Winaya mendandani putrinya layaknya seorang putri kecil. Mengenakan kaun selutut berwarna merah muda, sepatu putih, dan mahkota kecil di atas kepalanya. Anak kecil itu tampak bersemangat menatap dirinya di cermin sambil berputar-putar. Winaya sengaja menaruh cermin berukurang kotak di atas bantal agar Reya dapat melihat dirinya yang cantik sementara Winaya sedang berdandan.
Hari ini mereka akan menghadiri acara ulang tahun anak dari sepupunya Jendra. Alamat rumah acara pun hanya bersebelahan komplek dengan kediaman Jendra. Akan tetapi tetap saja Jendra bersikeras untuk menjemput mereka berdua. Katanya biar tak tersesat dan juga tak canggung begitu pertama kali datang ke rumah sepupunya tersebut.
"Mah, uyang tatun Reya. Reya uyang tatun mau," ujar Reya melihat ibunya telah rapi dengan gaun panjang berwarna senada dengan pakaian putrinya. Winaya menggerai rambutnya dengan menghimpun sedikit rambut bagian kanan dan kiri ke belakang. Ada hiasan kupu-kupu kecil di sela rambutnya untuk memperindah.
"Iya nanti Reya ulang tahun juga. Tapi bulan depan, ya. Mamah Insya Allah bakal rayain juga. Sabar ya, Sayang," sahut Winaya.
"Yeay! Reya uyang tatun," pekik anak kecil itu. Winaya tersenyum mendengarnya. Ia turunkan Reya dari ranjang. Kado berukuran sedang di atas nakas ia berikan pada putrinya. Reya memegang dengan antusias. "Nanti ini dikasihkan ke kakak yang ulang tahun, ya."
"Iya, Mamah."
Winaya dan Reya keluar dari kamarnya. Mereka menuruni tangga dengan hati-hati. Tampak di ruang tengah Helda sedang mengobrol dengan Risma sambil menonton televisi. Walau hubungannya dengan ibu mertuanya sedang tak baik, tetapi Winaya tak mungkin mengabaikan mereka begitu saja. Akhirnya Winaya membawa Reya menghampiri ruang tengah.
"Eh, Reya cantik banget. Mau ke mana, Sayang?'' ucap Risma sumringah begitu melihat Reya. Helda bahkan tak menoleh sedikit pun.
"Iya nih mau ke acara ulang tahun anak sepupu teman," sahut Winaya. "Bu, kami pamit dulu, ya. Risma kami pamit, ya," ucap Winaya ramah.
"Hati-hati ya, Win," ucap Risma.
''Iya, Ris. Makasih," sahut Winaya. Ia melirik Helda yang bergeming di tempatnya. Menghela napas pelan, Winaya akhirnya melanjutkan langkahnya meninggalkan mereka menuju pintu rumah.
"Bu, kenapa sih masih aja marah sama Winaya? Dia izin sama Ibu lho tadi," protes Risma.