SECANGKIR KOPI DAN AFEKSIMU

Monacino
Chapter #11

11. TERKEJUT AKAN FAKTA

"Mama!" teriak Reya begitu melihat keluar dari bis B.

Winaya tersenyum lebar sambil melambaikan tangannya. Ia langsung menghampiri Resty dan Reya, sedangkan di belakang Jendra kebingungan mendengar anak kecil itu menyebut Winaya dengan sebutan 'mama' seolah-olah Winaya adalah ibunya. Meski begitu, Jendra yang membantu membawa barang bawaan Winaya, tetap mengikuti ke mana Winaya pergi.

Winaya langsung membawa Reya ke gendongannya, lalu mengecup pipi putrinya. "Gimana tadi rewel nggak di bis A? Ditungguin nggak ada video call yang masuk, berarti aman dong, ya?"

"Aman dong kalau sama aku. Kan aku emak dia," gurau Resty dengan percaya diri, membuat Winaya tertawa kecil. Jendra yang mendengar itu akhirnya paham, jikalau Reya memang menganggap Winaya adalah ibunya karena saking akrabnya.

"Nay, ini kalian mau gelar tikar di mana?" tanya Jendra.

Winaya sedikit cengo mendengarnya. "Tikar? Buat apa ya, Mas?"

"Lho, kamu nggak bawa tikar, Win?" tanya Resty terkejut. Winaya menggeleng dengan raut wajah cemberut.

Jendra tertawa geli melihat kebingungan Winaya dan keterkejutan Resty. "Gapapa gabung sama saya aja. Kebetulan saya bawa karpet yang gede, soalnya adik sepupu saya yang SD kelas enam juga ikut liburan. Ibunya yang titipin, cuma ya tetap aja luas karpetnya. Ikut saya aja, Nay," ujar Jendra memberikan solusi.

Resty tersenyum penuh arti melihat interaksi Winaya dan Jendra, sedangkan Winaya terlihat tak enak hati. Ingin mengiyakan atau tidak. Ia melirik Resty yang langsung mengangguk yakin.

"Ya udah deh, Mas. Kami ikut, ya? Makasih lho, maaf merepotkan. Saya beneran nggak kepikiran soal karpet," ujar Winaya.

"Nggak masalah. Yuk, kita ke ujung sana tuh! Keknya enak di bawah pohon itu," tunjuk Jendra ke arah kanan.

Mereka pun menuju ke tempat sana. Jendra dengan sigap menggelar karpet besar. Tak lama seorang remaja laki-laki datang dengan perawakan sedikit gempal membawa tasnya yang cukup besar. Jendra tersenyum melihat remaja itu.

"Eman, taruh tasnya di sana, tuh! Iya di ujung situ dekat tasnya Abang, ya," titah Jendra.

"Iya, Bang," sahut remaja yang dipanggil 'Eman' oleh Jendra.

Resty dan Winaya menata barang bawaan mereka di atas karpet milik Jendra. Reya malah berjalan menghampiri Jendra yang sedang mengambil sesuatu di dalam tasnya. Merasakan ada tangan kecil yang menyentuh pundaknya, membuat Jendra menoleh ke arah samping. Seketika senyuman Jendra mengembang.

"Eh, ada bidadari kecil. Halo, cantik," ucap Jendra memegangi pinggang kecil itu dengan kedua tangannya.

Winaya agak panik ketika Reya tak ada di sampingnya. Helaan napasnya berhembus lega melihat Reya ada di hadapan Jendra. Winaya pun bangkit menghampiri mereka berdua.

Lihat selengkapnya