SECANGKIR KOPI DAN AFEKSIMU

Monacino
Chapter #31

31. DUKUNGAN ORANG TUA

Jendra mematut dirinya di depan cermin. Ia mengenakan celana joger, atasan lengan pendek hitam, dan topi rajut hitam. Tampilan sederhana itu justru membuatnya terlihat lebih maskulin dan muda. Jendra memakai kacamata untuk menambah kesan manis pada wajahnya. Senyuman dengan lesung pipi yang dalam itu terbentuk sebelum ia benar-benar menjauh dari cermin.

Di ruang tengah ayah dan ibunya sedang menonton televisi. Hubungan mereka selalu terlihat harmonis. Meski sudah tua, akan tetapi kasih sayang mereka selalu tampak terlihat satu sama lain. Jendra sangat beruntung memiliki orang tua seperti mereka. Setiap hari ia menyaksikan hangatnya afeksi cinta keduanya.

"Mah, Pah, aku izin keluar, ya. Mau ngajak Winaya dan Reya ke kedai es krim," ucap Jendra seraya menyalami kedua orang tuanya.

"Serius banget Papah liat-liat kamu sama Winaya. Beneran suka kamu, Jend?" tanya Tuan Geo seraya menyalami putranya.

Jendra menunjukkan cengirannya. "Ya gimana lagi, udah kepincut."

"Winaya suka nggak sama kamu? Jangan bilang cinta bertepuk sebelah tangan, ya. Mamah nggak rela kamu jadi sad boy kayak gitu," komentar Nyonya Shania dengan bibir cemberut.

"Suka kok, Mah," sahut Jendra seraya duduk di samping wanita itu untuk berbicara lebih banyak. "Awalnya emang sulit. Dia masih terbayang-bayang sosok suaminya. Katanya juga ... aku mirip dengan dia. Tapi aku nggak mau berkecil hati atau nyerah gitu aja. Hari ini aku boleh jadi bayang-bayang Renand, tapi nanti hanya ada sosok nyata aku di mata dia. Tanpa ada bayang-bayang siapapun," cetus Jendra yakin.

Tangan Nyonya Shania terangkat membelai kepala putranya. ''Itu berarti kamu kudu ngemis cinta dulu dong? Gimana kalau luluhin dia butuh waktu yang lama? Mamah kasihan ih sama kamu."

Jendra tertawa kecil sambil meraih tangan ibunya yang ada di kepalanya. "Mamah ngapain khawatir? Cowok kan emang harus gini, Mah. Berjuang untuk mendapatkan sesuatu, terutama cinta. Buktinya, Winaya sudah lebih terbuka sama aku. Dia udah mulai buka hatinya sedikit demi sedikit. Nggak butuh waktu lama lagi pokoknya. Aku bakal dapetin dia." Jendra mengepalkan tangannya penuh rasa semangat.

"Biarin, Sayang. Tuh liat anaknya semangat banget gitu malah kamu khawatirin. Jendra putra kita yang ganteng, mapan, terus dewasa. Nggak sulit bagi dia buat luluhin hati wanita," ujar Tuan Geo.

"Maksud kamu wanita pasti luluh sama ganteng dan duit gitu?" protes Nyonya Shania menoleh dengan tatapan sedikit sinis. Jendra menutup mulutnya untuk menahan tawa. Ayahnya sedang dalam masalah.

Lihat selengkapnya