SECANGKIR KOPI DAN AFEKSIMU

Monacino
Chapter #14

14. OBROLAN PANJANG DI PERJALANAN

Sore sudah menjelang, para dosen yang berlibur sudah membereskan barang bawaan mereka karena sebentar lagi mereka akan pulang. Jendra mengemasi barangnya dengan cepat, lalu beralih menghampiri Winaya dan anaknya.

"Saya bantu beresin punya Reya, ya, Nay," ujarnya mengambil tas Reya dan memasukan barang bawaan Reya ke dalamnya.

"Emang Mas udah selesai beresin barang bawaan, Mas?"

"Udah tuh. Barang bawaan saya dikit aja," sahut Jendra menunjuk tas hitamnya yang telah rapi.

Resty yang sedang membereskan barang bawaannya sendiri, senyum-senyum melihat mereka berdua. Resty cepat-cepat berkemas agar bisa membawa Reya dari sana. Bukan bermaksud apa-apa, hanya saja Resty senang jikalau Winaya segera melupakan lukanya. Lebih cepat melupakan Renand itu lebih baik, sebab suami sahabatnya itu memang telah tiada.

"Reya, ayo kita ke bis! Tuh bis kita udah mulai dimasuki orang," ujar Resty.

Reya mengambil tas yang diberikan oleh Jendra, lalu berjalan menghampiri Resty. Winaya melambaikan tangannya pada Reya, begitu pun dengan Reya. Sungguh Reya anak yang sangat pintar dan penurut.

"Pinter-pinter sama Tante Resty, ya. Kalau kangen, tinggal video call Mamah, ya," ucap Winaya.

"Iya, Mamah," sahut Reya.

"Aku titip Reya, Res. Aktifin hp kamu terus, ya," kata Winaya.

"Siap bos! Kami duluan ya, Win. Mari, Mas Jendra," ucap Resty yang langsung diangguki keduanya.

Sepeninggalan Resty dan Reya, kini tersisa Jendra dan Winaya. Entah Ben kemana, sepertinya bocah itu telah masuk bis duluan sebab ia ada di bis A. Membereskan sisa barang bawaannya, Winaya melirik Jendra yang sedang menunggunya.

"Maaf ya, Mas, lama. Reya malah keluarin semua barang-barang saya," ucap Winaya.

"Gapapa santai aja. Bis nggak mungkin ninggalin kita," sahut Jendra.

Winaya tertawa. "Yaiyalah. Masa anak yang punya kampus ditinggalin."

Lihat selengkapnya