Winaya mengantar Jendra ke kediaman pria itu. Sejujurnya Winaya ragu untuk melakukan hal ini. Dirinya belum siap untuk kembali dekat dengan Jendra dan takutnya rasa itu benar-benar muncul dalam hatinya. Winaya tak ingin melanggar janji. Ia tak ingin mengkhianati suaminya dalam bentuk apapun. Winaya pun menyakinkan dirinya bahwa tindakannya kali ini hanya bentuk keperdulian pada sesama. Jendra adalah rekan kerja sekaligus bosnya juga, sudah sepantasnya ia menolong pria itu.
Winaya meminta bantuan pada pelayan di mansion milik keluarga Jendra, agar membawa Jendra masuk ke kamar. Tak enak langsung pulang, akhirnya Winaya juga ikut mengantar pria itu ke kamarnya. Dinginnya AC yang meresap di kulit Winaya begitu masuk rumah nan megah itu. Ia terus saja mengikuti pelayan pria yang membantu memapah Jendra menuju kamarnya di lantai atas.
Smapi di kamar, Jendra direbahkan di kasurnya. Winaya terperagah melihat kamar Jendra sudah seukurang ruang tamu di rumahnya. Tiba-tiba salah satu pelayan berdiri di hadapannya sambil membungkukkan tubuhnya sebentar.
"Saya akan menghubungi dokter. Bisa Mbak tunggu di sini dulu? Nanti Mbak bisa bantu jelaskan ke dokter gimana awal mula temuin Tuan Muda Jendra dalam keadaan seperti itu."
"O-oh. Iya-iya saya tunggu," sahut Winaya tersenyum canggung.
Winaya merasa sangat tak nyaman, begitu tiga pelayan itu meninggalkannya di kamar Jendra. Ia melirik Jendra yang terpejam dengan raut wajah pias dan kening sedikit berkerut sesekali. Winaya paham bagaimana rasanya sakit, ia bahkan baru saja sembuh. Sudah pasti Jendra merasa sangat pusing dan ingin muntah. Winaya pun berjalan ke arah balkon, lalu duduk di sofa dengan tenang.
"Naya," panggil Jendra tiba-tiba.
Winaya langsung menoleh. "Iya, Mas?"
"Maaf kalau pesan saya terkesan lancang sama kamu. Saya nggak bermaksud bikin kamu kesel atau mencampuri urusan hidup kamu. Saya hanya berusaha menyakinkan kamu sebagai seseorang pria yang menyukai kamu, Naya. Saay pikir wajar saya berbicara seperti itu karena saya menaruh rasa sama kamu. Berjuang untuk cinta, itu hak semua orang, bukan?"
Winaya mengalihkan tatapannya yang sendu ke arah balkon. "Ya. Mas Jendra nggak salah kok. Nggak ada yang salah. Saya yang belum bisa melupakan atau mengalihkan perhatian pada almarhum suami saya juga ... bukan salah saya. Itu juga hak saya. Tapi jikalau Mas Jendra mau berjuang, saya juga nggak bisa melarang. Benar, itu hak Mas Jendra. Kita sama-sama punya hak untuk saling mencintai siapa. Saya cuma berharap semoga Mas Jendra bisa menerima keputusan akhir saya tentang sebuah cinta." Winaya menjela ucapannya seraya menyandarkan tubuhnya ke sofa, lalu menundukkan kepalanya. "Tapi kalau boleh jujur, saya masih sangat mencintai almarhum suami saya, Mas. Sangat sulit bagi saya untuk menerima atau membuka hati untuk orang lain. Jadi ... terserah sama Mas aja. Saya sudah mengatakannya dari awal," tandasnya.