Melihat putrinya kegirangan mencoba es krim, membuat Winaya cekikikan. Meski terkadang wajah kecil itu mengerut karena ngilu, tetapi tangannya selalu antusias ingin menjangkau es krim di tangan ibunya. Lalu apa yang dilakukan Jenda? Pria itu adalah penonton yang paling menikmati apa yang dilakukan oleh dua orang perempuan beda usia di hadapannya. Katakanlah kalau Jendra sudah menyamai bapak-bapak yang senang memantau kelakukan anak dan istrinya. Sampai tak sadar jikalau es krim di hadapannya sudah habis setengah cup.
"Reya kayaknya suka es krim stoberi, ya? Tadi saya suapin es krim vanila kayak kurang suka gitu," ucap Jendra.
Winaya menoleh sambil mengangguk setuju. "Iya, Mas. Mungkin karena kebiasaan rasa stoberi. Saya kalau kasih buah, makanan, pasti rasa stoberi. Reya juga punya bantal dan mainan bentuk stoberi. Mungkin karena udah terbiasa gitu," sahutnya. Jendra mengangkuk tanda ia paham.
"Oh, ya. Orang tua kamu masih ada di rumah, Nay?"
"Masih, Mas. Besok rencananya mau pulang sesuai rencana. Cuma ...." Winaya sedikit ragu apakah ia harus membicarakannya pada Jendra atau tidak. Dia bukan siapa-siapa pria itu, tetapi entah mengapa hatinya menyuruh untuk segera bercerita dan meminta pendapat. "Gini lho, Mas ...," ucapnya menggantung karena ragu.
"Ngomong aja, Nay. Ngomong soal apapun nggak masalah. Saya dengan senang hati mendengarkan dan memberikan saran kalau kamu butuh," kata Jendra menyakinkan.
"Orang tua saya ternyata tahu kalau ibu mertua saya berperilaku nggak baik sama saya. Jadi orang tua saya nyuruh saya buat ikut mereka ke Semarang. Cuma dengan alasan pekerjaan saya menolak, Mas," ungkapnya menjeda sebentar ceritanya untuk melihat ekspresi Jendra.
Tentu saja Jendra terkejut ketika mengetahui Winaya ingin diajak pindah ke Semarang. Itu berarti Winaya akan berhenti menjadi dosen dan mereka saling berjauhan. Namun, Jendra berusaha mengontrol ekspresinya untuk mendengar lebih lanjut apa keputusan yang Winaya buat untuk tawaran orang tuanya tersebut.
"Lalu, Naya jwab apa?"
"Saya menolak dengan alasan nggak mau berhenti bekerja menjadi dosen," sahut Winaya membuat Jendra bernapas dengan lega. Ia pun kembali melanjutkan ucapannya. "Jadi orang tua saya kembali menyarankan agar saya menyewa rumah aja atau beli rumah di sekitar sini yang dekat dengan tempat kerja. Terus sewa baby sitter buat jaga Reya di rumah. Tapi ... saya nggak siap meninggalkan rumah penuh kenangan itu, Mas. Semua kehidupan saya dengan Mas ... Renand ada di sana. Jadi saya--"