SECANGKIR KOPI DAN AFEKSIMU

Monacino
Chapter #20

20. PESAN PANJANG DARI JENDRA

Jendra menaruh bubur ayam dan kopi hangat di atas mejanya di kantin. Masih sangat pagi, hanya ada beberapa orang di tempat itu. Hari ini Jendra melewatkan satu rutinitas barunya yaitu menunggu Winaya di parkiran. Bukannya ia jera karena kejadian kemarin, tetapi ia hanya memberikan jeda pada Winaya agar memiliki waktu lebih tenang menerima kenyataan bahwa Jendra menyukai Winaya.

Saat asiknya menyesap kopi, Jendra cukup kaget melihat Winaya memasuki kantin seorang diri. Ia perhatikan Winaya memesan bubur dan satu teh hangat. Tak begitu lama menunggu, Winaya membawa pesanannya ke meja yang kosong. Tak sengaja tatapan mereka bertemu. Winaya awalnya terlihat canggung, setelah itu ia tersenyum tipis sambil mengangguk. Jendra pun membalasnya demikian. Namun, ia kecewa melihat Winaya memilih meja yang jauh darinya.

Jendra sadar, Winaya pasti sedang menjaga jarak dengannya. Sesuai rencana yang sudah Jendra atur, ia tak akan mengganggu Winaya hari ini. Ia biarkan wanita itu makan buburnya dengan tenang seorang diri. Usai kegiatan sarapan Jendra selesai, laki-laki itu pun segera bangkit dari duduknya.

"Naya, saya duluan, ya," ucapnya.

"Oh, iya, Mas," sahut Winaya mengangguk dengan senyuman canggung.

Winaya menoleh pada punggung Jendra yang meninggalkan kantin. Binar matanya tampak redup menatap laki-laki itu. Terbayang kembali kejadian tadi malam dan ucapan Jendra yang mengatakan bahwa ia menyukai Winaya. Rasanya Winaya merasa bersalah telah membiarkan Jendra kenal padanya yang faktanya tak bisa membuka hati untuk laki-laki manapun lagi.

"Maafin saya, Mas Jendra. Seharusnya Mas Jendra jangan taruh rasa pada wanita seperti saya," gumam Winaya.

Hari ini baik Jendra maupun Winaya sama-sama tak bersemangat mengajar di kelas masing-masing. Winaya memang masih kurang fit, tetapi perasaannya yang lebih menganggu harinya. Entahlah ia merasa sangat bersalah telah bersikap seperti itu pada Jendra. Dari ucapannya kemarin dan sikapnya tadi pagi yang sengaja menjauhi Jendra. Bahkan Winaya belum membuka pesan yang dikirimkan oleh Jendra tadi malam.

Usai kelasnya selesai, Winaya memilih langsung menuju mobilnya. Ia tak langsung pulang, hanya duduk dengan mata terpejam untuk menjernihkan pikirannya. Kepalanya masih cukup berat dan tenggorokannya masih terasa sedikit pahit. Winaya memilih istirahat sejenak di sana. Ia keluarkan ponselnya, lalu dengan ragu membuka pesan dari Jendra.

Mas Jendra

Maaf kalau kedatangan saya tadi malah membuat kamu nggak nyaman, Nay. Maaf kalau mertua kamu marah sama kamu gara-gara saya, padahal kamu lagi sakit. Saya datang karena khawatir sama kamu, Nay. Kamu nggak datang ke kampus dan nggak aktif dihubungi. Saya khawatir.

Lihat selengkapnya