Langkah Winaya begitu gontai meninggalkan bandara. Pandangannya kosong seolah-olah hanya ada secerca kesadaran di sana. Kakinya terus melangkah kendati tak tahu arah. Hingga ketika tubuhnya ditubruk seseorang, membuat Winaya sepenuhnya sadar akan keberadaannya saat ini. Ia membungkuk pada orang yang ditabraknya tanda meminta maaf, walau mulutnya tak bisa bersuara sedikitpun. Winaya kembali melanjutkan langkahnya dengan kesadaran yang kembali. Langkahnya kini melaju menuju parkiran bandara. Dia tidak sepenuhnya terlambat, masih ada tempat yang bisa ia kunjungi yakni rumah Jendra. Maka bermodal keyakinan entah darimana, Winaya pun melajukan mobilnya menuju rumah itu.
Jantungnya berdebar-debar begitu melihat rumah Jendra yang menjulang tinggi. Satpam yang sebelumnya sudah mengetahui siapa Winaya, dengan senang hati membukakan pagar mansion. Buru-buru Winaya keluar dari mobilnya dan mendekati satpam itu.
"Maaf, Pak. Saya mua tanya Mas Jendra apa ada di rumah?"
"Oh, Tuan Muda Jendra bersama kedua orang tuanya tadi pagi sudah berangkat ke bandara, Mbak. Tapi saya punya titipan Tuan muda katanya kalau Mbak Winaya ke sini, saya serahkan surat ini." Satpam itu menyerahkan sepucuk surat pada Winaya yang menerimanya dengan lesu.
"M-makasih ya, Pak."
"Mari, Mbak.''
Winaya masuk ke dalam mobilnya dengan raut wajah kembali seperti orang linglung. Berulang kali wanita itu mengembuskan napas dan menyadarkan kepalanya dengan mata tertutup. Sejenak ia melakukan itu untuk menetralkan degup jantungnya yang tak nyaman. Hingga akhirnya Winaya kembali membuka matanya dan menegakkan tubuhnya. Dibukanya perlahan surat dalam amplop itu. Tulisan panjang Jendra pun menyapa penglihatannya pertama kali.
Dear, Naya
Saat kamu menerima surat ini, mungkin saya sudah nggak ada di Indonesia. Saya memutuskan untuk berangkat ke Jerman melanjutkan study di sana. Bahkan ... melanjutkan kehidupan saya ke depannya juga di sana. Bukan gara-gara kamu, tetapi ini keinginan saya yang pernah terkubur. Saya gali lagi keinginan ini karena saya merindukan cinta. Di sana ada nenek dan kakek saya yang mencintai saya dengan tulus dan saya adalah keutamaan bagi mereka. Mereka sudah tua dan menginginkan saya di dekatnya. Jadi saya datang untuk membalas cinta mereka sebelum mereka tiada dan tak ada apa-apa lagi untuk saya, sebab orang yang sudah tidak ada tempatnya hanya pada kenangan bukan pada kehidupan sekarang atau masa depan kita.
Pertemuan kita yang singkat, kenangan kita yang tak seberapa, dan cinta saya yang pernah berlabuh walau tak diterima ... mari lupakan itu. Anggap cinta saya hanya angin numpang lewat saja. Mungkin kamu sulit untuk melupakan kenangan yang panjang bersama seseorang yang kamu cintai. Tapi tak mungkin kamu sulit melupakan kenangan singkat dari orang yang tidak kamu cintai, kan? Jadi ... saya bisa pergi tanpa rasa bersalah. Tak akan ada orang yang merasa dirugikan atas kepergian saya. Saya senang akhirnya bisa melepaskan kamu dengan kebahagiaan yang kamu pilih. Silakan terus mencintai suamimu, sebab itu adalah hak kamu. Saya cuma mau bilang, beruntungnya suami kamu dicintai wanita seperti bahkan ketika dirinya sudah tidak ada di dunia ini lagi. Cintamu yang begitu besar pada Renand membuat saya iri. Semoga saya bisa menemukan wanita yang juga bisa mencintai saya sebagaimana kamu mencintai almarhum suamimu.