Winaya membuka pintu rumah dengan ragu. Tampak Helda menatap sepatu Jendra dengan kening yang berkerut dalam, lalu mendongkak menatap Winaya yang teramat gugup. Sudah pasti mertuanya itu akan mengomel sebentar lagi dengan makian yang sangat ingin ia hindari.
"Sepatu siapa ini? Sepatu laki-laki kan ini?"
"I-iya, Bu. Saya kedatangan tamu. M-Mas Jendra barusan datang buat berteduh soalnya mobil dia mogok dekat komplek kita--"
"Alah. Alasan banget. Udah berani ya kamu bawa masuk laki-laki asing ke dalam rumah? Mana pas nggak ada siapa-siapa di rumah lagi. Minggir kamu!" Helda menerobos masuk. Winaya menunduk dalam, membiarkan Risma dan Rafli juga masuk ke dalam rumah.
Jendra berdiri dekat ruang tamu, ia membungkuk sopan melihat presensi Helda. Helda berdecih dengan raut wajah bengisnya menatap Jendra yang tersenyum tipis dengan tenang.
"Kenapa kamu nekat bertamu? Bukannya saya sudah peringati kamu ya kemarin itu? Asal kamu tahu, ini rumah almarhum anak saya. Dia nggak akan rela membiarkan pria asing masuk ke dalam rumah ini. Dan saya juga nggak akan membiarkan Winaya menjalin hubungan dengan pria manapun selain anak saya Renand!" tegas Helda dengan angkuhnya.
Jendra malah tertawa kecil, lalu mendongkak kepalanya menatap Helda dengan tatapan yang terbilang santai. Rafli, Risma, dan Winaya pun berdiri di sekitar sana menyaksikan perdebatan mereka.
"Maaf kalau sekiranya saya membuat Anda tak nyaman, Bu. Tapi ... tidak seharusnya Ibu bicara seperti itu pada saya, tamu di rumah ini. Setahu saya dari Winaya, Renand itu pria yang baik dan hangat. Dia nggak mungkin mempelakukan tamu semena-mena atau bahkan lebih parahnya mengusirnya," ucapan Jendra terjeda ketika Rafli ikut bicara.
"Heh, kamu! Jangan ngomong sembarang sama orang tua saya!" tegur Rafli menunjuk Jendra dengan tatapan tak suka. Risma langsung memegangi lengan suaminya.
Jendra tak mau meladeni teguran itu, ia fokus untuk memberikan pemahaman pada mertua Winaya tersebut. "Winaya berhak bahagia. Dia berhak mendapatkan sandaran baru dan peran seorang ayah untuk Reya. Bagaimana pun jika seorang suami yang tulus mencintai istrinya, ia tak akan mengekang istrinya untuk dalam kesendirian terus-menerus. Dia pasti ingin ada seseorang yang melanjutkan tugasnya untuk menyayangi, membimbing, dan menjaga istri serta anaknya dengan sebaik-baiknya. Jadi jika Ibu melarang Winaya untuk berdekatan atau menjalin hubungan dengan pria lain, itu salah. Winaya berhak menjalin hubungan lagi walau bukan dengan saya. Dan saya tegaskan sekali lagi, saya mencintai Winaya dan ingin menjadikan dia istri saya. Saya dengan sepenuh hati ingin menjadi sandaran baru untuk Winaya dan menjadi peran seorang ayah untuk Reya."
Penuturan panjang lebar Jendra sungguh membuat mereka semua terkejut, tak terkecuali Winaya. Ternyata Jendra seserius itu ingin menjadi pengganti suaminya. Winaya melirik takut-takut pada Helda yang sudah terlihat membara menatap Jendra.