SECANGKIR KOPI DAN AFEKSIMU

Monacino
Chapter #16

16. MERASA BERSALAH

Mobil Jendra dan mobil Winaya beriringan memasuki halaman luas mansion milik keluarga Geonard. Mobil mereka dibiarkan parkir di depan rumah. Reya yang baru saja keluar dari mobil, mendongkak kepalanya melihat bangunan besar itu. Ia berputar melihat sekeliling yang tampak asing sekaligus indah di matanya. Jendra tersenyum senang melihat ekspresi anak itu.

"Reya seneng nggak ke rumah, Om? Kita ke tempat bermain sekarang, ya. Sini Om gendong," ujar Jendra seraya membawa Jendra di dalam gendongannya.

"Mas, di rumah ada siapa? Emang gapapa saya sama Reya bertamu gini?" tanya Winaya tampak tak enak hati. Ia takut akan menjadi fitnah atau ada orang rumah yang tak suka dengan keberadaan mereka berdua.

"Ada pembantu saya kok, banyak. Ada tujuh orang. Perempuan semua, jadi aman gapapa," sahut Jendra.

Winaya pun mengangguk dengan tenang. Ia mengikuti Jendra masuk ke dalam rumah besar itu. Hatinya berdecak saking kagumnya dengan kekayaan yang ada di dalam sana. Beberapa pekerja di sana pun menyapa dengan ramah kedatangan mereka. Winaya tersenyum manis pada mereka sambil menunduk sopan.

Jendra membawa mereka ke sebuah ruangan yang mana pintu ruangan itu saja sudah menjelaskan isi di dalamnya. Pintu ruangan itu bermotif doraemon dan latar luar angkasa. Begitu Jendra membuka ruangan itu, tampaklah ruangan luas layaknya area bermain. Ada berbagai permainan di sana. Mulai kolam bola, perosotan, terowongan, ayunan, dan rumah-rumahan. Segala mainan ada di sana. Ada tertata rapi di lantai ada juga yang tertata di dalam sebuah lemari berwarna bening. Jendra langsung melepaskan Reya dari gendongannya. Anak kecil itu berlari kesenangan menghampiri kolam bola.

"Wah, ini sih seharian pun anak nggak bakal bosen, Mas. Ini kayak area bermain beneran," decak Winaya kagum.

Jendra tersenyum sambil mengangguk. "Iya, Naya. Saya dan kakak saya kan sudah pada dewasa, jadi tempat ini sudah nggak terkunjungi lagi. Kecuali pas ada acara keluarga atau tamu-tamu ibu saya ke rumah, biasanya anak-anak mereka ya masuk ke dalam sini. Makanya mainan di sini juga ada mainan cewek, soalnya disediakan untuk anak tamu juga," celoteh Jendra menjelaskan.

"Saya jadi takut Reya bakal betah, Mas, Tuh liat, dia tanpa izin udah nyemplung aja di kolam bola," ujar Winaya tertawa kecil. Jendra juga tertawa gemas melihat anak kecil itu.

"Ya gapapa. Sering-sering aja ajak ke sini. Nanti kalau mau pulang, suruh aja Reya pilih barang yang dia mau. Banyak tuh yang bisa dibawa pulang," kata Jendra.

"Emang gapapa, Mas? I-ibunya Mas Jendra emang nggak marah gitu? Beliau nanti nyariin ini mainan hilangnya ke mana."

"Ya enggak, Nay. Beliau mana mau ngurusin hal kek gini. Ini saya sendiri yang isi setelah dewasa. Saya senang lihat anak kecil girang, jadi pas ada kesempatan saya beli banyak mainan dan masukin ke dalam sini. Jadi ambil aja, apapun yang Reya mau. Oh ya, saya mau ke kamar bentar, ya. Kamu temenin Reya aja di sini. Nanti salah satu pelayan bawain kalian minuman dan camilan," tutur Jendra.

Lihat selengkapnya