Reya berlari menghampiri Winaya begitu melihat sang Ibu pulang membawa banyak belanjaan. Winaya cukup kaget melihat Reya menangis sesegukan sambil memeluk kakinya. Tak lama muncul sang Ibu mertua dengan raut muka masam dengan kedua tangan terlipat di depan dada.
"Mama!"
"Eh, kok nangis, Sayang? Reya kenapa nangis? Tadi habis ngapa--"
"Kemana aja kamu belanja lama banget? Udah tau punya anak, bukannya cepet-cepet belanjanya. Kamu tahu kan kalo Risma lagi hamil? Dia emang suka jaga anak kecil tapi kondisinya tuh nggak memungkinkan. Reya pakek menangis segala cuma kepeleset dikit. Udah ditenangin malah minta mamanya," omel Helda pada Winaya yang melepas belanjaannya untuk memeluk putrinya.
Winaya tak marah mendengar omelan sang Ibu mertua. Ia malah merasa bersalah karena memang sempat melupakan Reya yang menunggunya di rumah. Apalagi ia sempat mengantar Jendra dulu ke rumahnya.
"Maafin saya, Bu. Tadi ... nganterin teman yang nggak bawa mobil ke supermarket. Soalnya tadi dia bantuan saya belanja terus--"
"Cowok kan temanmu?" tebak Helda berdecih. Winaya yang mendengar tebakan Helda benar, tak dapat menjawab apa-apa kecuali menunduk. "Kalo diem berarti benar. Baru aja lebih satu bulan anak saya ninggalin kamu, sedangkan kamu sudah mulai buka pertemanan sama laki-laki lain. Hebat banget kamu, Wina. Air matamu itu sudah pasti palsu waktu pemakaman anak saya," tuding Helda.
"Astaghfirullahal 'adzim, Bu. Saya nggak pernah berpikir mau dekat sama cowok lain. Saya cuma cinta sama Mas Renand, Bu. Saya tulus cinta sama almarhum suami saya, anak Ibu. Beneran cuma teman, Bu. Dia juga anak pemilik kampus tempat saya bekerja. Jadi sewajarnya saya bersikap baik sama dia yang sudah baik sama saya. Dia minta anterin karena--"
"Wah, mana anak orang kaya raya. Bagus deh kalau kamu dapat pengganti anak saya dengan cepat. Jadi kamu lekas pergi meninggalkan rumah ini. Saya dari awal udah muak liat kamu!'' cecar Helda dengan kasarnya. Wanita paruh baya itu dengan angkuh meninggalkan Winaya yang menangis tanpa suara. Ia tetap memeluk anaknya agar Reya tak melihat tangisannya.
Winaya menghapus air matanya, ia menatap putrinya yang masih sesegukan di hadapannya. "Sekarang Reya main dulu, ya? Eh, nonton kartun deh, ya. Biar Reya anteng aja selagi Mama sibuk di dapur mau masak."
"Mau," sahut Reya sambil mengangguk.
"Ya udah, Yuk! Kita ke ruang tengah dulu," ujar Winaya menggendeng tangan putrinya menuju ruang tengah. Winaya menyalakan televisi dan memilihkan kartun yang bagus untuk putrinya yang kini telah duduk dengan tenang di sofa. "Nah, nonton dulu, ya. Mama mau angkat belanjaan ke dapur dulu, abis itu baru buatin susu Reya, ya."
Winaya tersenyum senang melihat Reya mengangguk. Anaknya memang sangat penurut, persis seperti Renand. Beruntung sekali rasanya memiliki suami seperti Renand dan mewariskan sifat menurut itu pada anak mereka.