Sekitar pukul sepuluh malam Winaya dan Reya sampai di rumahnya. Lampu ruang tengah sudah jelas padam, itu tandanya tak ada yang masih terjaga. Winaya dengan ragu menekan bel rumah. Tiga kali bel ia tekan, akhirnya terdengar langkah kaki menuju pintu. Senang sekaligus gugup juga. Jika mertuanya yang membuka pintu, kemungkinan ia akan mendapatkan kata-kata tak mengenakan lagi.
"Malam-malam ganggu orang tidur aja. Makanya kalau tau pulang malam, nginap aja di tempat lain. Tidur di mobil sekalian!"
Ternyata ibu mertuanya yang membuka pintu. Winaya menarik putrinya untuk lebih merapatkan diri padanya. Reya bersembunyi di balik kaki ibunya dengan tatapan takut pada neneknya sendiri.
"Maafin aku, Bu. Tapi jam pulangnya emang malam karena mulai perjalanan tadi sore. Sekali lagi maaf udah ganggu, Bu," ucap Winaya dengan lembut.
Terdengar dengusan dari Helda, sebelum wanita itu berjalan masuk ke dalam rumah. Barulah Winaya masuk juga membawa putrinya. Barang bawaannya ia biarkan di mobil, besok ia bisa mengeluarkannya dari sana.
Helda tak masuk ke kamarnya, ia malah menghadang Winaya dekat tangga. Winaya mendadak gugup, apa lagi yang mertuanya inginkan? Tidak puaskah sudah menyambutnya dengan kata-kata kasar di hadapan Reya tadi?
"Saya lapar. Bikinin saya makanan. Risma lagi mual, dia nggak bisa masak tadi sore," titah Helda.
Bukannya Winaya bermaksud ingin menolak, tetapi badannya sangatlah lelah. Berjam-jam duduk di kursi bis bukanlah sesuatu yang nyaman untuk dilakukan. Rasanya pinggangnya nyeri sekali. Matanya pun sangat mengantuk.
"Eumm ... kalau mi instan aja gimana, Bu?"
Helda menatap Winaya dengan tampang ingin memaki. "Astaga bener-bener kamu, ya. Beda banget sama menantu saya yang lain. Bisa-bisanya kamu nyaranin saya makan mi instan. Saya itu udah tua, menantu saya yang lain larang saya makan mi instan dan kamu malah menyuruh saya makan mi instan? Nggak salah kok saya kalau benci kamu," cecar Helda dengan tatapan murka.
"Maaf, Bu. Maafin saya. Iya saya masakin apa yang Ibu mau. Aku ngomong ngaur, Bu. Lagi capek banget soalnya," ucap Winaya dengan raut merasa bersalah.
"Kode nggak mau masakin bilang capek gitu? Siapa suruh pakek liburan segala. Suami baru meninggal dua bulan yang lalu aja udah cari hiburan kamu."
Winaya memejamkan matanya, mencoba menahan diri agar tak mengeluarkan kata-kata yang menyakiti mertuanya. Winaya kembali membuka matanya, lalu mengangguk dengan lapang dada. "Aku bawa Reya masuk kamar dulu, Bu. Abis itu baru langsung masakin Mamah makanan. Bentar aja, Mah. Aku bawa Reya ke kamar dulu. Permisi," ujarnya seraya menuntun Reya menaiki tangga menuju kamarnya yang ada di lantai atas.
Sesampai di kamar dan menutup pintu, Winaya meneteskan air matanya. Ia berjalan menuju ranjang, lalu merapikannya. Winaya menghapus air matanya seraya melepaskan pakaian anaknya dan menggantinya dengan piyama tidur. Winaya berusaha sebisa mungkin untuk menahan laju air mata itu. Ia tak ingin Reya bertanya-tanya mengapa ia bersedih. Anaknya butuh istirahat.