Winaya pergi berbelaja ke supermarket untuk membeli keperluan selama seminggu. Syukurlah di rumah Risma mau menjaga Reya untuk sementara ia tinggalkan berbelanja. Dari bahan makanan hingga keperluan mandi Winaya beli dengan uang tabungan terakhirnya. Setelah ini, ia hanya bisa mengandalkan uang tabungan Reya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sebelum ia mendapatkan gaji dari pekerjaan barunya.'
Saat memilih buah semangka, Winaya tak sengaja bertemu dengan Jendra. Tampak Jendra awalnya sedang memilih buah alpukat. Begitu melihat Winaya, ia langsung buru-buru memasukkan asal lima buah alpukat ke keranjang belanjaan tanpa memilih lagi. Pria itu pun langsung menghampiri Winaya.
"Naya," sapa Jendra berdiri di samping wanita itu, membuat yang dipanggil pun menoleh.
''Eh, Mas Jendra. Lagi belanja juga, Mas?" sahut Winaya ramah.
"Iya lagi buah alpukat nih. Eh, mau beli buah semangka, ya? Saran saya sih pilih yang ini aja, Mbak. Nah, yang ini kulit buahnya lebih tipis, isinya lebih merah, dan pastinya lebih manis," ujar Jendra mengambil satu buah semangka.
''Oh, ya? Boleh deh Mas yang itu aja," ujar Winaya. Jendra pun memasukkan dengan hati-hati semangka itu ke dalam troli.
Winaya lanjut berjalan ke tempat buah pisang, Jendra pun juga mengikutinya sambil mengajak wanita itu bercengkrama.
"Jadi kamu udah ada keputusan apa belum soal liburan? Saya nunggu banget lho jawaban dari kamu sedari tadi siang," tanya Jendra.
"Oh yang itu. Kayaknya saya bisa ikut deh, Mas. Tapi boleh bawa anak kecil nggak, Mas?"
"Anak kecil? Ya boleh aja. Dosen yang lain bahkan ada ngajak satu keluarga kecilnya. Nggak masalah, soalnya dibebaskan aja. Mau tempat stay nanti di pantai beda juga nggak masalah,'' sahut Jendra.
Winaya bernapas lega seraya tersenyum. "Oh, bagus deh kalau gitu. Saya kira nggak boleh."
Jendra menelisik barang belanjaan Winaya yang cukup banyak. Bahkan ada popok, susu formula, dan biskuit bayi juga. Jendra jadi berpikir Winaya sangat menyayangi keponakannya hingga membelikan paket komplit untuk si bayi. 'Dia pasti penyayang banget sama anak kecil. Beruntung banget keponakannya punya tante kayak Naya. Udah cantik, baik, perhatian lagi. Idaman gue banget nih cewek,' batin Jendra.
Winaya mendorong troli dengan susah payah karena isinya sudah terlalu banyak, melihat hal itu Jendra langsung mengambil alih. Winaya terkejut melihat tangan Jendra yang ikut mendorong trolinya. Sejenak Winaya terpana melihat pria di sampingnya. Wajah Jendra tiba-tiba berubah menjadi suaminya, Renand. Tampak Renand tersenyum manis ke arah Winaya yang menatapnya, membuat Winaya turut menyunggingnya senyuman.
"Mbak Naya kenapa?" tanya Jendra bingung melihat tatapan penuh puja wanita di sampingnya. Ia sampai mengusap tengkuknya yang tiba-tiba meremang melihat tatapan itu.
"Naya," panggil Jendra lagi. Namun, Winaya malah melihat suaminya mengajaknya bercanda, membuatnya tertawa kecil. Bertambah heranlah Jendra dibuatnya.