Jendra membantu dosen lainnya yang sedang membakar ayam. Dua orang lainnya yang mendapat tugas membakar ayam terlihat serius dengan pekerjaannya, tetapi lain halnya dengan Jendra. Ia kebanyakan melamun memikirkan sesuatu yang sungguh mengganggu pikiran dan perasaannya sekaligus. Winaya sudah menikah.
Tiba-tiba sebuah rangkulan ia dapatkan dari samping, membuat Jendra tersadar. Ia menoleh pada orang yang merangkulnya, seketika wajahnya langsung sumringah. Kawannya datang untuk bergabung hari ini untuk liburan bersama.
"Rukan! Astaga lo kapan datangnya?"
"Ngelamun aja terus sampai tuh ayam gosong terus jadi abu," cerca pria perawakan tinggi dan sama kekarya seperti Jendra, nama pria itu adalah Rukan Adi Wijaya. Teman masa SMA Jendra hingga sekarang. Rukan bekerja di perusahaan ayahnya—yang akan ia teruskan suatu saat nanti.
Jendra terkejut melihat satu dada ayam yang ia bakar, nyaris hangus. "Uh ya! Gosong, man!" buru-buru Jendra meraih piring yang diserahkan oleh dosen yang lebih muda darinya.
"Saya pikir Pak Jendra suka yang gosong," sindir dosen itu.
"Ya kamu harusnya tegur dong, Ben. Malah dibiarin," omel Jendra.
"Elu yang salah, malah ngomelin orang. Perlu curhat nih temen gue," sindir Rukan sambil merangkul Jendra. "Ngobrol sama gue. Tinggalin tuh ayam. Bukan keahlian lo, Jendra, bakar beginian."
"Iya bentar," sahutnya kerepotan. "Ben, nih titip ayam gosong. Ntar saya aja yang makan, jangan dibuang lho, ya."
"Siap, Pak Jend!"
Rukan membawa Jendra ke ujung pantai di mana ada dahan pohon yang sudah tua dijadikan sebuah tempat duduk di pinggir pantai. Mereka berdua duduk di sana sambil melihat ke arah pantai yang mana para dosen lainnya tengah bermain di tepian. Tak terkeali Winaya, Resty dan Reya.
"Apa kabar lo, Ruk? Masih kerja di perusahaan bokap lo, kan? Kelamaan di Singapure lo udah kayak bos muda aja."