Winaya masuk ke dalam mobil, begitu pun dengan Reya. Suasana hatinya tak baik semenjak kedatangan sosok Ghina di acara ulang tahun tadi. Ghina terus saja menampilkan kearaban dengan Jendra. Mulai dari membahas masa lalu mereka, gelonjotan di lengan Jendra, sampai minta suami kue pada Jendra. Rasanya Winaya muak sekali melihatnya. Ditambah sebelum itu Ghina mengatakan sesuatu yang membalas hatinya marah. Winaya tak bisa menutupi rasa kecewanya hingga Jendra menyadari hal itu.
"Kamu capek banget, ya, Nay? Saya perhatiin dari pertengahan acara kamu kayak ... banyak diam. Kalo capek kamu bisa ajak pulang di pertengahan acara tadi, jadi nggak nunggu lama sampe acara selesai," ujar Jendra seraya menoleh singkat pada Winaya yang memangku Reya. Anak kecil itu tertidur, mungkin karena kelelahan juga.
"Enggak kok. saya nikmatin pestanya kok, Mas," sahut Winaya seadanya.
Jendra menoleh lagi, ia menunggu kata-kata selanjutnya dari Winaya. Namun, tak ada kata-kata apapun yang dikatakan oleh wanita itu lagi. Fix, ada yang salah ini. Jendra harus menelaahnya lagi nanti. Ia tak ingin membuat Winaya kecewa ataupun tak nyaman dengannya.
"Nggak nyangka di sana banyak juga teman saya. Padahal kan itu tuh acara ulang tahun anak kecil. Eh, baru inget yang punya acara dulu pernah menjawab sebagai ketua yayasan di SMA dulu. Jadi ya mungkin undang beberapa murid yang akrab dengan beliau," ungkap Jendra. Sebagai basa-basi saja, siapa tahu Winaya menyahutinya.
"Termasuk cewek itu?"
"Cewek itu?" Jendra berpikir sebentar mencoba untuk mengingat siapa yang dimaksud oleh Winaya. Hingga ia mengingat sosok Ghina yang satu meja bersama mereka di acara. "Oh si Ghina. Kalau Ghina sih mungkin karena tante saya itu akrab sama dia, makanya dianya datang ke acara tadi. Dulu Ghina itu cewek yang paling akrab sama saya di SMA. Sampai dikatain jadian aja sama teman-teman. Saking akrabnya gitu." Jendra tertawa kecil begitu mengingat kenangan dulu.
Winaya menoleh tanpa ekspresi. ''Bisa jadi dia beneran ada rasa sama Mas Jendra. Dari dulu."
"Enggak mungkin sih. Kami itu cuma sahabatan doang, dianya aja dulu setahu saya suka sama si Rukan. Jadi mana mungkin ada rasa sama saya."
"Ya bisa aja. Mas aja yang nggak peka," sahut Winaya terdengar sedikit sewot. Sontak saja Jendra menoleh padanya dengan tatapan sedikit bingung. Ada apa dengan Winaya? Mengapa tiba-tiba berkata dengan nada sedikit ketus padanya.
"T-tadi kalian kenalan, nggak? Saya lupa kenalin secara resmi tadi. Tapi pas saya ambil makanan, saya liat kalian ngobrol berdua. Ngobrolin apa?"