihat menu yang Jendra bawa. Sandwich dan secangkir kopi dingin. Kopi lagi, ya? batin Winaya.
"Gimana hari pertama ngajarnya? Seru kan ngajar di kampus ini?"
Winaya mengangguk dan tersenyum tipis. "Iya, Mas. Mereka seru dan menerima pelajaran dengan baik. Ya walau ada mahasiswa yang kerjaannya nyimak sambil tiduran, tapi dia nggak macem-macem."
"Wajar kalau itu. Saya kalau ngajar mereka, nggak muluk-muluk. Mbak Naya. Saya menjelaskan apa yang perlu saya jelaskan. Yang mau mendengarkan ya silakan, yang nggak mau denger ya gapapa. Tapi satu, jangan ribut. Jangan ganggu konsentrasi yang lain. Makanya kalau ada mahasiswa ataupun mahasiswi yang tidur, ya terserah mereka. Saya biarin aja," ungkap Jendra.
Winaya manggut-manggut mendengarnya. "Iya sih. Kita juga nggak bisa paksa mereka atau ngeceramahin mereka juga. Soalnya mereka udah pada dewasa dan pastinya lebih paham yang mana baik dan yang mana yang buruk. Kalau mereka berkelakuan kayak gini, ya itu pilihan mereka. Tapi kalau saya, kayaknya bakal negur walau sekali. Setelah itu ya terserah deh," lontar Winaya. Jendra mengangguk tanda menerima pendapat dari wanita itu.
"Oh ya, Mbak Naya belum masuk group dosen, kan?"
"Ada groupnya, Mas?"
"Ada. Nah, kebetulan dari pihak kampus, lagi ngadain liburan bareng gitu ke pantai Minggu depan. Kalau Mbak Naya nggak sibuk, kayaknya ikut aja, Mbak. Sekalian supaya bisa lebih dekat dengan dosen lainnya. Soalnya ya, Mbak, kalau nggak ada acara liburan gini, dosen-dosen pada ngumpul itu awam banget. Makanya di kantor, nggak full kan dosennya?"