SECANGKIR KOPI DAN AFEKSIMU

Monacino
Chapter #33

33. HARAPAN BAHAGIA YANG HILANG

Winaya menatap sendu mobil Jendra yang telah bergerak menjauh darinya. Ia tahu jikalau pria itu marah padanya, tapi tak meninggalkannya begitu saja di kedai es krim. Jendra tetap mengantarkan ia dan putrinya pulang ke rumah, walau tanpa berkata apapun. Satu hal yang dapat Winaya pahami dari Jendra. Pria itu benar-benar pria dewasa yang sesungguhnya. Winaya kini menyadari betapa bodohnya ia mala membahas soal Renand dan menyinggung perasaan Jendra yang telah berjuang mendapatkan hatinya dengan sebaik-baiknya.

Winaya membawa Reya ke dalam rumah. Anak kecil itu berlari membawa tas kecil berisi es krim. Cahyati menyambut Reya dengan senang hati, lalu memeriksa tas kecil yang cucunya bawa. Kata Cahyati, es krimnya masukkan ke kulkas agar besok bisa dimakan. Reya mengangguk setuju. Saat hendak mengajak cucunya menuju kulkas, tak sengaja Cahyati melihat raut wajah putrinya. Mata Winaya tampak sembab dengan tatapan kosong, berjalan menuju ke arah tangga. Meski begitu, Cahyati memilih diam.

Winaya tak ke kamarnya, tetapi ke kamar Reya. Di kamarnya ada sang ayah yang tak ingin Winaya temui saat kedaaan perasaannya seperti ini. Kedua orang tuanya nanti bertanya-tanya. Apa yang terjadi padanya? Padahal saat awal berangkat ingin ke kedai es krim, ia tampak bahagia. Winaya belum siap untuk berbagi cerita.

Winaya merebahkan tubuhnya di kasur sempit milik Reya. Air matanya berjatuhan begitu saja. Entah yang ia tangiskan Renand atau Jendra. Ia tak bisa melihat perasaan itu dengan jelas. Seolah-olah sosok keduanya tertutup kabut hingga Winaya tak bisa melihat siapakah yang hatinya inginkan saat ini. Siapa sosok yang ia tangisi sekarang. Winaya tak tahu itu.

Sementara itu, di sisi lain Jendra juga membuat orang tuanya bingung. Jendra yang ceria sebelum berangkat, malah sendu ketika pulang ke rumah. Sama seperti ibunya Winaya, kedua orang tua Jendra juga tak mengangguk putra mereka. Biarlah Jendra yang bercerita sendiri nanti ketika keadaan hatinya sudah baik-baik saja.

Jendra masuk ke dalam kamar. Ia terduduk di lantai, bersandar ke sisi kasur. Tatapannya menerawang penuh dengan rasa kekecewaan. Baru kali ini dalam hidupnya, ia seputusasa ini ketika menghadapi wanita. Rasa yang bergelora dalam dada ini tak pernah ia prediksi sebelumnya. Ternyata patah hati memang sesakit ini. Ia pikir tak akan serakah dan selalu rela menjadi yang kedua, tetapi ternyata hatinya menginginkan keutamaan di hati Winaya.

"Harusnya lo tau, Jendra. Lo nggak bakal jadi yang pertama, karena yang pertama sudah ditempati oleh suaminya. Harusnya lo nggak terlalu berharap lebih, karena melupakan sosok yang paling dicintai itu emang sulit. Kenapa lo dengan nggak tau diri malah melangkah ingin menjadi nomor satu di hati dia?'' racau Jendra. Ia terpejam sambil mencengkram dadanya, tempat rasa sakit itu tiba. Hatinya terluka dengan serius untuk pertama kalinya.

Jendra kembali membuka matanya, menatap langit-langit dengan pandangan lebih tegar. Keterpurukan singkat itu membuat pikirannya yang awal tertutup kini terbuka. Jendra bukanlah tipe orang yang suka menyiksa diri dan sangat memperhatikan kesehatan mental. Maka dengan cepat pria itu menemukan solusi dari apa yang ia rasakan hari ini. Ya, keputusan yang bijaksana untuk dirinya dan juga Winaya.

"Saya sudah berusaha layaknya pria sejati untuk mendapatkan hati kamu Naya. Saya belajar menerima buah cinta kamu dengan pria yang kamu cintai, Reya. Namun ternyata usaha saya nggak begitu kamu pandang dengan baik. Kamu masih mencintainya di saat saya bersama kamu. Nggak ada cara lain. Saya benar-benar akan mundur. Bukan saya orang gampang menyerah, tapi saya nggak mau menjadi pengganggu betapa mesranya cintamu pada suamimu yang ada di sana."

Lihat selengkapnya