Jendra dengan kesal kembali ke mobilnya. Ia menatap balkon kamar rumah Winaya, berharap wanita itu keluar sekali saja. Namun, harapannya pupus begitu tak ada siapapun di sana. Itu berarti mertua Winaya sungguh tak memberitahu sedikitpun soal kedatangannya. Jendra mencoba menelepon Winaya sekali lagi, ia tak bisa pulang begitu saja sebelum melihat wanita itu.
Tak terduga, Winaya ternyata menerima panggilan teleponnya. Terdengar suara parau Winaya begitu pertama kali bersua. Sudah dipastikan jikalau Winaya masih dalam keadaan sakit. Hati Jendra terenyuh dibuatnya.
Halo, Mas? Ada apa, ya? Maaf baru jawab, saya nggak enak badan.
Gapapa, Nay. Saya cuma khawatir sama kamu yang nggak masuk hari ini, dihubungin juga nggak nyahut. Makanya saya nekat ke rumah kamu.
Apa, Mas? Mas ke rumah aku? K-Kapan, Mas?
Barusan. Barusan banget saya ngomong sama mertua kamu dan ... ya kamu tahu sendiri. Sekarang saya masih ada di mobil, masih di depan rumah kamu.
Ya ampun, Mas. Harusnya jangan repot-repot ke sini. Mas pasti diomelin sama ibu mertua saya, ya? Duh ... Mas tunggu di sana, ya. Saya keluar.
Kalau sakit jangan dipaksa, Nay. Asal dengar suara kamu, saya sudah merasa lebih tenang.
Tunggu di sana, Mas.