SECANGKIR KOPI DAN AFEKSIMU

Monacino
Chapter #24

24. BAIKKAN

Winaya akhirnya bisa kembali mengajar di kampus setelah izin satu hari karena masalah kesehatan. Begitu sampai di kampus, ia sudah bertemu secara tak sengaja dengan Jendra di koridor. Entah memang takdir yang selalu ingin mempertemukan mereka atau hanya suatu kebetulan tiada arti, mereka selalu bertemu tatap setiap pagi. Winaya berusaha mengontrol ekspresi wajahnya agar biasa-biasa saja. Ia tak ingin menjadi canggung dan merusak sebuah hubungan apapun pada seseorang. Termasuk hubungan pertemanannya dengan Jendra. Terlebih, Jendra juga termasuk atasannya di tempat ia bekerja sekarang. Sudah sepantasnya ia hormat dan memaklumi semua yang terjadi.

"Pagi, Naya," sapa Jendra tersenyum hingga lesung pipinya yang dalam terlihat.

Winaya tersenyum tipis. "Pagi juga Mas Jendra," sahutnya singkat.

"Ke kantin bareng, yuk! Sarapan dulu deh atau ngeteh aja. Mau, kan?"

Sejujurnya Winaya juga belum sempat sarapan. Tadi sehabis subuh rencananya ingin ke dapur untuk memasak, tapi ternyata keduluan mertuanya. Helda sepertinya sedang menyiapkan sarapan untuk putra keduanya--Rafli--hingga memasak sepagi ini. Tak mungkin juga mertuanya memasang untuknya juga. Winaya pun mengurungkan niatnya untuk sarapan di rumah. Ia juga membelikan bubur saja untuk sarapan Reya di rumah Resky.

"Eumm ...."

"Nay, please. Mau ya ke kantin bareng saya? Kalau kamu ragu karena nggak enak soal perasaaan saya atau ... ya hal semacam itu ... anggap aja saya teman kamu. Anggap saya nggak ada perasaan ke kamu. Saya udah janji sama diri saya sendiri kalau di kampus, saya bakal jaga sikap supaya kamu merasa nyaman. Tapi untuk di luar kampus ya ... mungkin saya jadi Jendra yang ugal-ugalan?" Jendra tertawa mengatakan yang terakhir.

Winaya juga sejujurnya hendak menyunggingkan senyuman mendengar kata-kata terakhir Jendra, tetapi ia menahannya. Tak disangka Winaya mengangguk ringan. "Ya udah kita ke kantin aja, Mas. Kebetulan saya belum sarapan apapun, minum pun belum."

Lihat selengkapnya