Tawa Dewi yang menggelegar begitu masuk ke kantin, membuat atensi Jendra teralihkan padanya. Lebih terkejut lagi Jendra melihat Dewi datang bersama Winaya. Bukannya Winaya bilang ia sudah sarapan bersama kedua orang tuanya? Lalu terpikir oleh Jendra jikalau Dewi yang minta temani. Jendra terus memperhatikan Winaya walau di hadapannya ada Ghina yang mulai menyantap bubur ayam.
"Win, kamu nggak pesen?"
"Aku sudah sarapan, Dew. Aku temenin kamu makan aja. Eh, beli kacang boleh deh," ucap Winaya seraya mengambil dua bungkus kacang dan satu air mineral gelas. Ia langsung membayarnya.
Dewi mengambil satu bungkus nasi goreng dan satu air mineral. Nasi goreng di sana memang suadh dimasak dan dibungkus oleh Bu kantin dari rumah hingga tak perlu menunggu dimasakkan dulu. Usai membeli makanan, Dewi dan Winaya berjalan menuju tempat yang kosong. Kebetulan tempat yang kosong ada di dekat pintu kantin. Dewi mengajak Winaya menuju meja itu.
Jendra kembali menatap Winaya. Wanita itu tak lama juga menatapnya, buru-buru Winaya mengalihkan tatapannya pura-pura tak begitu memperhatikan Jendra. Dewi yang menangkap sesuatu, lantas menoleh ke meja Jendra. Ia baru mendapati sosok wanita lain di hadapan temannya itu.
"Pak Jend, sama siapa?" Tanpa ragu Dewi menyapanya. Winaya tak menyangka jikalau Dewi mengajak Jendra bicara. Ia hanya bisa menunduk sambil mengunyah kacang tanah secara perlahan.
"Oh, ini teman saya nyamperin ke kampus. Katanya mau kiat kampus tempat saya kerja," sahut Jendra menyahuti dengan lantang.
Ghina menoleh pada Dewi tanpa ekspresi, lalu terlihat Ghina mencondongkan tubuhnya ke depan untuk berbisik pada Jendra. Dewi jelas tak suka, ia juga lekas mengalihkan atensinya pada Winaya yang ada di depannya.
"Sombong deh kayaknya teman Pak Jendra. Udah kelihatan dari respons dia. Harusnya paling enggak senyum nggak sih?" lontar Dewi dengan nada bicara yang pelan.
"Aku rasa juga gitu. Gapapalah kalau dia nggak mau temenan. Hak dia juga, Dew," sahut Winaya.
"Tapi aku paling sebel kalau udah nemu orang modelan kayak gitu, Win. Energi julidnya aja kerasa banget. Nggak cocok sih temenan sama aku."
Sementara itu, Ghina merasa gerah karena fokus Jendra sekarang terbagi. Tak hanya padanya, tetapi malah menatap Winaya dari kejauhan. Ghina yang ingin menyuapi Jendra pun menggantung tangannya di udara karena Jendra tak fokus padanya.