Hari ini adalah hari keseratus meninggalnya Renand Afrandika. Menjadi momen yang membuat Winaya kembali termenung dengan dirinya sendiri. Aroma masakan sudah mengubar ke mana-mana. Mertuanya dan sanak keluarga membantu memasak di dapur untuk makanan nanti malam. Rasa ingin membantu itu ada, tetapi Winaya tahu apa yang akan mereka lakukan padanya. Menghakimi, menyindir, dan acuh tak acuh padanya. Winaya jadi ingat kata-kata Jendra yang mengatakan bahwa kesehatan mental itu penting, tak bisa dianggap sepela. Jadi daripada menyakiti kesehatan mental, lebih baik hindari saja.
Winaya berlari ke balkon ketika mendengar suara deru mobil yang asing. Ternyata benar, orang tuanya telah datang. Senyuman Winaya terukir indah begitu melihat ayah dan ibunya keluar dari taksi. Buru-buru Winaya keluar kamar untuk menyambut kedatangan mereka.
Winaya melewati ruang tengah, di mana ada keluarga suaminya di sana. Tatapan mereka sungguh tak nyaman untuk dilihat. Akan tetapi, Winaya acuh tak acuh akan hal itu. Ia harus bergembira menyambut orang tuanya seolah-olah memang dirinya sedang baik-baik saja.
Bu Cahyati dan Pak Barhan tersenyum melihat putrinya membuka pintu. Mereka langsung berpelukan melepas rindu. Maklum, kedua orang tuanya itu tinggal di Semarang. Jadi bertemu itu sangatlah jarang sekali.
"Silakan masuk, Mah, Pah," ucap Winaya tersenyum hangat.
"Reya mana, Win?'' tanya Cahyati.
"Ada di kamar lagi tidur. Syukur deh tidur, Mah, jadi nggak ganggu aku bantu-bantu persiapan acara," sahut Winaya.
Keluarga Renand terpaksa menyambut kedatangan orang tua Winaya. Bagaimanapun juga mereka tak enak jika menyamakan memperlakukan Winaya dan memperlakukan Winaya sendiri. Topeng-topeng itu pun terpampang apik di wajah mereka. Tak apa, Winaya malah bersyukur mereka tak sinis pada orang tuanya.
"Selamat datang, Bu Cahyati dan Pak Barhan. Ayo duduk! Silakan duduk," ucap salah satu keluarga Renand.
"Iya terima kasih."
"Pah, barang bawaannya taruh di kamarku aja," ucap Winaya.