Sore hari pada hari Minggu, Winaya kembali melakukan rutinitasnya untuk menyajikan secangkir kopi di meja kerja suaminya. Ia meletakkan secangkir kopi itu, lalu duduk di samping kursi almarhum Renand yang kosong. Winaya menoleh ke kursi samping, lalu tersenyum. Seolah-olah ia sedang berhadapan dengan Renand yang juga memberikan senyuman padanya.
"Diminum ya, Mas, kopinya."
"Kamu aja yang minum, Sayang," sahut Renand. Tentunya, dalam pandangan halusinasi Winaya saja.
"Aku terus yang minum. Aku penginnya kamu yang minum, Mas. Rasanya ... minum kopi yang aku tujukan untuk kamu, rasanya kok sakit ya, Mas? Ini kopi buat kamu, Mas. Aku bikin buat kamu. Aku nggak mau minum sebelum kamu minum," ucap Winaya menatap sendu.
"Naya, kamu bisa sajikan kopi itu buat pengganti aku," sahut Renand lembut.
Seketika Winaya meremang mendengar sahutan dari suaminya. Untuk pengganti apa? Satu lagi, panggilan 'Naya' mengapa terasa canggung diucapkan oleh Renand? Padahal panggilan itu memang dari Renand awalnya, bukan dari Jendra. Namun yang terpikir oleh Winaya malah Jendra.
"Mas, maksud kamu apa? Kamu jangan ngomong gitu deh. Aku akan tetap setia sama kamu sampai aku nyusul kamu. Nggak ada yang namanya pengganti," protes Winaya menatap tak suka.
Suara bel terdengar, tetapi Winaya tak mengalihkan pandangannya pada Renand. Ia tak ingin bayangan Renand menghilang apabila ia mengalihkan pandangannya. Ia harus mendapatkan jawaban atas protesnya tadi.
"Buka pintunya, Sayang. Kasih kopi ini buat dia," ujar Renand.
"Mas,'' tegur Winaya tak terima.
"Ingat janji pertama kamu. Janji pertama kamu ingin aku bahagia, kan? Kebahagiaan aku melihat istri aku dan Reya bahagia. Kamu nggak bahagia sejak aku nggak ada, Naya. Kamu bisa bahagia dengan dia," ujar Renand diakhiri senyuman tipisnya.
"Mas--maksud kamu dia siapa?"
Renand menunjuk ke arah pintu, Winaya menoleh ke arah sana juga. "Siapa?" Winaya terkejut begitu ia berbalik sudah tak ada Renand di sampingnya. "Mas!" panggilnya sekali dengan raut wajah ingin menangis. Namun, keadaan tak mengizinkannya untuk bersedih. Suara bel di luar seakan memaksanya untuk segera membuka pintu. Winaya pun mau tak mau beranjak dari sana.