SECANGKIR KOPI DAN AFEKSIMU

Monacino
Chapter #18

18. SAKIT

Jendra sudah berada di mobilnya sekitar satu jam yang lalu, namun sosok wanita yang ia tunggu tak kunjung datang. Tempat Winaya biasanya memarkir mobil tak juga terisi oleh pemiliknya. Jendra akhirnya keluar dari mobil, diliriknya jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Sudah lebih dari dua puluh menit sejak pelajaran kampus di mulai, tetapi Winaya belum kunjung datang. Biasanya wanita itu selalu hadir paling tidak lima belas menit sebelum kelas dimulai.

"Mana sih Winaya, kok belum juga datang. Biasanya jam segini udah ngajar. Apa nggak ada jam pagi, ya?" gumam Jendra bersandar pada mobilnya.

Tak bisa membuang waktu lagi, akhirnya Jendra memutuskan untuk meninggalkan parkiran kampus. Terpaksa ia akan memulai kelas tanpa sarapan. Padahal dari awal niatnya ingin sarapan bersama Winaya di kantin kampus.

Di sisi lain, Winaya sedang berbaring di kasurnya. Wajahnya tampak pias dan bibirnya kering. Kerutan di keningnya tampak, ketika ia mulai terusik dalam tidurnya. Kedua mata Winaya terlihat lelah dan merah. Ia terpaksa bangun ketika mendengar suara ketukan pintu dari luar kamarnya. Winaya beranjak dari kasur dengan susah payah, kepalanya terasa berdenyut ketika melakukan pergerakan sedikit saja.

Pintu Winaya buka, menampilkan sosok Helda yang menatapnya tak suka. Sudah pasti ibunya itu akan marah padanya kembali.

"Kenapa nggak bangun? Sengaja ya kamu nggak mau ke dapur dan masak buat kami? Rafli terpaksa berangkat kerja nggak sarapan. Emang seenaknya banget kamu tinggal di sini," cerca Helda.

Winaya mengembuskan napasnya pelan, ia menelan salivanya yang terasa sangat seret. "Saya lagi nggak enak badan, Bu. Dari tadi subuh badan udah panas, tenggorokan saya pahit, dan sekarang kepala saja berdenyut nggak karuan. Bukannya saya nggak mau masak, Bu," tuturnya menjelaskan.

"Alah alasan. Saya dulu juga sering sakit, tapi sebagai sosok ibu saya masih bisa beraktivitas. Masak, bersih-bersih rumah, dan nyuci. Ini kamu biasa apa? Baru sakit sedikit malah udah kayak sekarat aja. Sampai lalai dalam kewajiban kamu. Heran kenapa anak saya mau sama wanita lemah kayak kamu," ketus Helda menatap tak suka pada Winaya.

Winaya tersenyum kecut. "Mungkin saya memang nggak sekuat Ibu. Tapi kalau bicara soal wanita lemah, saya nggak lemah. Saya cuma nggak mau ngelakuin kesalahan fatal lagi, Bu. Kalau saya paksain kerja dalam keadaaan kepala saya pusing, gimana terjadi sesuatu? Saya lagi yang akan disalahkan walau niat saya mau berbuat baik. Jadi saya mohon sama, Ibu, tolong ngertiin saya. Terus soal Bang Rafli yang nggak sarapan ... emang istrinya si Risma nggak bikin sarapan? Saya dulu hamil nggak selemah itu, Bu. Saya hamil masih bisa melayani suami saya, nggak sampai minta bantuan ipar buat masakin suami saya makanan," tutur Winaya panjang.

Helda tak terima dengan kekalahan dalam hal apapun. Tanpa diduga, Helda mengangkat tangannya dan melayangkan tamparan pada pipi Winaya hingga wanita itu jatuh bersimpuh di lantai.

PLAK!

Winaya memegangi pipinya sambil menoleh pada Helda dengan tatapan berkaca-kaca. Kepalanya yang berdenyut menambah rasa sakit yang hatinya rasakan. Sungguh, Winaya tak bisa berkata apa-apa lagi selain menangis. Mertuanya begitu menyakitinya. Bahkan jauh sebelum mereka menikah, tak ada raut wajah tersenyum yang Winaya dapati pada Helda ketika bertemu tatap dengannya.

"Lancang banget kamu ngatain menantu saya wanita lemah. Kamu yang lemah! Awas aja ya sampai omongan nggak enak kamu didengar sama Risma. Saya yang akan usir kamu!"

Lihat selengkapnya