SECANGKIR KOPI DAN AFEKSIMU

Monacino
Chapter #35

35. PENYESALAN RAHASIA

Lalu lalang mobil di jalanan ibu kota Jerman, Berlin, menjadi pemandangan utama Jendra ketika berada di Cafe Oliv di Mitte. Pria itu tampak lebih fresh dengan potongan rambut yang lebih pendek dan berwarna pirang. Headphone yang menutupi kedua telinganya dengan alunan musik jaz yang ia putar, menambah suasana tenangnya pagi ini. Setelah badai nestapa yang hatinya rasakan kemarin, Jendra rasanya tak ingin melakukan kegiatan berarti apapun selain bersantai dan menatap keindahan kota tempat ia tinggali sekarang.

Tangannya merogoh ponsel di saku jaketnya. Ponsel yang tak ia aktifkan sejak malam terakhir bersama Winaya. Dengan pertimbangan singkat, jemarinya menekan tombol power. Ponsel tersebut pun mulai menyala. Satu menit kemudian Jendra kembali menatap ponselnya. Data ponselnya telah hidup. Berbagai chat dan telepon di aplikasi ponselnya masuk secara berangsur. Disertai notifikasi akun sosial medianya. Namun, sebelum membuka pesan, Jendra menonaktifkan informasi baca terlebih dahulu, agar yang mengirimnya pesan tak tahu bahwa ia telah membuka pesan itu. Dan room chat yang ia buka pertama kalinya adalah dari Winaya.

20 Panggilan tak terjawab, 9 pesan belum dibaca.

Winaya Naya

Mas Jendra beneran pergi tanpa pamitan sama saya? Kata Dewi Mas sudah pamitan ke yang lain, tapi kenapa sama saya enggak? Bukannya saya ini berarti buat Mas Jendra? Mas Jendra membual doang, ya?

Mas, aku nggak percaya Mas pergi gitu aja. Aku otw ke rumah Mas, ya? Tunggu di luar. Rumas Ma Jendra besar, suara saya nggak bakal kedengeran.

Lucu banget. Mas Jendra bilang pergi bukan karena saya? Lalu karena apa, Mas? Setelah malam penuh kebodohan yang saya lakuin malam itu, Mas nggak mungkin pergi nggak karena itu, kan? Mas pergi karena sakit hati saya saya.

Saya akui malam itu saya bodoh banget. Bisa-bisanya saya ngomong kayak gitu sama Mas. Selain saya menyakti hati Mas Jendra, saya juga telah menyakiti hati saya. Saya sebelumnya sudah berkomitmen untuk membuka hati saya secara perlahan, terutama untuk Mas Jendra. Tapi ... saya terus diselubungi rindu pada suami saya, Mas. Maaf, saya minta maaf. Saya nggak bisa sepenuhnya lepas, saya nggak seutuhnya bisa rela.

Sama masih bimbang, di mana letak hati saya yang sekarang. Saya memang merindukan Mas Renand, tapi saya hancur Mas Jendra tinggalin saya. Saya memang merasa bersalah, tapi saya merasa ini nggak adil buat saya. Mas, saya baru kehilangan suami saya tiga bulan yang lalu, sedangkan kami sudah bersama bertahun-tahun. Nggak mudah, tapi saya mau coba. Tapi Mas Jendra nggak bisa sabar lagi, ya? Mas Jendra pasti terbiasa disayangi semua orang dan nggak tersentuh patah hati, kan? Makanya ujian cinta sepeti kita lalui malam itu membuat Mas Jendra terlalu terguncang.

Lihat selengkapnya