SECANGKIR KOPI DAN AFEKSIMU

Monacino
Chapter #17

17. JANGAN USIR KAMI

Reya menunggang kuda-kudaan di kamarnya. Winaya duduk di pinggir kasur sambil memandangi betapa sibuknya putrinya dengan mainan baru itu. Sebelum pulang dari rumah Jendra, Reya memilih kuda-kudaan sebagai mainan yang ia bawa pulang. Rasanya baru pertama kalinya Winaya melihat Reya sebahagia itu. Winaya jadi ingat obrolannya dengan Jendra ketika mereka menikmati minuman dan camilan bersama.

"Saya merasa bersalah sama suami saya, Mas. Saya sudah berjanji sama dia buat selalu setia dan nggak akan dekat sama pria manapun. Tapi sekarang? Baru lebih dua bulan dia ninggalin saya, saya malah sudah dekat sama Mas Jendra. Bahkan saya sudah nekat masuk rumah Mas Jendra. Rasanya saya—"

"Nay, kamu nggak salah. Kamu juga nggak perlu janji kayak gitu ke almarhum suami kamu. Nay, bukannya saya mau mencampuri soal rumah tanggamu atau soal perasaanmu. Tapi ini soal kebahagiaan. Suami kamu pasti mau kamu bahagia dan menemukan sandaran baru yang bisa menggantikan perannya untuk menjaga kamu dan juga Reya. Suami mana yang tega membiarkan istri yang ia cintai hanya diam dalam kesendirian demi sebuah kesetiaan? Reya juga butuh peran seorang ayah, Naya. Dia akan tumbuh besar dan akhirnya sekolah. Peran ayah sangatlah penting. Kamu nggak bisa egois untuk mempertahankan kesetiaan kamu pada almarhum suamimu, sedangkan anakmu merasa kekurangan kasih sayang dari ayahnya. Dia masih terlalu kecil, tetapi ayahnya telah pergi. Dia pasti merindukan seorang ayah nanti, Naya. Setidaknya pikirin soal Reya," tutur Jendra memberikan pencerahan pada Winaya, sekaligus berusaha membuka pintu hati wanita itu yang sudah cukup lama membeku.

Winaya menghela napasnya yang terdengar berat. Hatinya begitu gelisah. Apakah ia harus menuruti apa yang Jendra sarankan atau tetap kekuh mempertahankan kesetiaan dan janjinya pada almarhum suaminya? Winaya sangat bingung, seakan pilihan itu sama-sama sangat berat.

Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu kamarnya yang tak santai. Buru-buru Winaya membuka pintu kamar. Ia cukup terkejut mendapati mertuanya yang barusan mengetuk pintu.

"Eh, Ibu. Ada apa, Bu?"

"Kamu lupa apa gimana? Saya kan titip jemuran buat diangkat, kenapa malah Risma yang angkat? Mikir dong, kamu sudah menyusahkan orang yang lagi hamil," omel Helda.

"Astaghfirullah ... maafin saya, Bu. Saya beneran lupa. T-Tadi ... tadi saya lagi temenin Reya main. Maafin saya, Bu," ucap Winaya penuh penyesalan.

Lihat selengkapnya