SECANGKIR KOPI DAN AFEKSIMU

Monacino
Chapter #9

9. PANGGIL MAS AJA, YA

Resty menyambut dengan ceria kedatangan Reya dan Winaya. Gadis itu langsung merentangkan tangannya merengkuh tubuh mungil Reya hingga berada dalam gendongannya. Winaya tersenyum senang melihat kedekatan Reya dengan sahabatnya, Resty. Baginya orang lain yang paling ia percaya hanyalah Resty. Syukur sekali Reya merasa nyaman dengan orang kepercayaannya.

"Jadi, lusa kami bakal ikut liburan sama para dosen, Res. Menurutmu, gimana? Gapapa gitu aku bawa Reya ke pantai?"

"Ya gapapa. Malah asik lagi ngajak Reya ke pantai. Pasti dia nggak pernah ke pantai, kan? Atau mau aku temenin, Win? Biar aku minta tukeran shif buat lusa. Jadi pas kamu mau santai-santai sama dosen lainnya, aku yang bakal jaga Reya. Gimana? Gapapa kan bawa teman? Atau enggak kamu bilang aku keluargamu aja. Kan katamu kemarin gapapa bawa keluarga," celoteh Resty. Ia terus menimang Reya dalam gendongannya.

"Kok aku repotin kamu terus ya, Res?" keluh Winaya dengan muka merasa bersalahnya.

"Ah, kamu tuh ngomong gitu terus. Aku udah jujur lho nggak pernah ngerasa repot, Win. Udah deh santai aja, aku juga pengin kali liburan ke pantai. Terakhir liburan ke pantai pas kuliah dulu. Udah bertahun-tahun yang lalu, lho."

Winaya mengembuskan napasnya, lalu tersenyum senang. "Makasih ya, Res. Ya udah ntar lusa aku yang sediain perlengkapan semuanya. Pokoknya kamu bawa baju ganti aja, jadi nggak usah repot bawa ini dan itu. Oke?"

"Siap," sahut Resty. "Dadah dulu mamanya mau kerja. Dadah Mamah!" ujar Resty pada Reya yang langsung melambaikan tangannya.

Winaya langsung mengecup pipi putrinya. "Mamah kerja dulu ya, Sayang. Jangan rewel sama Tante Resty. Dah!" ujarnya lembut. "Aku berangkat, Res."

"Iya hati-hati, Win."


Di kampus, Jendra sudah datang lebih dulu. Pria itu sengaja tak keluar dari mobil sebab sedang menunggu kedatangan seseorang. Cukup lama menunggu, akhirnya kepalanya yang tadinya bersandar pada kursi, ia tegakkan begitu melihat mobil Winaya memasuki halaman parkiran. Jendra membenahi penampilannya, memakai kacamata, lalu keluar dari mobil. Bertepatan sekali dengan Winaya yang keluar dari mobilnya. Jendra sengaja berjalan lambat agar bisa berjalan sejajar dengan wanita itu.

"Pagi, Mas Jendra," sapa Winaya.

"Pagi, Naya," sahut Jendra tak kalah ramah. Otomatis Jendra mensejajarkan langkahnya dengan Winaya.

"Oh ya, Mas Jend. Saya udah putusin ikut liburan lusa. Terus ... saya juga bawa anak dan sahabat saya. Bisa nggak ya, Mas?"

"Oh, bisa dong. Bebas bawa siapa aja. Paling nanti kamu memisahkan diri pas mau foto bersama. Jadi sahabat kamu dan anaknya bisa nunggu kamu foto bersama gitu. Buat dokumentasi sih liburan buat dosen," sahut Jendra.

Lihat selengkapnya