SECANGKIR KOPI DAN AFEKSIMU

Monacino
Chapter #29

29. WANITA ITU LAGI

Winaya mondar-mandir di kamarnya saat acara berlangsung. Tamu undangan semua laki-laki hingga Winaya disarankan untuk tidak menunjukkan diri saat acara dimulai. Ingin berada di dapur pun sulit, banyak orang tak menyukainya di sana. Lain halnya dengan ibunya, orang-orang pada pasang topeng kalau dengan ibu Winaya. Namun hal ini dijadikan Winaya kesempatan untuk memikirkan kembali omongan ayahnya. Apakah ia harus pergi meninggalkan rumah ini? Menelisik ruangan kamarnya, membuat Winaya kembali terbayang momen indah bersama suaminya setiap hari. Mereka bahkan pernah makan malam romantis di balkon kamarnya. Winaya tertawa sambil meneteskan air mata begitu mengingat momen bersama Renand, di mana mereka berdansa di kamar layaknya seorang putri dan pangeran. Namun tiba-tiba Renand hilang keseimbangan dan berakhir mereka berjatuh ke atas ranjang. Waktu itu mereka tertawa keras, dansa romantis mereka jadi ambyar karena ketidaksengajaan itu.

"Kalau aku pindah rumah ... bukan hanya kenangan bersama Mas Renand yang aku tinggalkan, tapi juga Mas Jendra. Aku nggak mungkin kerja di sini sementara aku ikut tinggal di Semarang bersama mamah dan papah," monolog Winaya sedih.

"Aku harus gimana dong sekarang?"

Saking larutnya dalam pikirannya saat ini, Winaya tak sadar jikalau sang Ibu telah masuk kamar dan diam-diam mendekati Winaya yang berdiri di depan pintu kaca balkon.

"Putuskan segera, Sayang." Ucapan lembut itu membuat Winaya tersentak, lalu menoleh ke samping di mana ibunya berdiri dengan senyuman yang terpatri di bibirnya.

"Mah. Mamah kok ke sini? Acaranya udah selesai, Bu?"

"Sudah. Tamu undangan udah pada pulang. Mama nggak ikut beres-beres karena udah banyak yang melakukan itu. Lagian Mama adalah tamu di sini, datang dari jauh untuk menghadiri acara."

"E-emang nanti nggak jadi bahan sambatan mereka, Mah?" tanya Winaya dengan ekspresi resah.

Cahyati tersenyum sambil membelai rambut putrinya. "Ini yang bikin kamu tuh gampang diperdaya orang, Sayang. Rasa nggak enakan kamu itu tinggi sekali. Kamu sampai nggak mikirin hak kamu sendiri, malah memikirkan hal buruk yang akan dipikirkan orang lain terhadap diri kamu. Kalau begini terus, kamunya yang capek."

Winaya membalas senyuman ibunya. "Emang harusnya nggak gitu ya, Mah?"

"Bukannya nggak boleh jadi orang yang rela berkoban, Winaya. Tapi kamu juga harus menilik perasaan kamu dan kondisi diri kamu. Kalau kamu capek, jangan dipaksain bantu orang hanya agar orang lain nggak ngatain kamu. Apalagi kamu punya hak untuk menolak. Karena apa? Kamu misalnya seorang tamu yang datang jauh kayak Mamah ini. Harusnya itu dilayani dengan baik, dijamu dengan baik. Bukannya digunjing kalau nggak bantu-bantu," lontar Cahyati.

Winaya mengangguk paham dengan senyuman tipisnya. "Reya gimana, Mah? Masih sama Papah?"

"Masih kok. Papahmu kasih buah, dia anteng di pangkuan kakeknya. Tuh, kalau kamu tinggal sama kami di Semarang, ada yang bantu ngerawat Reya. Kamu nggak sendirian, Sayang."

"Tapi gimana kerjaan aku di sini, Mah? Baru kurang lebih sebulan aku kerja jadi dosen di sini, masa mau berhenti aja," sahut Winaya.

Lihat selengkapnya